Gelombang PHK Teknologi 2026 Melampaui 185.000 Pekerja, Oracle Pangkas 21.000 Posisi
Baca dalam 60 detik
- Oracle memangkas sekitar 21.000 karyawan dalam setahun terakhir, menjadikannya pemangkasan terbesar di sektor teknologi global sepanjang 2026.
- Lebih dari 185.000 pekerja teknologi kehilangan pekerjaan sejak awal 2026, dengan perusahaan menyebut otomatisasi AI sebagai salah satu pemicu utama.
- Tekanan serupa berpotensi merembet ke Indonesia seiring percepatan adopsi AI di sektor jasa keuangan, e-commerce, dan layanan digital dalam negeri.

Oracle memangkas sekitar 21.000 posisi kerja, atau setara 13 persen dari total tenaga kerjanya, dalam setahun terakhir. Angka itu terungkap dalam laporan keuangan tahunan perusahaan yang dipublikasikan pada 23 Juni dan menjadi pemangkasan terbesar yang tercatat di sektor teknologi global sepanjang 2026. Perusahaan mengaitkan keputusan tersebut dengan adopsi dan penyebaran teknologi kecerdasan buatan di seluruh lini operasinya.
Pemangkasan Oracle bukan peristiwa tunggal. Data dari pelacak PHK TrueUp menunjukkan lebih dari 185.000 pekerja teknologi telah kehilangan pekerjaan sejak Januari 2026, sementara sepanjang 2025 angkanya menembus 245.000 orang. Artinya, laju pemutusan hubungan kerja tahun ini berjalan lebih cepat dibanding periode yang sama tahun lalu, meski totalnya belum melampaui capaian setahun penuh 2025.
Yang membedakan gelombang kali ini adalah pola sebarannya. PHK tidak lagi terkonsentrasi di perusahaan rintisan yang kesulitan modal, melainkan menjangkiti raksasa mapan seperti Microsoft, Meta, Apple, Amazon, hingga Visa. Microsoft memangkas 4.800 posisi, dengan divisi Xbox menanggung beban terberat sekitar 3.200 peran. Meta mengurangi sekitar 8.000 karyawan atau 10 persen dari tenaga kerjanya, sekaligus menutup 6.000 lowongan yang belum terisi.
Alasan yang dikemukakan manajemen pun beragam, tetapi benang merahnya mengarah pada satu hal: belanja infrastruktur AI. Oracle, misalnya, disebut tengah mengalihkan anggaran besar untuk chip AI dan pusat data. Langkah serupa diambil Cloudflare yang memangkas lebih dari 1.100 karyawan, dengan alasan eksplisit mendefinisikan ulang cara perusahaan bertumbuh di era "agentic AI". PayPal berencana mengurangi hampir 4.800 posisi atau 20 persen stafnya dalam beberapa tahun ke depan, dengan CEO Enrique Lores menyebut dua langkah utama: menghapus duplikasi struktur organisasi dan mempercepat otomatisasi berbasis AI.
"Adopsi dan penerapan teknologi AI di seluruh operasi kami telah menyebabkan, dan mungkin akan terus menyebabkan, pengurangan tenaga kerja," demikian pernyataan Oracle dalam laporan resminya.
Menariknya, tidak semua perusahaan mengakui AI sebagai pemicu. Etsy menegaskan pemangkasan 220 karyawannya bukan karena adopsi kecerdasan buatan, melainkan penyederhanaan struktur. Patreon menyampaikan hal serupa kepada para kreator dan stafnya, meski mengakui AI telah mengubah lanskap industri secara fundamental. Epic Games bahkan secara tegas menyatakan PHK lebih dari 1.000 orangnya murni akibat penurunan keterlibatan pemain Fortnite, bukan karena AI.
Di sisi lain, muncul perlawanan dari dalam. Lebih dari 4.500 pekerja Google menandatangani petisi yang menuntut perlindungan PHK, termasuk opsi buyout sebelum pemutusan wajib dan jaminan pesangon. Gubernur California Gavin Newsom pada Juni meluncurkan alat pelacak dampak AI terhadap tenaga kerja, dengan alasan bahwa negara bagiannya tidak ingin sekadar menonton dari pinggir lapangan.
Bagi Indonesia, gelombang ini bukan sekadar berita jauh. Banyak perusahaan teknologi global yang memangkas tenaga kerja di Amerika Serikat dan Eropa juga memiliki pusat operasi, layanan pelanggan, atau tim rekayasa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Perusahaan seperti TikTok, Amazon, dan Microsoft memiliki jejak operasional yang menyentuh rantai pasok digital regional. Jika tren efisiensi berlanjut, fungsi-fungsi back-office dan layanan yang selama ini menjadi tulang punggung lapangan kerja digital di kawasan berpotensi ikut terkena imbas.
Selain itu, percepatan otomatisasi di sektor jasa keuangan dan e-commerce domestik dapat menekan permintaan tenaga kerja entry-level. Bank dan platform pembayaran di Indonesia yang tengah gencar mengadopsi AI untuk layanan pelanggan dan analisis kredit perlu mengkaji ulang strategi sumber daya manusia mereka. Tanpa kerangka perlindungan yang memadai, pekerja berkeahlian menengah berisiko menjadi kelompok paling rentan.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, melainkan seberapa cepat perusahaan-perusahaan di Asia, termasuk Indonesia, akan meniru strategi pemangkasan yang sama demi menjaga margin. Regulator dan serikat pekerja di dalam negeri perlu menyiapkan respons sebelum gelombang itu benar-benar tiba di depan pintu.



