Airbus Kirim Tim Ahli ke India Usai Insiden Penurunan Mendadak Air India: 17 Luka, Pilot Jalani Tes Narkoba
Baca dalam 60 detik
- Produsen pesawat Eropa mengerahkan spesialis ke New Delhi untuk mendukung investigasi insiden penurunan mendadak pesawat A320 milik Air India rute Phuket-New Delhi yang melukai 17 orang.
- Hasil tes psikoaktif lanjutan terhadap pilot utama masih ditunggu, sementara kedua pilot telah dinonaktifkan sementara dari jadwal penerbangan.
- Insiden ini menambah daftar masalah keselamatan yang dihadapi Air India, termasuk kecelakaan fatal Boeing 787 pada Juni 2025 yang menewaskan 262 orang.

Jakarta, LyndHub โ Airbus mengirimkan tim spesialis ke New Delhi pada Selasa (11/8) untuk membantu penyelidikan atas insiden pesawat Air India yang kehilangan ketinggian secara drastis, melukai 17 orang dalam penerbangan dari Phuket, Thailand, menuju ibu kota India. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran publik terhadap keselamatan penerbangan di kawasan Asia Selatan, sekaligus memperkuat dugaan adanya masalah teknis atau human error yang perlu diusut tuntas.
Pesawat Airbus A320 yang mengangkut 137 penumpang dan 8 awak itu mengalami penurunan mendadak sekitar 91 meter pada 4 Agustus lalu, sebelum akhirnya berhasil distabilkan dan mendarat dengan selamat. Maskapai Air India dalam pernyataan resminya mengakui telah terjadi "kehilangan ketinggian secara tiba-tiba", namun menegaskan bahwa pihaknya sepenuhnya bekerja sama dengan penyidik dan telah memberi tahu pabrikan pesawat. Kementerian Penerbangan Sipil India mengklasifikasikan kejadian ini sebagai "Insiden Serius" yang kini ditangani oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat (AAIB).
Sejumlah media India melaporkan bahwa pesawat mengalami beberapa gangguan teknis sesaat sebelum penurunan mendadak, namun baik maskapai, otoritas India, maupun Airbus belum memberikan konfirmasi resmi. Juru bicara Airbus menyatakan bahwa perusahaan sedang memberikan "bantuan teknis" kepada otoritas investigasi India dan telah mengirimkan tim spesialis untuk mendukung proses penyelidikan. "Kami secara aktif mendukung maskapai dan akan memberikan informasi lebih lanjut begitu tersedia," ujarnya.
Menteri Penerbangan Sipil India mengungkapkan bahwa setelah pendaratan, kedua pilot menjalani tes skrining zat psikoaktif standar. Hasil awal pada pilot yang memimpin penerbangan menunjukkan indikasi yang memerlukan tes konfirmasi lebih lanjut, dan sampel telah dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Sampai hasil final dirilis, kedua pilot telah dinonaktifkan dari jadwal penerbangan. Langkah ini menjadi sorotan karena menyangkut potensi gangguan keselamatan yang serius.
Insiden ini menambah rentetan tantangan yang dihadapi Air India, yang tengah berjuang melakukan transformasi besar-besaran. Maskapai pelat merah itu juga terkena dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu rute penerbangan internasional. Namun pukulan terbesar bagi citra Air India terjadi pada Juni 2025, ketika Boeing 787 Dreamliner penerbangan 171 yang menuju London jatuh sesaat setelah lepas landas dari Ahmedabad, menewaskan 242 orang di dalam pesawat dan 19 orang di darat. Tragedi tersebut memicu pertanyaan serius tentang standar keselamatan dan manajemen maskapai.
Di tengah berbagai tekanan, Air India baru saja menunjuk mantan CEO Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, sebagai direktur utama pekan lalu. Langkah ini diharapkan membawa pengalaman internasional dalam memulihkan kepercayaan publik. Namun, insiden penurunan mendadak ini kembali menguji komitmen maskapai terhadap keselamatan.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap maskapai nasional dan internasional yang beroperasi di wilayah Asia. Otoritas penerbangan sipil Indonesia perlu memastikan bahwa prosedur keselamatan dan pemeriksaan pilot sejalan dengan standar internasional, terutama mengingat tingginya mobilitas penumpang antara Indonesia dan India. Apakah Air India mampu memulihkan reputasinya di tengah serangkaian insiden ini, atau justru akan menghadapi tekanan regulasi yang lebih ketat dari otoritas India dan internasional? Pertanyaan ini akan menentukan masa depan maskapai di kancah penerbangan global.



