Dorong Pirolisis, Pemerintah Targetkan 20 Persen Sampah Nasional Jadi Energi Terbarukan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menggenjot teknologi pirolisis sebagai pelengkap PSEL untuk mengejar target pengolahan sampah nasional.
- Dengan pirolisis, sampah di TPA dapat diubah menjadi bahan bakar setara solar, berpotensi menangani 20% timbulan sampah.
- Proyek percontohan di lima wilayah, termasuk Bogor dan Jakarta, menjadi uji coba kolaborasi TNI AD dan pemerintah daerah.

Pemerintah tidak lagi mengandalkan satu cara untuk menyelesaikan darurat sampah. Melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, pemerintah mendorong teknologi pirolisis sebagai senjata tambahan untuk mengolah sampah menjadi energi, di tengah keterbatasan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) yang baru mampu menjangkau sekitar 22 persen timbulan sampah nasional.
Dalam keterangan resminya, Zulhas—sapaan akrabnya—menegaskan bahwa penanganan sampah membutuhkan lompatan teknologi, bukan sekadar cara konvensional. “Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. Kita membutuhkan percepatan melalui intervensi teknologi,” ujarnya. Pernyataan ini muncul di tengah target ambisius pemerintah untuk mengurangi penumpukan di tempat pemrosesan akhir (TPA) sekaligus menekan risiko kebakaran saat musim kemarau.
Pirolisis, proses kimia yang menguraikan material organik tanpa oksigen, dinilai mampu mengubah sampah yang telah menggunung di TPA menjadi bahan bakar setara solar. Pemerintah memperkirakan teknologi ini berpotensi mengatasi sekitar 20 persen persoalan sampah nasional jika diterapkan secara luas. Angka ini signifikan jika dibandingkan dengan kapasitas PSEL yang baru beroperasi di 13 lokasi, termasuk Palembang yang ditargetkan mulai beroperasi Oktober 2026.
Implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 menjadi katalis percepatan pembangunan PSEL di berbagai daerah. Namun, Zulhas menggarisbawahi bahwa PSEL saja tidak cukup. Karena itu, kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat dan pemerintah daerah digalakkan, dengan proyek percontohan di lima wilayah: Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta. Proyek ini juga diarahkan untuk mendukung Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar soal kebersihan lingkungan, melainkan juga peluang ekonomi. Dengan mengubah sampah menjadi energi, pemerintah berharap dapat mengurangi beban TPA yang selama ini menjadi sumber masalah kesehatan dan lingkungan. “Kita ingin persoalan sampah tidak hanya selesai, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat,” kata Zulhas, menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan lahan, percepatan perizinan, dan kepastian pasokan sampah.
Namun, tantangan tetap ada. Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada komitmen daerah dan konsistensi pasokan sampah. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah kabupaten/kota, proyek pirolisis bisa menjadi proyek mercusuar yang tidak berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah pemerintah mengoordinasikan 514 kabupaten/kota untuk bersama-sama mengejar target pengolahan sampah yang lebih ambisius? Atau akankah pirolisis hanya menjadi solusi parsial di tengah kompleksitas masalah sampah nasional?



