Survei IPO: Seskab Teddy Indra Wijaya Kokoh di Posisi Kedua Kinerja Kabinet, Purbaya Teratas
Baca dalam 60 detik
- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya meraih tingkat persetujuan publik 33,5 persen, menempatkannya di peringkat kedua dalam survei IPO.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memimpin dengan 42,8 persen, sementara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengikuti di posisi ketiga dengan 32,0 persen.
- Survei yang melibatkan 1.200 responden ini menyoroti korelasi antara popularitas dan penilaian kinerja, dengan Menteri HAM Natalius Pigai sebagai yang paling tidak disetujui.

JAKARTA, LYNDHUB โ Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kembali mencatatkan reputasi positif di mata publik. Berdasarkan survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO), ia menduduki peringkat kedua dalam penilaian kinerja jajaran Kabinet Merah Putih dengan skor persetujuan 33,5 persen, hanya kalah dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memuncaki daftar dengan 42,8 persen.
Temuan ini dirilis Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah pada Sabtu (8/8/2026) di Jakarta. Survei yang dilakukan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 itu melibatkan 1.200 responden dengan metode stratified multistage random sampling (SMRS). Margin of error tercatat 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Menurut Dedi, ada pola yang konsisten antara popularitas seorang pejabat dan penilaian publik atas kinerjanya. "Persepsi publik terhadap menteri yang dianggap bekerja dengan baik, ini linier dengan popularitas," ujarnya. Ia mencontohkan Purbaya yang paling dikenal publik (43,5 persen) sekaligus paling diapresiasi kinerjanya. Teddy menyusul dengan tingkat pengenalan 41 persen, diikuti Bahlil Lahadalia (32,8 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (30,4 persen), dan Zulkifli Hasan (26,1 persen).
Di luar tiga besar, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperoleh 30,9 persen, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan 26,5 persen, dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono 25,3 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa portofolio ekonomi dan pangan masih menjadi perhatian utama publik dalam menilai kinerja kabinet.
Namun, survei IPO juga mengungkap sisi sebaliknya. Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menempati posisi teratas dalam daftar pejabat dengan kinerja yang dinilai kurang baik, mencapai 51,8 persen. Disusul Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dengan 48,5 persen, dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang hanya 4,5 persen. Tingginya angka ketidakpuasan terhadap Pigai dan Dody menjadi sinyal bagi Istana untuk mengevaluasi kinerja kementerian tersebut.
Dedi menggarisbawahi bahwa penilaian publik bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan situasi. "Kondisi masyarakat selalu dinamis dalam memberikan penilaian," katanya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa peringkat saat ini bukanlah harga mati, melainkan potret sesaat yang bisa bergeser seiring kebijakan dan peristiwa politik ke depan.
Bagi pengamat politik, hasil survei ini menegaskan bahwa citra publik seorang pejabat tidak semata-mata ditentukan oleh kinerja teknis, tetapi juga oleh eksposur media dan komunikasi publik. Teddy, yang juga menjabat sebagai juru bicara presiden, secara konsisten tampil di panggung nasional, sehingga wajar jika popularitasnya tinggi. Sementara itu, tingginya angka ketidakpuasan terhadap Pigai dan Dody bisa menjadi bahan evaluasi bagi Presiden Prabowo Subianto dalam perombakan kabinet di masa mendatang.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah tren positif Teddy akan bertahan atau justru tergerus oleh dinamika politik yang semakin kompleks. Dengan popularitas yang hampir menyamai Menteri Keuangan, akankah ia dilirik untuk posisi yang lebih strategis dalam reshuffle berikutnya? Publik tentu akan terus memantau.



