Danau Burung Tempirai: Ketika Tradisi Melebung Tergerus Sawit dan Tengkulak
Baca dalam 60 detik
- Produksi ikan di Danau Burung, Sumatera Selatan, merosot drastis dari ratusan ton per tahun pada 1990-an menjadi sekitar 20 ton saat ini, mengancam mata pencaharian warga.
- Alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan sawit dan praktik lelang lebak lebung yang semakin eksklusif menjadi biang keladi menurunnya populasi ikan.
- Rantai ekologi yang masih terjaga berkat kehadiran burung pemakan ikan memberi harapan, tetapi tanpa pengelolaan berkelanjutan, tradisi melebung berisiko punah.

Di tengah terik matahari, Azizah (46) dan keluarganya menebar waring di sebuah lebung kecil di kawasan Danau Burung, Tempirai, Sumatera Selatan. Ini kali pertama dalam 38 tahun ia kembali melebung, tradisi menangkap ikan saat musim kemarau yang dulu selalu ramai. Namun, di balik kegembiraan itu, tersimpan kegelisahan: ikan-ikan yang dulu melimpah kini semakin sulit didapat.
Danau Burung, hamparan rawa gambut seluas 1.250 hektar di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), pernah menjadi lumbung pangan bagi masyarakat Tempirai. Hingga tahun 1990-an, produksi ikannya mencapai seratusan ton per tahun. Kini, menurut Sumari (49), pengemin atau pemenang lelang lebak lebung, hasil tangkapannya hanya sekitar 20 ton per tahun, itupun dengan usaha yang jauh lebih berat.
Kemerosotan ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar di sekitar kawasan. Sejak pertengahan 2000-an, sebagian besar rawa gambut yang menjadi habitat ikan serandang, toman, dan gabus berubah menjadi perkebunan sawit. "Bukan hanya gambutnya, juga rimbanya yang sudah habis," tutur Azizah, mengingat masa kecilnya ketika ikan-ikan melompat ke perahu. Kebakaran gambut yang kerap terjadi saat kemarau, seperti pada 2019, semakin memperparah kerusakan.
Di sisi lain, sistem lelang lebak lebung yang telah mengakar sejak abad ke-17 kini berbelok arah. Dulu, warga bebas mencari ikan untuk kebutuhan sehari-hari, dan hanya yang menjual hasilnya yang berbagi dengan pengemin. Kini, dengan nilai lelang yang menembus seratusan juta rupiah, pengemin seperti Sumari mengaku tak lagi mampu mengajak warga melebung bersama. "Tapi, kami tetap membebaskan warga untuk mencari ikan dan hasil tangkapannya dibagi dua," katanya. Praktik ini, meski masih memberi ruang, tidak lagi seinklusif dulu.
Dampaknya terasa nyata bagi warga. Syukri Amid (70) mengenang masa ketika hampir setiap rumah panggung di Tempirai dibangun dari hasil penjualan ikan, bahkan banyak yang membiayai pendidikan tinggi dan ibadah haji. Kini, hasil tangkapan lebih banyak diserap tengkulak untuk dijual ke Palembang, Pendopo, dan Muaraenim. "Sudah lama tidak makan ikan dari Danau Burung," keluhnya, menandakan perubahan selera dan akses yang kian sempit.
Namun, ada secercah harapan. Pantauan di lapangan menunjukkan masih adanya ratusan burung pemakan ikan, seperti kuntul, yang betah di kawasan ini. Kotoran burung menjadi pupuk alami bagi plankton dan mikroorganisme, yang menjadi mata rantai makanan ikan-ikan kecil hingga predator. "Ini siklus yang harus dijaga," ujar Adios Syafri dari Hutan Kita Institute (HaKI), menekankan pentingnya ekosistem gambut yang sehat.
Pertanyaannya, akankah tradisi melebung dan kelimpahan ikan di Danau Burung bertahan di tengah tekanan sawit dan komersialisasi? Tanpa langkah nyata untuk memulihkan gambut dan mengatur ulang sistem lelang yang lebih berpihak pada warga, bukan tidak mungkin Danau Burung hanya akan menjadi kenangan, seperti halnya gajah sumatera yang telah 50 tahun tak terlihat lagi.



