Pemkot Jaksel Keruk Saluran Alfa Indah: 90 Persen Sedimen Menumpuk di Bawah Jembatan
Baca dalam 60 detik
- Pemkot Jakarta Selatan memulai gerakan bersih-bersih saluran air dari Pesanggrahan, dengan fokus pada pengerukan PHB Alfa Indah yang 90 persen tersumbat sedimen.
- Langkah ini merupakan antisipasi banjir musim hujan, melibatkan 500 personel gabungan dan koordinasi dengan Jakarta Barat untuk kelancaran aliran air.
- Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur kesiapan infrastruktur drainase Jakarta dalam menghadapi curah hujan tinggi.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan memulai gerakan pembersihan saluran air secara serentak dari Kecamatan Pesanggrahan, menyusul temuan penyumbatan sedimen hingga 90 persen di Saluran Penghubung (PHB) Alfa Indah. Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, meninjau langsung lokasi pengerukan di segmen Jalan Taman Alfa Indah, Petukangan Utara, pada Minggu (16/2).
Pemilihan Pesanggrahan sebagai titik awal bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai memiliki peran krusial dalam pengendalian banjir di Jakarta Selatan. Saluran PHB Alfa Indah yang membentang 403 meter itu mengalami penumpukan lumpur dan sampah yang masif, terutama di kolong jembatan. Kondisi tersebut secara drastis mengurangi kapasitas tampung air, sehingga berisiko memicu genangan saat debit air meningkat.
Syafrin menegaskan bahwa pengerukan dilakukan secara cepat memanfaatkan musim kemarau. "Mumpung musim kemarau, kami bergerak cepat melakukan pengerukan agar kapasitas tampung air kembali optimal saat musim hujan tiba," ujarnya. Selain pengerukan, kegiatan gotong royong ini juga mencakup pembersihan sampah di permukiman sekitar, sebuah upaya menyeluruh untuk memastikan lingkungan bersih dan saluran air berfungsi maksimal.
Gerakan ini tidak berhenti di Pesanggrahan. Pemkot Jakarta Selatan akan berkoordinasi dengan Jakarta Barat untuk menyambung pengerukan ke arah hilir. "Begitu pembersihan di titik ini selesai, kami berkoordinasi dengan rekan-rekan di Jakarta Barat untuk menyambung pengerukan ke arah hilir, sehingga pergerakan air lancar, menerus sampai ke pembuangan akhir," jelas Syafrin. Kolaborasi lintas wilayah ini penting untuk memastikan tidak ada titik-titik penyumbatan yang menghambat aliran air menuju laut.
Sebanyak 500 personel gabungan dari berbagai Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) diterjunkan, termasuk Suku Dinas Sumber Daya Air, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Perhubungan, serta melibatkan warga setempat. Partisipasi warga menjadi kunci keberhasilan program ini. Syafrin mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke saluran air dan aktif melaporkan kendala drainase di lingkungannya. "Kami meminta warga tidak menutup fungsi saluran, serta aktif melaporkan kendala drainase di lingkungannya," tuturnya.
Langkah Pemkot Jaksel ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir di ibu kota. Dengan membersihkan saluran air secara berkala, diharapkan kapasitas drainase tetap optimal. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah kerja bakti ini akan menjadi budaya gotong royong yang berkelanjutan, atau hanya sekadar respons musiman? Ke depan, konsistensi dan partisipasi aktif masyarakat akan menjadi penentu apakah Jakarta mampu menghadapi tantangan banjir yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.



