Bangladesh Guncang Australia di Darwin: Smith Selamat Berkat Snicko, Tim Tamu Unggul
Baca dalam 60 detik
- Hasan Mahmud mencatatkan rekor terbaik kariernya dengan 6 wicket, membatasi Australia hanya 198 run di hari pertama.
- Steve Smith diuntungkan oleh teknologi Snicko setelah review yang kontroversial, meski ia sendiri mengaku merasakan adanya tepian.
- Bangladesh menutup hari dengan posisi 96-1, hanya tertinggal 102 run, dan berpeluang mencetak kemenangan bersejarah di tanah Australia.

Darwin, 18 Juni 2025 โ Hari pertama Test pertama antara Australia dan Bangladesh di Darwin berakhir dengan dominasi yang tak terduga dari tim tamu. Bangladesh berhasil membatasi Australia hanya 198 run, dengan fast bowler Hasan Mahmud mencatatkan angka terbaik dalam kariernya, 6-55. Namun, sorotan utama pertandingan ini adalah momen kontroversial yang melibatkan Steve Smith, yang selamat dari keputusan out setelah menggunakan teknologi Snicko, meskipun ia sendiri kemudian mengakui bahwa ia mungkin saja menyentuh bola.
Kejadian bermula saat Smith berada di angka 7. Bangladesh mengajukan appeal untuk caught behind setelah bola dari Ebadot Hossain tampak melewati bat. Wasit Kumar Dharmasena menolak, namun tim tamu memutuskan untuk mereview. Saat itu, Smith terlihat bersiap untuk berjalan keluar, tetapi Snicko menunjukkan garis datar, yang berarti tidak ada kontak antara bat dan bola. Keputusan not out pun dipertahankan, dan Smith melanjutkan inning-nya hingga mencapai 71 run sebelum akhirnya jatuh ke tangan Mahmud.
Kontroversi Snicko sendiri bukan hal baru. Pada seri Ashes terakhir di Australia, teknologi ini menjadi pusat perhatian setelah beberapa keputusan yang dipertanyakan, termasuk insiden yang melibatkan wicketkeeper Alex Carey dan Jamie Smith dari Inggris. Namun, kali ini masalahnya bukan pada ketidaksesuaian audio, melainkan pada ketiadaan sinyal sama sekali, yang membuat banyak pihak bertanya-tanya tentang akurasi teknologi tersebut.
Terlepas dari kontroversi tersebut, penampilan Bangladesh patut diacungi jempol. Australia yang memenangkan toss dan memilih untuk batting, justru kesulitan menghadapi tekanan dari para bowler Bangladesh. Setelah kehilangan beberapa wicket awal, Australia sempat bangkit di angka 152-5, namun kemudian kehilangan lima wicket terakhir hanya dengan tambahan 46 run. Taskin Ahmed menjadi eksekutor penting dengan memecahkan pertahanan Beau Webster.
Di sisi lain, performa batting Australia kembali menjadi sorotan. Top order dan middle order gagal memberikan kontribusi signifikan, kecuali Smith. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi tim tuan rumah, terutama menjelang seri kedua yang akan segera berlangsung. Sementara itu, Bangladesh menunjukkan pertahanan yang solid di akhir hari, dengan Tanzid Hasan Tamim (32*) dan Mominul Haque (35*) berhasil menjaga gawang tanpa kehilangan wicket tambahan.
Bagi Indonesia, pertandingan ini mungkin terasa jauh, namun ada pelajaran yang bisa diambil, terutama dalam hal penggunaan teknologi dalam olahraga. Keputusan kontroversial seperti ini seringkali memicu perdebatan tentang sejauh mana teknologi harus dipercaya. Di kancah domestik, penggunaan teknologi serupa mungkin belum sepenuhnya diterapkan, namun ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan olahraga kriket di Indonesia yang mulai bangkit.
"Saya pikir saya menyentuh bola, ya. Saya beruntung? Ya, sepertinya begitu. Kadang Anda harus menerima keberuntungan itu. Mungkin saya tidak menyentuhnya, saya tidak tahu. Tapi saya merasakan sesuatu. Jika saya dinyatakan out, saya akan berjalan keluar. Tapi ya, teknologi menyelamatkan saya hari ini," ujar Smith usai pertandingan.
Dengan keunggulan 102 run dan dua wicket tersisa, Bangladesh berada di posisi yang sangat menguntungkan untuk meraih kemenangan pertama mereka di Australia. Namun, pertandingan masih panjang, dan Australia memiliki sejarah kuat di kandang sendiri. Pertanyaannya, mampukah Bangladesh mempertahankan momentum ini, atau akankah Australia bangkit seperti yang sering mereka lakukan? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



