Bitget Kehilangan Rp5,6 Triliun dalam Peretasan, Pengguna Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Bursa kripto Bitget mengumumkan kerugian hingga USD351,6 juta akibat pembobolan dompet panas pada Kamis, dengan penarikan dana dihentikan sementara.
- CEO Gracy Chen menegaskan dana pengguna dan dompet dingin tetap aman, namun token BGB sempat merosot 2,9% sebelum pulih sebagian.
- Insiden ini menjadi peretasan terbesar sepanjang 2026 dan menimbulkan pertanyaan tentang keamanan aset kripto di Indonesia yang belum memiliki regulasi perlindungan spesifik.

Bursa kripto global Bitget menjadi korban pembobolan sistem yang mengakibatkan paparan dana hingga USD351,6 juta (sekitar Rp5,6 triliun) pada Kamis (24/9/2026). CEO Bitget, Gracy Chen, melalui cuitan di platform X, mengonfirmasi adanya transfer tidak sah dari sejumlah dompet panas (hot wallet) milik perusahaan. Ia menegaskan dompet dingin (cold wallet) dan dana pengguna tetap aman, seraya menyebut Bitget memiliki dana perlindungan pengguna lebih dari USD464 juta sebagai bantalan.
Insiden ini mencuat setelah peneliti blockchain independen mendeteksi pergerakan mencurigakan di dompet yang dilabeli milik Bitget. Analis Arkham Intelligence, Emmett Gallic, melaporkan bahwa transaksi melibatkan tiga dompet panas dan satu dompet dingin di berbagai jaringan, dengan aset seperti ETH, BNB, AVAX, dan USDT0 yang kemudian dikonsolidasikan ke satu alamat. Estimasi awal Gallic menyebut angka USD178 juta, namun laporan resmi Bitget menunjukkan potensi kerugian lebih dari dua kali lipat.
Chen menjelaskan bahwa arsitektur dompet Bitget terdiri dari tiga lapis—hot, warm, dan cold—dan breach hanya menyentuh sebagian lapisan hot dan warm. Meski demikian, bursa memilih untuk menghentikan sementara penarikan dana hingga audit keamanan tuntas. "Dompet dingin tetap sepenuhnya aman. Kami menunda penarikan untuk sementara waktu," ujarnya. Layanan deposit dan perdagangan masih beroperasi normal, dan Bitget berjanji merilis laporan insiden dalam 24 jam.
Reaksi pasar tidak menunggu lama. Token native Bitget, BGB, langsung tertekan dan sempat merosot tajam sebelum akhirnya memangkas sebagian penurunan menjadi 2,9% pada pukul 22:10 UTC. Pasar kripto secara keseluruhan juga terimbas, dengan Bitcoin dan Ether kompak melemah tipis. Meski skala kerugian terbilang besar, klaim Chen bahwa dana pengguna aman menjadi penopang kepercayaan—setidaknya untuk saat ini.
"Cold wallets remain fully secure. Bitget operates a three-tier wallet architecture — the breach contained only a portion of the hot wallet and warm wallet layers," ujar Gracy Chen.
Peretasan ini menambah daftar panjang insiden keamanan di industri kripto sepanjang 2026. Baru awal September, Liquid Network kehilangan USD320 juta, meski pelakunya mengklaim sebagai "white hat hacker". Dengan kerugian Bitget yang lebih besar, pertanyaan tentang ketahanan infrastruktur bursa kripto global kembali mencuat. Hot wallet, yang terhubung ke sistem pemrosesan transaksi, memang lebih rentan dibanding cold wallet yang menyimpan kredensial secara offline.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi alarm. Meski tidak ada bursa kripto nasional yang terlibat langsung, investor dalam negeri yang menggunakan platform global seperti Bitget berpotensi terdampak, terutama jika penarikan dana diperpanjang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui regulasi aset kripto yang mulai berlaku 2025 telah mewajibkan bursa lokal untuk memisahkan dana pengguna, namun pengawasan lintas yurisdiksi tetap menjadi celah. Pengguna di Indonesia perlu mencermati perkembangan laporan insiden Bitget dan mempertimbangkan diversifikasi penyimpanan aset.
Ke depan, fokus tertuju pada langkah Bitget memulihkan operasi penarikan dan kredibilitasnya. Jika laporan insiden yang dijanjikan tidak transparan, kepercayaan pasar bisa tergerus lebih dalam. Sementara itu, regulator di berbagai negara—termasuk Indonesia—dituntut mempercepat harmonisasi standar keamanan siber untuk bursa kripto. Akankah insiden ini memicu gelombang pengetatan regulasi global, atau justru menjadi panggilan bangun bagi industri untuk berbenah dari dalam?



