81% Kreator Pakai AI, tapi Hampir Separuh Alat Ditinggalkan: Paradoks Adopsi di Industri Kreatif
Baca dalam 60 detik
- Survei Luma terhadap 760 profesional kreatif mengungkap 81% telah mengadopsi AI, namun tingkat perputaran alat sangat tinggi.
- Rata-rata organisasi menguji 6,1 tools, mengadopsi 4,3, dan berhenti menggunakan 3 โ menandakan integrasi belum matang.
- Agensi memimpin adopsi, sementara pekerja lepas tertinggal; video jadi konten paling sulit diproduksi dengan AI.

Hampir semua pelaku pemasaran mengaku telah menyentuh kecerdasan buatan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengintegrasikannya ke dalam alur kerja kreatif sehari-hari. Temuan terbaru dari laporan tahunan perdana Luma, "State of Creative Professionals and AI: 2026", yang melibatkan 760 responden, menunjukkan 81% profesional kreatif memanfaatkan AI untuk memproduksi dan merilis konten. Angka itu terlihat menggembirakan, namun menyimpan ironi: adopsi tinggi tidak berbanding lurus dengan retensi alat.
Michele Madansky, konsultan riset pemasaran dari Michele Madansky Consulting, dalam sebuah lokakarya di Brandweek 2026 mengungkapkan bahwa rata-rata organisasi kreatif mengevaluasi 6,1 perangkat AI, mengadopsi 4,3 di antaranya, lalu berhenti menggunakan tiga. "Ini adalah churn," ujarnya, menggambarkan tingginya eksperimen tanpa jaminan keberlanjutan. Menurutnya, fenomena ini wajar dalam fase pencarian bentuk, tetapi juga sinyal bahwa kurva pembelajaran masih curam.
Laporan tersebut juga mencatat kesenjangan adopsi: agensi berada di garis depan, sementara pekerja lepas (freelancer) tertinggal. Dari sisi jenis konten, penulisan teks dan pembuatan gambar lebih banyak dihasilkan AI dibanding video. "Video lebih sulit diproduksi," kata Madansky, menyoroti kompleksitas teknis dan kebutuhan sumber daya yang lebih besar.
Alexia Adana, forward deployed creative lead di Luma, mendemonstrasikan bagaimana agen AI dan platform kreatif perusahaan dapat mempercepat produksi. Ia mencontohkan kolaborasi dengan Oakley, merek kacamata di bawah Luxottica. Dalam sesi itu, Adana berinteraksi dengan agen AI melalui obrolan, meminta pembuatan mood board hingga aset visual. "Agen ini adalah alat canggih yang telah dilatih, yang berbicara kepada model AI generatif atas nama Anda. Anda tidak perlu lagi menjadi prompt engineer teknis untuk menciptakan aset berkualitas tinggi," jelasnya. "Cukup punya ide bagus dan arahan yang solid untuk dieksekusi agen."
Luma membangun "Brand DNA" dengan mengunggah pedoman merek seperti tipografi dan logo, serta kampanye lampau agar sistem mempelajari pola yang berhasil. Platform ini juga menyediakan "digital twin" dari model manusia dan gambar produk, memungkinkan marketer dengan brief kreatif meminta agen menghasilkan aset dalam hitungan menit. Meski demikian, Adana menegaskan prosesnya tetap digerakkan manusia. "Semua ini berakar pada karya manusia, aset berasal dari fotografi nyata, dan melalui alur kerja hibrida," tegasnya.
"Ini adalah churn. Mereka menguji banyak hal, tetapi tidak semuanya bertahan." โ Michele Madansky, konsultan riset pemasaran
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi cermin bagi industri kreatif domestik yang sedang bergeliat mengadopsi AI. Agensi besar di Jakarta dan Surabaya mungkin telah mengintegrasikan alat generatif untuk produksi konten, tetapi UMKM dan freelancer masih menghadapi kendala biaya, keterampilan, dan infrastruktur. Tingginya churn global mengingatkan bahwa investasi AI tidak sekadar membeli lisensi, melainkan membangun budaya eksperimen yang terukur. Pemerintah melalui program literasi digital dapat mendorong pelatihan prompt engineering dan manajemen alur kerja hibrida, agar adopsi tidak berhenti di tahap coba-coba.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan kreativitas manusia, melainkan seberapa cepat organisasi dapat mengubah eksperimen menjadi kapabilitas mapan. Jika churn terus tinggi, gelombang adopsi berikutnya bisa jadi lebih selektif โ dan pemain yang mampu mengintegrasikan AI secara mendalam akan menuai keunggulan kompetitif. Akankah tahun 2026 menjadi titik balik konsolidasi alat, atau justru semakin banyak perangkat yang ditinggalkan?



