Wissa Gagal Penalti, Newcastle Kini Punya 'Permata Georgia' Vakhtang Salia
Baca dalam 60 detik
- Yoane Wissa kembali gagal mengeksekusi penalti saat Newcastle mengalahkan Hull City, mempertegas krisis gol lini depan The Magpies.
- Vakhtang Salia, penyerang muda Georgia berusia 19 tahun, masuk skuad senior dan dianggap sebagai calon nomor sembilan masa depan Newcastle.
- Persaingan di lini serang Newcastle memanas: Wissa, Osula, dan Salia bersaing untuk posisi inti, sementara ekspektasi suporter terus meningkat.

Yoane Wissa kembali menjadi sorotan setelah kegagalan penalti dalam kemenangan Newcastle United atas Hull City di St James' Park, Sabtu lalu. Meski The Magpies mengamankan tiga poin, insiden tersebut mempertegas keraguan publik terhadap ketajaman striker asal Republik Demokratik Kongo itu. Di tengah tekanan, sebuah nama baru justru mencuat: Vakhtang Salia, penyerang muda Georgia yang masuk daftar pemain cadangan dan berpotensi menjalani debut senior.
Wissa, yang didatangkan pada 2025 sebagai pengganti Alexander Isak, belum mampu memenuhi ekspektasi. Sepanjang musim 2025/26, ia hanya mencetak satu gol di Premier League. Padahal, di Brentford, ia pernah menorehkan 19 gol dalam satu musim dan 12 gol setahun sebelumnya. Kini, di usia 30 tahun, waktu tidak berpihak padanya. Harga 55 juta poundsterling yang ditebus Newcastle kian terasa sebagai beban.
Pelatih Matthias Jaissle mencoba membangkitkan performa Wissa dengan menempatkannya lebih dalam sebagai penghubung serangan. Strategi itu sempat berhasil saat melawan Liverpool di pekan pembuka, di mana Wissa tampil impresif meski tidak mencetak gol. Namun, konsistensi tetap menjadi masalah. Kehadiran Will Osula yang kembali dari cedera menambah persaingan, sementara Salia mulai menunjukkan tajinya.
Salia bukan nama sembarangan. Jurnalis Graeme Bailey menyebutnya sebagai "salah satu prospek remaja terbaik di dunia". Manchester City dan Arsenal sempat dikabarkan memimpin perburuan sebelum Newcastle berhasil mengamankannya. Musim debutnya sempat terganggu cedera, tetapi awal musim 2026/27 menjadi panggung kebangkitannya. Golnya ke gawang York City di EFL Trophy pekan lalu—memanfaatkan kesalahan bek lawan dan melepaskan tembakan keras dari jarak dekat—menunjukkan insting predator yang langka.
Bagi Newcastle, kehadiran Salia menawarkan solusi jangka panjang untuk posisi nomor sembilan yang telah lama menjadi momok sejak era Alan Shearer. Wissa dan Osula mungkin masih menjadi andalan saat ini, tetapi bayang-bayang Salia akan semakin nyata jika keduanya gagal konsisten. Jaissle tampaknya tidak ragu memberikan kesempatan kepada pemain muda, terlebih Salia sudah terbiasa bermain melawan pemain senior sejak usia 16 tahun di Georgia.
"Salia adalah tipe penyerang yang tidak hanya menunggu bola, tetapi menciptakan peluang dari tekanan. Dia punya naluri yang sulit diajarkan," ujar seorang pengamat sepak bola Inggris yang mengikuti perkembangan pemain muda Newcastle.
Di Indonesia, dinamika lini depan Newcastle ini menjadi cerminan bagaimana klub-klub Premier League semakin agresif berinvestasi pada talenta muda dari pasar non-tradisional. Salia, yang berasal dari Georgia, menunjukkan bahwa pemandu bakat tidak lagi terpaku pada negara-negara besar. Untuk klub-klub Liga 1, fenomena ini bisa menjadi pelajaran: menjaring pemain muda dari wilayah Kaukasus atau Asia Tengah bisa menjadi strategi efisien untuk mendapatkan striker berkualitas dengan harga terjangkau.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Salia akan debut, melainkan kapan ia akan menjadi starter reguler. Jika Wissa terus membuang peluang, tekanan publik akan memaksa Jaissle mengambil keputusan berani. Newcastle sedang membangun fondasi baru, dan Salia bisa menjadi wajah masa depan lini serang mereka. Akankah Wissa bertahan, atau justru Salia yang mengambil alih takhta?



