Kisah Gabe Newell: Hobi Nyanyi Tenggorokan Mongolia yang Bikin Karyawan Valve Tutup Pintu
Baca dalam 60 detik
- Minh Le, salah satu pencipta Counter-Strike, mengungkap bahwa Gabe Newell pernah terobsesi dengan nyanyian tenggorokan Mongolia dan sering mempraktikkannya di kantor Valve.
- Kebiasaan itu berlangsung sekitar lima bulan dan membuat sejumlah karyawan menutup pintu ruangan demi ketenangan.
- Pola obsesi mendalam Newell terhadap suatu topik, termasuk koleksi senjata tajam dan pembuatan pisau, dinilai berkaitan dengan pendekatannya membangun Steam.

Gabe Newell, pendiri Valve, dikenal sebagai figur eksentrik di industri game. Namun, kesaksian terbaru dari Minh Le—salah satu pencipta Counter-Strike—menyingkap sisi lain dari kepribadiannya: obsesi mendalam terhadap nyanyian tenggorokan Mongolia yang membuat suasana kantor Valve di awal 2000-an sempat terusik.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada 22 September 2026 di kanal Indie Game Joe, Le mengenang masa kerjanya bersama Newell. Ia menuturkan, Newell mulai terpikat pada teknik vokal khas Asia Tengah itu setelah menonton sebuah dokumenter. Tanpa ragu, Newell mempraktikkannya secara lantang sambil berjalan menyusuri lorong kantor. "Dia melakukannya setiap hari," ujar Le, seperti dikutip dari GameDaily.
Reaksi rekan kerja pun beragam. Sebagian memilih menutup pintu ruangan agar bisa bekerja lebih tenang. Menurut Le, fase tersebut berlangsung sekitar lima bulan sebelum Newell beralih ke minat baru—sebuah kelegaan bagi banyak penghuni kantor saat itu.
Hobi berikutnya tak kalah mencolok. Le menggambarkan Newell mengisi satu ruangan penuh dengan pedang, kapak, dan pisau yang ia pesan. "Dia menjadi kolektor senjata tajam," kata Le. Ketertarikan itu tidak berhenti pada mengoleksi; Newell kemudian mengambil kursus pembuatan pisau.
Bagi Le, kedua kegemaran itu bukan sekadar keanehan sesaat, melainkan bagian dari pola yang lebih luas. Ia menyebut Newell sebagai orang yang "sangat mendalami" suatu subjek, mempelajari segala aspeknya, lalu beralih ke topik berikutnya. Pola ini, menurut Le, turut memengaruhi cara Newell membangun Steam, termasuk desain awal yang akhirnya dibatalkan.
"Dia akan mendalami sesuatu dengan serius, mempelajari semua yang bisa dipelajari, lalu pindah ke hal berikutnya," ujar Minh Le.
Kisah ini bukan sekadar anekdot tentang keeksentrikan seorang miliarder. Bagi industri game, gaya kepemimpinan Newell yang berbasis rasa ingin tahu ekstrem telah melahirkan terobosan seperti platform distribusi digital Steam yang merevolusi cara gim didistribusikan dan dimonetisasi. Namun, pendekatan tersebut juga menuai kritik karena dianggap terlalu impulsif dan kurang terstruktur.
Di Indonesia, cerita ini bisa menjadi cermin bagi para pelaku startup dan pengembang gim lokal. Kultur kerja di Valve yang santai namun intens, serta kebebasan mengeksplorasi minat, sering dianggap sebagai faktor yang mendorong inovasi. Meski demikian, tidak semua organisasi mampu meniru model tersebut tanpa kehilangan fokus. Banyak startup Indonesia masih bergulat dengan struktur manajemen yang kaku dan sumber daya terbatas.
Pengamat industri gim nasional menilai, kisah Newell menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner kerap hadir dengan quirks yang tidak biasa. "Yang penting adalah bagaimana obsesi itu diarahkan untuk menciptakan nilai, bukan sekadar hobi pribadi," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, perusahaan teknologi di Indonesia perlu belajar mengelola kreativitas tanpa mengorbankan produktivitas.
Ke depan, pertanyaannya: apakah model kepemimpinan seperti Newell masih relevan di tengah tekanan pasar yang semakin kompetitif? Ataukah era obsesi personal yang mengganggu ruang kerja sudah saatnya digantikan oleh manajemen yang lebih inklusif dan terukur? Yang jelas, kisah nyanyian tenggorokan Mongolia ini akan terus dikenang sebagai salah satu bab unik dalam sejarah Valve.



