Gempa Kolombia Tewaskan 164 Orang: Upaya Evakuasi Terus Berlanjut, Angka Korban Diprediksi Bertambah
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,4 SR di Kolombia menewaskan sedikitnya 164 orang dan menghancurkan bangunan di Pereira, Cali, serta Manizales.
- Tim penyelamat bekerja sepanjang malam dengan alat berat dan tangan kosong untuk mencari korban selamat, sementara rumah sakit kewalahan menangani ratusan pasien.
- Presiden Abelardo De La Espriella mengerahkan 1.000 personel keamanan dan memberlakukan jam malam untuk mengantisipasi penjarahan pasca-bencana.

Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter yang mengguncang kawasan penghasil kopi Kolombia pada Senin (10/8) pagi telah merenggut sedikitnya 164 nyawa. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring upaya pencarian korban yang terus dilakukan di bawah reruntuhan bangunan.
Getaran dahsyat itu meluluhlantakkan gedung-gedung bertingkat di kota Pereira dan Cali, serta meretakkan salah satu menara katedral bersejarah di Manizales. Di Cali, kota berpenduduk sekitar 2,2 juta jiwa, sedikitnya 85 orang dilaporkan tewas. Ratusan bangunan dilaporkan miring atau hancur total, memaksa warga mengungsi ke jalanan.
Di tengah kekacauan, rumah sakit setempat kewalahan. Beberapa lantai teratas sebuah rumah sakit di Cali—yang sebagian diperuntukkan bagi perawatan anak—runtuh, menjebak sejumlah pasien dan memaksa sekitar 600 orang lainnya dirawat di jalan yang dipenuhi puing. Direktur rumah sakit, Irne Torres Castro, menyampaikan hal ini kepada stasiun televisi Caracol.
Relawan dan tim penyelamat yang dibantu polisi, tentara, serta warga bekerja sepanjang malam dengan ekskavator dan tangan kosong. Carmen Yasmin Garcia, warga Cali yang ikut menjadi relawan, menuturkan bahwa timnya berhasil membebaskan tujuh orang dari gedung yang roboh, namun empat orang lainnya dan seekor anjing masih terjebak. “Beberapa saat lalu kami mendengar suara garukan, tapi sekarang tidak ada apa-apa. Kami masih berharap anjing itu selamat dan bisa mengeluarkan orang-orang ini,” ujarnya.
Di Pereira, ibu kota provinsi Risaralda yang paling parah terdampak, otoritas melaporkan 66 korban jiwa. Seluruh blok perumahan berubah menjadi tumpukan beton dan besi bengkok. Video yang beredar di media sosial dan diverifikasi Reuters memperlihatkan bandara kota itu bergoyang hebat saat gempa, dengan potongan langit-langit berjatuhan. Sementara itu, 13 orang tewas di Choco, provinsi pedesaan yang terdekat dengan episentrum.
Presiden Abelardo De La Espriella, yang baru dilantik beberapa hari lalu, menyatakan 35 orang tewas di Cali dan 188 lainnya hilang. Ia juga mengumumkan pengerahan 1.000 personel keamanan ke kota itu setelah muncul laporan penjarahan. Cali dan Pereira memberlakukan jam malam pada Senin malam. “Niat kami adalah bekerja sama dengan cara apa pun yang diperlukan. Di sini, tidak ada perbedaan atau pembagian ideologis ketika membela rakyat atau menunjukkan solidaritas,” kata De La Espriella kepada wartawan.
Bencana ini memicu perbandingan dengan gempa mematikan tahun 1999 yang meluluhlantakkan wilayah yang sama dan menewaskan lebih dari 1.000 orang, serta gempa dahsyat di Venezuela pada Juni lalu yang menewaskan lebih dari 6.300 jiwa. Bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan rawan gempa, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi tsunami Aceh 2004 dan gempa Yogyakarta 2006 menunjukkan bahwa kecepatan respons dan koordinasi antarlembaga sangat menentukan dalam meminimalkan korban.
Ke depan, pemerintah Kolombia menghadapi tantangan besar dalam rekonstruksi dan pemulihan psikologis korban. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan tata kota yang ada sudah memadai untuk menghadapi gempa susulan? Dengan potensi gempa susulan yang masih mengancam, upaya evakuasi dan dukungan logistik akan menjadi kunci dalam beberapa hari ke depan.



