The Odyssey Cetak Rekor Baru: Film Terlaris Sepanjang Karier Christopher Nolan
Baca dalam 60 detik
- Adaptasi epik Homer ini meraup US$1,104 miliar secara global, melampaui The Dark Knight Rises.
- Kesuksesan ini menegaskan daya tarik Nolan di mata penonton, sekaligus memicu perdebatan soal kualitas naratifnya.
- Pencapaian tersebut berpotensi mengerek minat publik terhadap karya sastra klasik, termasuk di Indonesia.

Adaptasi layar lebar The Odyssey karya Christopher Nolan resmi menjadi film terlaris sepanjang karier sutradara tersebut. Sejak dirilis pada 17 Juli, film yang diangkat dari epos kuno karya Homer ini telah mengumpulkan pendapatan kotor global mencapai US$1,104 miliar, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang The Dark Knight Rises (2012) dengan US$1,085 miliar.
Pencapaian ini sekaligus menempatkan The Odyssey sebagai film terlaris bagi para bintang utamanya, termasuk Matt Damon, Anne Hathaway, dan Robert Pattinson. Secara keseluruhan, filmografi Nolan—yang juga mencakup judul seperti Tenet dan Interstellar—kini telah meraup lebih dari US$7 miliar di seluruh dunia. Angka tersebut menunjukkan konsistensi Nolan dalam menghadirkan tontonan berskala besar yang dinantikan publik.
Jim Orr, presiden distribusi teater domestik Universal Pictures, menilai keberhasilan ini sebagai bukti kepercayaan penonton terhadap Nolan. "Christopher Nolan telah mendapatkan kepercayaan penonton dengan secara konsisten menghadirkan peristiwa sinematik yang wajib ditonton, dan The Odyssey adalah dirinya beroperasi di puncak kemampuannya," ujarnya. Senada, Veronika Kwan Vandenberg, presiden distribusi Universal, menyebut film ini sebagai "epik global yang beresonansi dengan penonton di mana-mana dengan skala besar dan visi tanpa kompromi".
Namun, di balik kesuksesan komersial, The Odyssey menuai kritik tajam dari Emily Wilson, akademisi klasik yang terjemahan puisinya pada 2017 menjadi salah satu inspirasi film. Dalam esainya di London Review of Books, Wilson menulis bahwa film ini gagal menangkap kedalaman karya aslinya. "The Odyssey menampilkan kombinasi biasa dari keagungan dan kedangkalan... versi filmnya terlalu membingungkan, karakternya kurang berkembang, untuk menyampaikan apa yang setengah dijanjikan dalam hal ide-ide besar," tulisnya. Wilson juga menyoroti kurangnya kedalaman psikologis, emosional, politik, dan etika dalam film tersebut.
Meski demikian, Wilson mengakui bahwa perilisan The Odyssey merupakan "peristiwa yang patut dirayakan". Menurutnya, film ini berhasil membawa penonton kembali ke bioskop dan memicu minat terhadap karya sastra klasik. "Terjemahan Odyssey, termasuk milik saya, laris manis... mungkin film ini akan meyakinkan beberapa administrasi perguruan tinggi untuk tidak memangkas departemen sastra, bahasa, dan sejarah," tulisnya. Ia juga berterima kasih kepada Nolan karena "melakukan yang terbaik untuk membuat masyarakat umum membaca lagi".
Bagi penonton Indonesia, fenomena The Odyssey menjadi pengingat akan daya tarik cerita klasik yang diadaptasi ke layar lebar. Meski tidak ada data spesifik mengenai performa film ini di bioskop tanah air, kesuksesan globalnya berpotensi mendorong minat terhadap karya sastra dan mitologi Yunani. Selain itu, gaya bercerita Nolan yang khas—dengan permainan waktu dan skala visual megah—sering kali menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar film lokal.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah rekor ini akan bertahan lama atau justru akan dipecahkan oleh karya Nolan berikutnya. Dengan reputasinya yang semakin kokoh, publik tentu menantikan proyek ambisius apa lagi yang akan ia hadirkan. Satu hal yang pasti: The Odyssey telah membuktikan bahwa sinema epik masih memiliki tempat di hati penonton modern, sekaligus memicu diskusi tentang bagaimana sebuah karya klasik seharusnya diadaptasi.



