Jenazah Lima Pendaki Korban Longsor Salju 2025 Ditemukan di Nepal
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat Nepal menemukan jenazah lima pendaki yang hilang sejak November 2025 setelah tertimbun longsor salju di kawasan Yalung Ri.
- Korban terdiri dari tiga warga asing dan dua pemandu lokal; proses evakuasi terkendala cuaca buruk di sekitar perbatasan Tibet.
- Temuan ini kembali menyoroti tingginya risiko longsor salju di pegunungan Himalaya, yang telah merenggut ratusan nyawa sejak 1950.

Tim pencari di Nepal akhirnya menemukan jenazah lima pendaki yang menjadi korban longsor salju pada 2025 di kawasan dekat perbatasan China. Penemuan ini mengakhiri penantian panjang keluarga korban yang telah berlangsung hampir sembilan bulan sejak para pendaki dilaporkan hilang pada November tahun lalu.
Biswash Karki, ketua Gaurishankar Rural Municipality, mengonfirmasi bahwa kelima jenazah terdiri dari tiga pendaki asing dan dua warga Nepal. Mereka ditemukan pada 6 Agustus di lereng bawah puncak Yalung Ri yang memiliki ketinggian 5.630 meter, tepatnya di zona perbatasan dengan Tibet. Identitas korban asing disebutkan berasal dari Italia-Kanada, Jerman, dan Italia.
Longsor salju yang menimpa rombongan pendaki tersebut terjadi pada musim gugur 2025, saat kondisi cuaca di Himalaya kerap berubah drastis. Sejak saat itu, pemerintah Nepal telah mengerahkan personel militer, kepolisian, dan tim penyelamat lokal untuk melakukan pencarian. Namun, upaya tersebut terkendala oleh lapisan salju tebal yang menutupi lokasi kejadian, sehingga jenazah baru dapat ditemukan setelah salju mulai mencair.
Kepolisian setempat melalui perwira senior Manoj Kumar Lama mengungkapkan bahwa helikopter penyelamat telah diterjunkan ke area tersebut pada 7 Agustus. Meski demikian, cuaca buruk masih menghalangi tim untuk mendarat dan mengevakuasi jenazah. "Kami akan mengangkut jenazah menggunakan helikopter begitu cuaca membaik," ujarnya, seperti dikutip dari laporan AFP.
Insiden ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pendakian di pegunungan Himalaya, yang menjadi destinasi favorit pendaki dunia. Nepal sendiri menjadi rumah bagi delapan dari sepuluh puncak tertinggi di dunia, termasuk Everest. Setiap tahun, ratusan pendaki dan treker memadati jalur-jalur pendakian, membawa dampak ekonomi signifikan bagi negara tersebut.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat banyaknya pendaki Tanah Air yang mengeksplorasi Himalaya setiap tahun. Data dari komunitas pendakian Indonesia menunjukkan tren peningkatan jumlah pendaki yang mencoba menaklukkan puncak-puncak di Nepal, baik melalui jalur ekspedisi resmi maupun trekking. Fenomena ini menuntut kesadaran akan pentingnya manajemen risiko dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem.
Para ahli keselamatan pendakian menilai bahwa insiden seperti ini sering kali dipicu oleh kurangnya informasi cuaca terkini dan underestimasi terhadap potensi longsor salju. Mereka merekomendasikan agar pendaki selalu menggunakan jasa operator lokal berpengalaman dan memantau prakiraan cuaca dari otoritas setempat sebelum memulai pendakian.
Ke depannya, pemerintah Nepal dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan sistem peringatan dini dan fasilitas evakuasi di daerah terpencil. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah ini akan cukup untuk mengurangi angka kematian di pegunungan yang semakin ramai dikunjungi? Atau justru diperlukan regulasi yang lebih ketat terhadap izin pendakian?



