Wisatawan China Kembali Dominasi Angkor Wat, Tanda Pemulihan Pariwisata Kamboja?
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan turis China ke Angkor naik tipis 0,54% pada Juli 2026, menjadikan China pasar terbesar bulan itu.
- Secara kumulatif Januari-Juli, jumlah turis China masih turun 25,4% dibanding tahun lalu, mencerminkan tantangan pemulihan.
- Menteri Pariwisata Kamboja menyebut sentimen negatif, penipuan online, dan konflik geopolitik sebagai pemicu lesunya kunjungan.

Kamboja mencatatkan sinyal pemulihan sektor pariwisata setelah Taman Arkeologi Angkor kembali kedatangan 5.751 wisatawan asal China sepanjang Juli 2026. Angka itu naik tipis 0,54% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menempatkan China sebagai pasar pengunjung mancanegara terbesar untuk destinasi warisan dunia tersebut pada bulan lalu.
Terletak di Provinsi Siem Reap, barat laut Kamboja, kawasan seluas 401 kilometer persegi ini merupakan ikon utama pariwisata Negeri Khmer. Dengan 91 candi kuno yang dibangun antara abad ke-9 hingga ke-13, Angkor menjadi magnet bagi pelancong global, terutama dari Asia Timur. Namun, di balik kenaikan bulanan yang menggembirakan, data kumulatif menunjukkan cerita berbeda: sepanjang JanuariโJuli 2026, total kunjungan turis China mencapai 39.742 orang, atau merosot 25,4% dibanding tahun lalu.
Menteri Pariwisata Kamboja, Huot Hak, mengakui bahwa penurunan kunjungan secara keseluruhan dipicu oleh berbagai hambatan regional dan global. Dalam pernyataannya Selasa lalu, ia menyoroti tiga faktor utama: pemberitaan negatif yang mempengaruhi citra destinasi, maraknya kasus penipuan daring yang meresahkan calon wisatawan, serta ketegangan di perbatasan Kamboja-Thailand yang sempat memicu kekhawatiran keamanan.
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga bahan bakar, yang pada akhirnya meredam antusiasme perjalanan jarak jauh. Fenomena ini tidak hanya dialami Kamboja, tetapi juga negara-negara ASEAN lain yang mengandalkan wisatawan asing sebagai penggerak ekonomi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat persaingan ketat destinasi wisata di kawasan. Jika Kamboja berhasil memulihkan pasar China, Indonesia perlu waspada terhadap pergeseran minat wisatawan Tiongkok yang selama ini menjadi salah satu sumber utama kunjungan ke Bali dan destinasi lain. Data Kementerian Pariwisata Indonesia menunjukkan bahwa wisatawan China selalu masuk tiga besar pengunjung mancanegara, sehingga dinamika di negara tetangga dapat menjadi indikator tren regional.
Para analis pariwisata menilai bahwa pemulihan kunjungan China ke Angkor pada Juli merupakan tanda awal, namun belum cukup untuk menyimpulkan tren jangka panjang. Mereka menggarisbawahi pentingnya stabilitas geopolitik dan perbaikan citra destinasi untuk menarik kembali wisatawan kelas menengah China yang kini semakin selektif memilih tujuan liburan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Kamboja mampu mempertahankan momentum ini di tengah tantangan struktural seperti isu penipuan daring dan ketegangan perbatasan. Jika tidak ditangani serius, lonjakan bulanan bisa jadi hanya anomali sesaat, bukan awal dari pemulihan berkelanjutan.



