Sutradara 'One Night Only' Potong Adegan Vulgar Demi Kenyamanan Penonton
Baca dalam 60 detik
- Will Gluck mengaku memangkas banyak adegan vulgar dalam film terbarunya karena dianggap mengganggu fokus cerita.
- Perubahan perilaku penonton, terutama generasi muda, membuat adegan intim dianggap terlalu pribadi untuk ditonton bersama.
- Keputusan ini mencerminkan tren industri film yang mulai mengurangi eksploitasi seksual demi kualitas naratif.

Sutradara Will Gluck, yang dikenal lewat film komedi seperti Easy A dan Anyone But You, mengambil keputusan berani dengan memangkas banyak adegan vulgar dari film terbarunya, One Night Only. Menurutnya, adegan-adegan tersebut justru mengganggu alur cerita dan membuat penonton tidak nyaman. Film yang dibintangi Monica Barbaro dan Callum Turner ini mengisahkan pertemuan dua orang asing di New York versi distopia, di mana hubungan seksual di luar nikah justru dilegalkan.
Dalam wawancara dengan Variety, Gluck mengungkapkan bahwa ia telah mengumpulkan data empiris dari dua film sebelumnya mengenai reaksi penonton terhadap adegan vulgar. Ia menilai telah terjadi pergeseran sosial yang signifikan, terutama di kalangan Generasi Z dan Alpha, yang kini menganggap konten intim sebagai sesuatu yang privat dan tidak layak ditonton secara bersama-sama di bioskop. "Ketika penonton melihat adegan vulgar atau situasi dewasa di film, mereka merasa tidak nyaman," ujarnya.
Gluck menjelaskan bahwa proses penyuntingan menjadi ajang pembelajaran penting. Awalnya, ia merasa perlu menampilkan dunia yang vulgar untuk membangun setting cerita. Namun, saat pemutaran uji coba, ia menyadari bahwa adegan-adegan tersebut justru membuat penonton teralihkan dari karakter dan konflik utama. "Anda fokus pada karakter, lalu tiba-tiba ada dua orang telanjang berhubungan seks. Penonton langsung menoleh ke teman di sebelahnya. Manfaatnya tidak sebanding dengan risikonya," katanya.
Untuk menjaga kualitas, Gluck menggandeng koordinator intimasi profesional dan memilih pemain dari pasangan asli yang memiliki hubungan nyata. Hal ini dilakukan agar adegan yang tersisa tetap terasa natural tanpa harus eksplisit. "Kami punya pasangan menikah, ada yang putus saat syuting, dan ada yang justru menjadi pasangan demi kebutuhan peran. Itu menarik," ungkapnya.
Keputusan Gluck ini sejalan dengan tren industri film global yang mulai mengurangi konten vulgar. Di Indonesia, fenomena serupa juga terlihat, di mana sineas lokal semakin sadar akan pentingnya menyajikan cerita yang bermakna tanpa harus bergantung pada eksploitasi seksual. Lembaga sensor film pun semakin ketat, mendorong kreator untuk lebih inovatif dalam menyampaikan pesan.
Gluck juga membahas tantangan dalam menyampaikan premis film yang tidak biasa ini. Ia mengakui bahwa para pemain sering menghabiskan 80 persen waktu wawancara untuk menjelaskan aturan dunia dalam film, bukan membahas ceritanya. "Kami hanya perlu membiarkan penonton menontonnya sendiri. Itu cara terbaik," tegasnya. Ia mencontohkan aturan larangan bercerai yang mengharuskan pasangan menikah minimal satu tahun, sebagai analogi bagaimana aturan bisa menjadi rumit dan memicu celah.
Keputusan Gluck untuk memangkas adegan vulgar menimbulkan pertanyaan: apakah ini akan menjadi standar baru dalam pembuatan film? Atau justru mengurangi kebebasan artistik? Yang jelas, dengan semakin beragamnya preferensi penonton, para sineas dituntut untuk lebih peka terhadap kenyamanan audiens tanpa mengorbankan substansi cerita.



