Motif Mutilasi di Depok Terungkap: Pelaku Nekat Bunuh demi Kuasai Motor Korban
Baca dalam 60 detik
- Kepolisian menetapkan motif ekonomi sebagai pemicu aksi mutilasi di Depok, dengan korban tewas demi sebuah sepeda motor.
- Tersangka, yang sempat bekerja sebagai juru potong daging, menggorok leher korban setelah cekcok yang dipicu penolakan ajakan berhubungan.
- Pelaku terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup atas dakwaan pembunuhan berencana, sementara penyidik masih mendalami keterlibatannya dalam grup-grup tertentu.

Kepolisian Daerah Metro Jaya mengungkap motif di balik kasus mutilasi yang menggemparkan warga Depok, Jawa Barat, akhir pekan ini. Tersangka berinisial S (26) ternyata nekat menghabisi nyawa korbannya hanya demi menguasai sepeda motor Honda PCX milik korban, sebuah niat yang muncul setelah ia melihat foto korban mengendarai motor tersebut di media sosial.
Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Breggy Yesaya Imanuel Sutijono, menjelaskan bahwa keinginan untuk memiliki motor itu muncul karena desakan ekonomi. โSetelah berkenalan dengan korban, pelaku melihat foto korban menggunakan PCX hitam. Dari situ, karena desakan ekonomi, timbul niat untuk menguasai motor tersebut,โ ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (9/8/2026).
Kronologi bermula pada 23 Juli 2026, ketika tersangka menghubungi seorang temannya yang kini menjadi saksi. Dalam percakapan itu, tersangka menyampaikan keinginannya untuk memiliki sepeda motor. Ketika ditanya bagaimana caranya, tersangka dengan enteng menjawab, โEnggak tahu, mungkin membunuh orang.โ Jawaban tersebut kemudian menjadi salah satu petunjuk penting bagi penyidik.
Setelah itu, tersangka mengajak korban bertemu di kontrakannya. Pertemuan yang awalnya tampak biasa itu berubah menjadi cekcok. Menurut Breggy, perselisihan dipicu oleh penolakan korban atas ajakan berhubungan dari tersangka. โPelaku memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis. Ia mencoba melakukan hubungan, tapi korban menolak dan menampar pipinya,โ jelas Breggy. Amarah tersangka memuncak, ia mengambil pisau dapur dan menusukkannya ke pinggang kiri korban, lalu menggorok lehernya hingga korban tewas.
Yang lebih mengerikan, tersangka yang pernah bekerja sebagai koki dan pemotong daging di sebuah restoran, dengan tenang memutilasi jasad korban menjadi beberapa bagian. โIa memotong bagian kepala, badan, dan kaki secara terpisah,โ ujar Breggy. Potongan tubuh itu kemudian dimasukkan ke dalam dua karung beras dan dibuang di dua lokasi berbeda: bagian badan di Pancoran Mas, sementara bagian kaki dibuang di dekat Jembatan Serong, pinggir aliran sungai.
Polisi juga mengungkap bahwa tersangka terlibat dalam sejumlah grup di platform digital, yang menjadi dasar penilaian mengenai orientasi seksualnya. โKami menemukan pelaku terlibat dalam lima grup LGBT di Facebook dan WhatsApp,โ kata Breggy. Namun, penyidik menegaskan bahwa fokus utama kasus ini adalah pembunuhan berencana, bukan orientasi seksual pelaku.
Kasus ini menyoroti sisi gelap interaksi sosial di era digital, di mana perkenalan melalui aplikasi bisa berujung pada tragedi. Selain itu, latar belakang tersangka yang pernah menjadi guru matematika dan peserta lomba dangdut di televisi menunjukkan bahwa pelaku kejahatan bisa berasal dari berbagai profesi. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dalam menjalin pertemanan, terutama melalui platform daring.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah polisi akan memperluas penyidikan untuk mengungkap kemungkinan adanya korban lain, mengingat tersangka memiliki keterampilan memutilasi dan riwayat interaksi daring yang luas. Proses hukum yang berjalan akan menjadi ujian bagi sistem peradilan Indonesia dalam menangani kasus kejahatan sadis yang melibatkan teknologi.



