Mariano Peralta ke Persib: Adaptasi Gaya Main Jadi Taruhan di BRI Super League
Baca dalam 60 detik
- Mariano Peralta resmi berseragam Persib Bandung setelah mencatatkan 20 gol dan 14 assist bersama Borneo FC Samarinda pada musim lalu.
- Eks pelatih Borneo FC, Joaquin Gomez, menilai Peralta butuh waktu menyesuaikan diri dengan taktik Persib yang berbeda, terutama setelah kesulitan menghadapi tekanan Persija Jakarta.
- Kombinasi Peralta dan Berguinho di lini depan Persib berpotensi menjadi duet maut jika keduanya mampu beradaptasi dengan cepat.

Mariano Peralta meninggalkan Borneo FC Samarinda untuk bergabung dengan Persib Bandung pada bursa transfer menjelang BRI Super League 2026/2027. Kepindahan pemain asal Argentina itu menjadi salah satu transfer paling disorot di sepak bola Indonesia, terlebih setelah ia menorehkan 20 gol dan 14 assist pada musim sebelumnya.
Peralta sempat menjadi rebutan dua klub besar: Persija Jakarta dan Persib Bandung. Persija dikabarkan hampir mendapatkan tanda tangannya, namun Persib bergerak lebih cepat dan sukses mengamankan jasa pemain bernomor punggung 10 tersebut. Manajemen Persija bahkan sempat mengonfirmasi ketertarikan mereka, tetapi negosiasi akhirnya kandas.
Kedatangan Peralta ke Persib tidak serta-merta menjamin kesuksesan. Eks pelatih Borneo FC, Joaquin Gomez, mengingatkan bahwa gaya bermain Persib berbeda dengan yang biasa diterapkan di Samarinda. Menurut Gomez, Peralta memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan skema baru, terutama dalam menghadapi tekanan tinggi dari lawan.
"Persib Bandung mungkin bermain dengan gaya yang sedikit berbeda dengan apa yang sebelumnya ia alami di Borneo FC Samarinda, Peralta membutuhkan waktu agar terbiasa," ujar Joaquin Gomez kepada jurnalis Bola.com.
Gomez juga menyoroti penampilan Peralta saat melawan Persija Jakarta. Meski debutnya bersama Persib terbilang bagus, ia dinilai kesulitan menghadapi pressing ketat dan close down yang diterapkan Macan Kemayoran. "Bukan salah Mariano Peralta, tetapi bagaimana Persija Jakarta menjalankan pertandingan dan melakukan close down dan tekanan dengan baik," tambahnya.
Selain Peralta, Persib juga diperkuat Berguinho, mantan rekan setimnya di Borneo FC. Gomez menilai keduanya memiliki karakter permainan yang berbeda, tetapi saling memahami sehingga berpotensi menjadi kombinasi berbahaya di lini serang. "Saya senang melihat Mariano Peralta dan Berguinho bermain bersama lagi di Persib Bandung. Mereka adalah dua pemain dengan tipikal yang berbeda tapi sangat memahami satu sama lain," tuturnya.
Bagi Persib, mendatangkan Peralta adalah langkah ambisius untuk mempertahankan gelar dan bersaing di BRI Super League. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyatukan gaya main Peralta dengan taktik tim. Pelatih Persib harus mampu merancang skema yang memaksimalkan kemampuan individu tanpa mengorbankan keseimbangan tim.
Konteks Indonesia: Transfer Peralta mencerminkan tren klub-klub Liga 1 yang semakin agresif mendatangkan pemain asing berkualitas. Persaingan antar klub besar tidak hanya di lapangan, tetapi juga di bursa transfer. Kehadiran pemain seperti Peralta dan Berguinho diharapkan meningkatkan daya tarik liga dan kompetitivitas, sekaligus menjadi magnet bagi sponsor dan penonton.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Peralta mampu mengulang performa gemilangnya di Persib. Jika berhasil beradaptasi, ia bisa menjadi kunci sukses Maung Bandung. Sebaliknya, jika kesulitan, kritik akan mengarah pada strategi transfer dan taktik tim. Mampukah Peralta membuktikan bahwa dirinya bukan hanya bintang di Samarinda, tetapi juga di Bandung?



