Hibakusha Nagasaki Peringati 81 Tahun Bom Atom: 'Perdamaian Berarti Melindungi Kehidupan'
Baca dalam 60 detik
- Chiyoko Motomura, penyintas bom atom Nagasaki, menyampaikan ikrar perdamaian pada peringatan ke-81, menekankan pentingnya dialog dan perlindungan kehidupan.
- Motomura mengkritik para pemimpin negara yang berkonflik, merujuk pada perang Rusia-Ukraina, dan mengingatkan bahwa kenangan bom atom bukan sekadar cerita lama.
- Kunjungannya ke Los Alamos dan Pearl Harbor memperkuat keyakinannya bahwa dialog adalah satu-satunya jalan untuk saling pengertian, serta mengajak dunia untuk tidak menggunakan energi nuklir sebagai senjata.

Nagasaki, 9 Agustus 2026 โ Di tengah hiruk pikuk dunia yang masih dilanda konflik, seorang perempuan berusia 87 tahun berdiri di bukit Urakami, mengenang detik-detik ketika kota itu luluh lantak oleh bom atom 81 tahun silam. Chiyoko Motomura, yang saat itu baru berusia enam tahun, kembali menyuarakan ikrar perdamaian yang ia bawa seumur hidupnya: perdamaian berarti melindungi kehidupan, dan kehidupan harus dijunjung di atas segalanya.
Peringatan tahun ini terasa berbeda. Motomura, salah satu dari sedikit hibakusha yang masih hidup, menggarisbawahi bahwa era tanpa saksi langsung bom atom sudah di depan mata. "Hari ini, 81 tahun sejak bom atom, menandai masa transisi dalam sejarah. Era tanpa seorang pun hibakusha seperti saya sudah sangat dekat," ujarnya dalam pidato yang diterjemahkan oleh Pemerintah Kota Nagasaki.
Bagi Indonesia, pesan Motomura relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Meski Indonesia bukan negara pemilik senjata nuklir, posisinya sebagai negara non-blok dan anggota aktif Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW) menjadikan suara para penyintas sebagai pengingat akan konsekuensi kemanusiaan yang tak terbayangkan. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, pernah menegaskan bahwa perdamaian dunia adalah prasyarat bagi kemajuan bersama, sebuah nilai yang sejalan dengan ikrar Motomura.
Motomura menceritakan pengalamannya pada 11:02 pagi, 9 Agustus 1945, ketika ia bermain di beranda rumahnya di Desa Fukuda, sekitar 4,5 kilometer dari titik nol. "Bola api raksasa yang aneh meledak tepat di depan mataku," kenangnya. Rumahnya runtuh, dan neneknya yang berlari melindunginya terluka parah di punggung. Sang nenek meninggal pada Maret berikutnya tanpa perawatan yang layak. "Kenangan yang jauh namun jelas ini adalah salib yang saya pikul selama 81 tahun sebagai ganti nyawa nenek saya," tuturnya.
Kini, bukit Urakami yang dulu hangus telah pulih, tetapi dunia justru menunjukkan wajah yang berbeda. Motomura menyoroti perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai, dan mempertanyakan apakah para pemimpin negara yang berkonflik melihat penderitaan rakyatnya. "Apakah para pemimpin bangsa-bangsa ini tidak melihat wajah mereka yang berjuang setiap hari untuk bertahan hidup? Apakah mereka tidak melihat anak-anak kecil yang mengembara tanpa alas kaki dan menangis?"
Pada Desember lalu, Motomura melakukan perjalanan 14 hari ke Amerika Serikat, mengunjungi Laboratorium Nasional Los Alamos dan Pearl Harbor. Di Los Alamos, ia berdialog dengan seorang pemandu yang meyakinkannya bahwa tidak ada satu pun pekerja di sana yang tidak menginginkan perdamaian. Motomura hanya bisa meminta agar energi nuklir tidak pernah digunakan sebagai senjata. "Percakapan ini mengingatkan saya bahwa satu-satunya cara manusia saling memahami adalah melalui dialog," katanya. Di Pearl Harbor, ia merenungkan mengapa perang harus terjadi dan mengapa begitu banyak nyawa melayang.
Motomura menutup ikrarnya dengan janji untuk terus menyuarakan perdamaian dan berdoa agar perang tidak pernah terjadi lagi. "Ini adalah ikrar saya kepada semua jiwa yang beristirahat di bukit ini, yang hilang dalam sekejap oleh bom atom," ujarnya. Namun, di tengah dunia yang masih dihantui ancaman nuklir, apakah suara para hibakusha akan cukup untuk menghentikan ambisi negara-negara besar? Atau justru momentum transisi generasi ini yang akan menentukan arah kebijakan global?



