Wirtz Tertekan di Anfield, Farkas 17 Tahun Siap Rebut Nomor Punggung 7
Baca dalam 60 detik
- Florian Wirtz masih kesulitan memenuhi ekspektasi setelah dibeli Rp2,1 triliun, baru mencetak delapan gol dan assist di Liga Inggris.
- Erik Farkas, gelandang 17 tahun, baru menandatangani kontrak profesional dan mencetak gol dalam tiga laga terakhir U18 Premier League.
- Jika performa Wirtz tak kunjung membaik, Liverpool berpotensi memberi ruang bagi lulusan akademi seperti Farkas untuk bersaing di posisi nomor 10.

Liverpool menghadapi dilema besar di lini tengah serang: Florian Wirtz, rekrutan termahal dalam sejarah klub, belum menunjukkan performa yang sepadan dengan banderol 116 juta poundsterling (sekitar Rp2,1 triliun). Kini, perhatian beralih ke Erik Farkas, gelandang muda 17 tahun yang baru saja menandatangani kontrak profesional dan dianggap sebagai ancaman serius bagi posisi Wirtz.
Wirtz, yang didatangkan dari Bayer Leverkusen pada musim panas 2024, baru mengemas delapan gol dan assist di Liga Inggris pada musim debutnya. Angka itu jauh di bawah standar yang ia tetapkan di Bundesliga, sekaligus kalah dari catatan Luis Diaz—pemilik nomor 7 sebelumnya—yang mencetak 18 gol dan assist pada musim 2024/25. Tekanan semakin besar setelah legenda klub Jamie Carragher menilai Wirtz tidak layak masuk starting XI berdasarkan performa terkini, terutama setelah kemenangan tipis atas Bournemouth.
Manajer Andoni Iraola sejauh ini masih memberikan kepercayaan kepada Wirtz, tetapi hasilnya baru satu assist dari lima laga sebagai starter di Liga Inggris. Liverpool juga tidak memiliki pengganti mapan di posisi nomor 10, terlebih setelah Harvey Elliott kembali dipinjamkan. Kondisi ini membuka peluang bagi pemain akademi, seperti yang sudah diberikan kepada Trey Nyoni, James McConnell, dan Lewis Koumas dalam beberapa pekan terakhir.
Erik Farkas, kelahiran Hungaria yang memperkuat tim muda Inggris, disebut oleh jurnalis Bence Bocsak sebagai "salah satu profil paling unik di sepak bola Inggris" dan "ideal untuk posisi nomor 10". Fleksibilitasnya sebagai gelandang nomor 8 atau 10 membuatnya dianggap sebagai penerus jangka panjang. Musim ini, ia mencetak gol dalam tiga laga terakhir U18 Premier League, termasuk saat melawan Burnley dan Derby, serta mencatat satu assist.
"Farkas adalah tipe gelandang teknis yang bisa menjadi bintang tim utama. Cara dia bergerak di lapangan seperti gelandang Spanyol archetypal," ujar Bocsak.
Bagi penggemar Liverpool di Indonesia, situasi ini mencerminkan bagaimana klub papan atas Eropa mulai beralih ke pemain akademi untuk menekan biaya transfer dan menjaga keberlanjutan skuad. Liga Indonesia pun menghadapi tantangan serupa dalam mengembangkan talenta muda, meski dengan sumber daya terbatas. Keberhasilan Farkas menembus tim utama akan menjadi sinyal bahwa jalur pembinaan usia dini tetap relevan di tengah pasar transfer yang melambung.
Jika Wirtz terus menurun, Iraola mungkin tak punya pilihan selain memberi kesempatan kepada Farkas atau pemain muda lainnya. Pertanyaannya, apakah Liverpool berani mengambil risiko mengandalkan pemain 17 tahun di kompetisi seketat Liga Inggris, ataukah mereka akan mencari solusi instan di bursa transfer musim dingin?



