Undead Labs Lepas dari Microsoft, State of Decay 3 Tetap Berjalan
Baca dalam 60 detik
- Undead Labs resmi berpisah dari Microsoft dan kini menjadi studio independen yang dimiliki karyawan.
- State of Decay 3 masih dalam pengembangan tahap alpha, dengan target beta tertutup akhir 2026 dan rilis penuh 2027 di Xbox, Game Pass, PC, serta PlayStation.
- Restrukturisasi besar-besaran Xbox juga mempengaruhi studio lain seperti Ninja Theory dan Arkane Studios.

Undead Labs, pengembang di balik seri survival zombie State of Decay, telah menyelesaikan proses pemisahan diri dari Microsoft dan kini beroperasi sebagai studio independen yang dimiliki oleh karyawan. Langkah ini menandai babak baru setelah lebih dari 15 tahun bekerja sama, sekaligus memastikan proyek State of Decay 3 tetap berlanjut.
Keputusan ini muncul di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di Xbox. Pada Juli lalu, Microsoft mengumumkan pemangkasan 1.600 karyawan secara langsung dan berencana mengurangi 1.600 lainnya pada tahun fiskal berikutnya. Sebagai bagian dari restrukturisasi, Xbox melepas beberapa studio ternama seperti Double Fine, Ninja Theory, Compulsion Games, dan Undead Labs.
Meski demikian, Undead Labs berhasil melewati masa transisi tersebut. Studio ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mengukuhkan statusnya sebagai entitas mandiri. Dalam pengumuman resminya, mereka menegaskan bahwa State of Decay 3 masih dalam tahap pengembangan alpha. Pihak studio menargetkan beta tertutup sebelum akhir 2026, dengan peluncuran penuh pada 2027 untuk platform Xbox, Game Pass, PC, dan PlayStation.
Kepala studio Undead Labs, Philip Holt, menyatakan bahwa kemandirian ini membawa mereka lebih dekat ke komunitas dan memungkinkan fokus pada pengembangan game terbaik. "Kemandirian membawa kami lebih dekat ke komunitas dan memungkinkan kami fokus pada apa yang paling penting: membuat game terbaik dan mendapatkan dukungan berkelanjutan dari orang-orang yang memilih menghabiskan waktu bersama kami," ujarnya. Ia juga menegaskan komitmen untuk menjaga kepercayaan jutaan pemain yang telah mendukung seri ini selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, nasib studio lain yang terlibat dalam "reset besar" Xbox masih belum jelas. Double Fine dan Compulsion Games berhasil memisahkan diri bulan lalu dengan membawa hak kekayaan intelektual, katalog game, dan pendanaan. Sementara itu, Ninja Theory, pengembang di balik Hellblade: Senua's Sacrifice, masih dalam posisi tidak pasti. Microsoft menyatakan dua kesepakatan akuisisi gagal dan kini sedang berkonsultasi dengan karyawan mengenai kemungkinan penutupan studio. Xbox juga tengah menjajaki divestasi Arkane Studios, pengembang Dishonored, Prey, dan Deathloop.
Restrukturisasi ini juga mencakup penataan ulang studio-studio yang tersisa. Microsoft mengumumkan bahwa pengembangan Halo akan berada di bawah Activision, Obsidian pindah ke naungan Bethesda, dan tim Forza serta Fable digabung. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk merampingkan operasi dan fokus pada waralaba utama.
Bagi industri game global, keputusan Undead Labs menjadi sinyal bahwa studio menengah dapat bertahan di tengah konsolidasi besar-besaran. Namun, tantangan tetap ada: sebagai studio independen, mereka harus mandiri secara finansial dan kreatif. Keberhasilan State of Decay 3 akan menjadi penentu arah masa depan mereka.
Di Indonesia, pasar game konsol dan PC terus tumbuh, dengan State of Decay memiliki basis penggemar yang solid. Kemandirian Undead Labs dapat membuka peluang kolaborasi atau distribusi yang lebih fleksibel di kawasan Asia Tenggara. Penggemar di Tanah Air berharap game ini tetap dapat diakses melalui platform yang ada, termasuk Game Pass yang populer di kalangan gamer Indonesia.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Undead Labs dapat mempertahankan kualitas dan jadwal rilis tanpa dukungan raksasa seperti Microsoft. Sementara itu, masa depan Ninja Theory dan Arkane Studios masih menjadi tanda tanya besar dalam lanskap industri game yang terus berubah.



