Ancaman Blokade Laut Iran Bikin Harga Minyak Menahan Diri di Tengah Tekanan Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia bergerak tipis setelah AS mengancam blokade maritim permanen terhadap Iran, memicu kekhawatiran pasokan baru.
- Proyeksi permintaan yang lebih rendah dari OPEC dan IEA, serta penumpukan stok AS, menjadi penyeimbang sentimen geopolitik.
- Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengerek harga BBM dan menambah beban inflasi di negara importir seperti Indonesia.

Harga minyak mentah global nyaris tak bergerak pada perdagangan Jumat (14/8) setelah Amerika Serikat mengancam akan memberlakukan blokade laut tanpa batas waktu terhadap Iran. Ancaman itu kembali menghidupkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia, di tengah data stok AS yang membengkak dan proyeksi permintaan yang meredup.
Brent tercatat naik tipis 0,1 persen ke level 87,08 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 6 sen ke 81,31 dolar AS. Meski tipis, kenaikan ini cukup signifikan mengingat sehari sebelumnya harga sempat terpangkas lebih dari 2 persen. Dalam sepekan, kedua acuan harga ini masih mencatat kenaikan sekitar 4 persen, meski laju rally enam hari berturut-turut Brent dan lima hari WTI mulai kehilangan momentum.
Yang menarik, pasar seolah menahan napas di antara dua kekuatan yang saling tarik. Di satu sisi, ancaman blokade AS terhadap Iranโyang mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima minyak duniaโmemberi dorongan harga. Di sisi lain, OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) baru saja memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan, sementara stok minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga setengah tahun.
"Meski data stok minyak mentah terkesan bearish, latar belakang geopolitik yang lebih luas mencegah penurunan harga yang lebih tajam," ujar Susan Bell, analis senior di Rystad Energy, dalam catatannya. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa sensitifnya pasar terhadap setiap isyarat konflik di kawasan Teluk.
Ketegangan memuncak setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara dengan Newsmax, mengisyaratkan langkah-langkah ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Saksikan ruang ini untuk pengumuman lebih lanjut minggu depan karena kami akan menerapkan tindakan yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi suatu negara," katanya. Pernyataan ini muncul setelah negosiasi gencatan senjata dengan Iran menemui jalan buntu.
Di lapangan, dua kapal milik perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, ADNOC, dilaporkan diserang saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis (13/8). UEA mengecam insiden tersebut sebagai serangan Iran, meski Teheran belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, komandan baru unit paramiliter Basij Iran, Hossein Taeb, menegaskan bahwa selat tersebut berada "di bawah manajemen dan kendali Republik Islam", seperti dilansir kantor berita Fars.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar angka di layar. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak mentah berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan juga bisa mendorong inflasi, menggerus daya beli masyarakat, dan memaksa Bank Indonesia untuk menahan suku bunga lebih lama.
Analis pasar, Tim Waterer dari KCM, menilai dua kekuatan yang saling berlawanan ini membuat pasar tetap tertopang namun sulit menembus level yang lebih tinggi. "Hasilnya adalah pasar yang tetap didukung tetapi berjuang untuk naik secara berarti selama tekanan yang berlawanan ini masih ada," katanya. Proyeksi ini sejalan dengan pandangan banyak pelaku pasar yang memilih wait-and-see.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh AS akan menekan Iran dan bagaimana respons Teheran. Jika blokade benar-benar diterapkan secara efektif, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok global, termasuk ke Asia yang sangat bergantung pada minyak Teluk. Bagi Indonesia, langkah antisipatif seperti diversifikasi sumber impor dan percepatan transisi energi menjadi semakin mendesak untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak geopolitik semacam ini.



