Mark Selby Ukir Sejarah di China Open: Gelar Keempat dan Kenaikan Peringkat
Baca dalam 60 detik
- Mark Selby mencatatkan namanya sebagai pemain pertama yang meraih empat gelar China Open setelah menaklukkan Noppon Saengkham 10-6 di Taiyuan.
- Kemenangan ini mengangkat peringkat Selby dari posisi 9 ke 5 dunia, sekaligus mempertegas dominasinya di pentas snooker internasional.
- Bagi Saengkham, penampilan impresifnya sepanjang turnamen berbuah lonjakan peringkat ke-27 dunia, menandai kebangkitan petenis Thailand di kancah global.

Mark Selby kembali menegaskan supremasi di pentas snooker dunia. Pada final China Open yang berlangsung di Taiyuan, pemain asal Inggris itu sukses mengandaskan perlawanan Noppon Saengkham dari Thailand dengan skor 10-6. Kemenangan ini bukan sekadar gelar keempat Selby di turnamen tersebut, melainkan juga mengukuhkan dirinya sebagai pemain pertama dalam sejarah yang mampu meraih trofi China Open sebanyak empat kali.
Pencapaian ini terasa istimewa mengingat Selby, yang kini berusia 43 tahun, sempat tertinggal 2-4 di awal laga. Meski sempat tertinggal, ia mampu bangkit dan merebut kendali permainan. Break 138 yang memukau di frame ketiga menjadi salah satu momen krusial yang menandai kebangkitan Selby. Setelah menyamakan kedudukan 4-4 di akhir sesi pertama, ia tampil dominan di sesi kedua dengan memenangkan empat frame beruntun lewat break 58, 90, 69, dan 53.
Kemenangan ini membawa Selby naik ke peringkat 5 dunia, melompat dari posisi 9. Selain itu, ia kini mengoleksi 26 gelar ranking sepanjang kariernya. Bagi Selby, keberhasilan ini terasa manis karena ia tampil dengan stik baru untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir. "Saya senang bisa berdiri di sini sebagai juara. Saya bermain cukup baik sepanjang pekan, mendekati performa terbaik saya," ujarnya usai laga.
Di sisi lain, Noppon Saengkham layak mendapat pujian atas perjalanannya yang impresif. Sebelum final, ia berhasil menyingkirkan nama-nama besar seperti Judd Trump, Ronnie O'Sullivan, dan Shaun Murphy. Meski harus puas menjadi runner-up, Saengkham meraih hadiah ยฃ100.000 dan naik 18 peringkat ke posisi 27 dunia. "Mark tampil kuat dan mengontrol permainan dengan baik. Safety play-nya sangat bagus," kata Saengkham. "Saat saya unggul 4-2, dia berada di bawah tekanan, tetapi di sesi malam permainan berubah dan Mark tampak mengendalikan segalanya. Saya akan terus berusaha keras dan semoga suatu hari saya bisa menjadi juara."
Kemenangan ini juga menggarisbawahi dominasi pemain Eropa di China Open, yang kerap menjadi ajang pembuktian bagi para pemain Asia. Bagi Indonesia, prestasi Saengkham bisa menjadi inspirasi bagi para atlet snooker Tanah Air yang masih berjuang menembus level tertinggi. Meski snooker belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola di Indonesia, perkembangan pesat di kawasan Asia Tenggara menunjukkan bahwa peluang untuk bersaing di kancah internasional selalu terbuka lebar.
Ke depan, pertanyaan menarik muncul: mampukah Saengkham mempertahankan konsistensinya dan menjadi ancaman serius bagi para pemain top dunia? Atau akankah Selby terus memperpanjang dominasinya di China Open? Yang jelas, turnamen ini kembali membuktikan bahwa snooker adalah olahraga yang penuh kejutan dan persaingan ketat, di mana pengalaman dan ketenangan mental sering kali menjadi pembeda.


