Studio RPG Summer Eternal Bagi 5% Saham ke Pemain, Terobosan atau Gimmick?
Baca dalam 60 detik
- Summer Eternal, studio RPG yang didirikan mantan desainer ZA/UM, menawarkan 5% kepemilikan dan hak suara kepada pemain serta pekerja lepas.
- Langkah ini menantang model korporasi publik yang selama ini dinilai mengorbankan kreativitas demi kepentingan pemegang saham.
- Jika berhasil, model koperasi pemain dapat menjadi cetak biru tata kelola industri game yang lebih inklusif.

Studio pengembang game peran (RPG) Summer Eternal meluncurkan skema kepemilikan yang tidak lazim: memberikan 5% saham dan hak suara kepada para pemain. Langkah ini diumumkan oleh salah satu pendirinya, Aleksandar Gavrilović, sebagai upaya memulihkan kepercayaan publik terhadap industri game yang selama ini dianggap hanya mementingkan keuntungan pemegang saham.
Summer Eternal didirikan oleh mantan desainer ZA/UM, Argo Tuulik dan Dora Klindžić, bersama Gavrilović. Mereka membawa pengalaman dari proyek ekspansi Disco Elysium yang dibatalkan, sehingga memilih pendekatan radikal dalam hal pembiayaan dan tata kelola. Model koperasi pekerja memang sudah ada di industri game, tetapi menawarkan saham kepada pelanggan adalah hal baru. Pemain tidak hanya mendapat dividen, tetapi juga suara demokratis dalam menentukan arah studio.
Gavrilović menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan memperbaiki hubungan antara pengembang dan pemain. "Kami memberikan 5% studio kepada Anda, para Pemain, untuk memperbaiki kepercayaan yang rusak di industri ini ribuan kali," tulisnya dalam pengumuman resmi. Pernyataan ini menyoroti kekecewaan terhadap praktik industri yang sering kali mengabaikan aspirasi komunitas.
Model serupa pernah diterapkan dalam skala terbatas, seperti Dewan Manajemen Stellar EVE Online atau pemungutan suara pemain Old School RuneScape. Namun, Summer Eternal melangkah lebih jauh dengan memberikan kontrol finansial langsung. Di tengah tekanan perusahaan game publik yang kerap melakukan efisiensi demi memenuhi kewajiban fidusia, tawaran ini berpotensi menarik bagi para pemain yang menginginkan keterlibatan lebih bermakna.
"Kami tidak sekadar memberikan uang jajan, tetapi suara dalam arah studio," ujar Gavrilović, menggarisbawahi komitmen terhadap demokrasi partisipatif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi cermin bagi industri kreatif lokal. Meskipun ekosistem game nasional masih didominasi model bisnis konvensional, munculnya koperasi digital dapat mendorong diskusi tentang hak pekerja dan partisipasi pengguna. Regulasi ketenagakerjaan dan hukum perusahaan di Indonesia belum sepenuhnya mengakomodasi struktur kepemilikan kolektif semacam ini, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut jika ingin diadopsi.
Summer Eternal juga mengumumkan produk perdana mereka, The Summer Eternal Anthology Vol. 1, yang terdiri dari dua bagian: kumpulan esai tentang industri game dengan kontributor seperti David Gaider (penulis Dragon Age) dan Yanis Varoufakis (mantan menteri keuangan Yunani dan ekonom Valve), serta dokumen desain yang memperkenalkan game pertama mereka, Project Red Rooster. Antologi ini dapat dipesan dalam waktu terbatas, menandai langkah awal studio dalam membangun komunitas yang terlibat.
Ke depan, model kepemilikan pemain ini akan diuji apakah mampu bertahan di pasar yang kompetitif. Jika berhasil, bukan tidak mungkin perusahaan game lain akan mengadopsi pendekatan serupa, mengubah lanskap tata kelola industri secara fundamental. Namun, tantangan tetap ada: bagaimana menjaga keseimbangan antara suara pemain dan keberlanjutan bisnis? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi Summer Eternal telah menyalakan percikan perubahan.



