Meta Muse Kuasai App Store, Amazon Blokir: Babak Baru Perang AI Commerce
Baca dalam 60 detik
- Agen belanja AI milik Meta, Muse, berhasil menduduki peringkat teratas App Store, mengalahkan ChatGPT, dengan lebih dari 2,5 juta unduhan dalam dua minggu peluncurannya.
- Amazon secara resmi memblokir Muse dari platformnya karena alasan keamanan dan pengalaman pengguna, menandai ketegangan antara raksasa e-commerce dan pengembang agen AI.
- Meskipun antusiasme tinggi, adopsi agen belanja AI secara luas masih menghadapi hambatan kepercayaan konsumen, terutama terkait keamanan transaksi dan potensi kesalahan AI.

Meta kembali mengguncang lanskap kecerdasan buatan dengan peluncuran agen belanja pribadinya, Muse, yang langsung melesat ke puncak tangga unduhan App Store, mengalahkan ChatGPT. Dalam dua minggu sejak diperkenalkan, aplikasi ini telah diunduh lebih dari 2,5 juta kali secara global, menurut data Sensor Tower. Pencapaian ini menandai babak baru dalam persaingan AI konsumen, di mana agen otonom tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mulai mengambil alih tugas-tugas praktis seperti membandingkan harga, melacak diskon, hingga memesan tiket pesawat.
Kehadiran Muse disambut baik oleh sebagian konsumen yang mendambakan efisiensi. Neil Saunders, analis ritel dari GlobalData Retail, menilai fenomena ini sebagai akselerasi belanja berbasis agen. Ia memperkirakan semakin banyak orang akan beralih ke asisten AI untuk menyerahkan pekerjaan yang melelahkan, seperti berkeliling ke berbagai situs untuk mencari penawaran terbaik. "Ini bukan titik balik, tapi bagian penting dari perjalanan AI dan konsumen," ujarnya kepada CBS News.
Namun, tidak semua pihak menyambut baik. Amazon secara mengejutkan memblokir Muse dari platform e-commerce-nya dengan alasan keamanan dan pengalaman pengguna. Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana raksasa teknologi siap berbagi ruang dengan agen AI pihak ketiga. Di sisi lain, data IBM menunjukkan 41% konsumen telah menggunakan asisten AI untuk riset produk, dan 31% untuk mencari promo—sebuah pasar yang tengah tumbuh pesat.
Meski populer, adopsi agen belanja AI masih menghadapi tantangan kepercayaan. Survei Coresight terhadap 1.000 konsumen mengungkap 30% responden bersedia memakai AI untuk membandingkan harga saat belanja liburan, dan jumlah serupa untuk mencari kode promo. John Mercer, kepala riset global Coresight, menilai Muse berpotensi melompati Claude dan masuk jajaran teratas alat AI jika momentumnya terjaga. "Ini evolusi alami dari pencarian," katanya.
"Orang-orang masih sedikit gugup membiarkan agen AI melakukan pembelian atas nama mereka," ujar Saunders, menyoroti kekhawatiran yang membayangi adopsi massal.
Bagi Indonesia, fenomena Muse dan reaksi Amazon menjadi cermin penting. Pasar e-commerce Tanah Air yang besar, seperti Tokopedia dan Shopee, bisa menjadi medan uji berikutnya bagi agen AI. Namun, regulasi perlindungan data dan keamanan transaksi digital masih menjadi pekerjaan rumah. Jika agen AI asing masuk tanpa kendali, bukan tidak mungkin terjadi gesekan dengan platform lokal. Di sisi lain, peluang bagi pengembang dalam negeri untuk menciptakan agen serupa yang disesuaikan dengan perilaku konsumen Indonesia terbuka lebar.
Ke depan, pertarungan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga ekosistem dan kepercayaan. Apakah Meta mampu meyakinkan pengguna bahwa Muse aman, atau justru sebaliknya—platform seperti Amazon akan semakin menutup diri? Sementara itu, konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menjadi juri yang menentukan arah AI commerce.



