Olivia Wilde: Menyutradarai The Invite Meluluhkan Sisi Sinis Saya
Baca dalam 60 detik
- Olivia Wilde mengaku proses syuting The Invite mengubah pandangannya tentang cinta menjadi lebih optimistis.
- Film komedi-drama ini justru paling banyak digemari penonton di bawah 35 tahun, mengejutkan sang sutradara.
- Wilde berjuang keras agar filmnya tetap tayang di bioskop, menolak tawaran untuk langsung ke platform streaming.

Bagi Olivia Wilde, duduk di kursi sutradara untuk film komedi-drama The Invite ternyata membawa perubahan pribadi yang tak terduga: ia merasa sisi sinis dalam dirinya perlahan luntur. Perempuan 42 tahun itu mengaku proses kreatif di balik layar telah mengubah caranya memandang hubungan dan cinta, sebuah efek yang tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali membaca naskahnya.
Dalam The Invite, Wilde tidak hanya menyutradarai tetapi juga beradu peran dengan Seth Rogen sebagai pasangan suami istri yang sedang di ujung tanduk. Mereka menghadiri jamuan makan malam bersama tetangga yang diperankan Penelope Cruz dan Edward Norton, yang kemudian berubah menjadi malam penuh kejutan dan intrik. Kisah ini, menurut Wilde, terasa jujur dan dekat dengan realitas banyak pasangan, bahkan ia kerap berbicara dengan mereka yang telah menjalani pernikahan puluhan tahun dan merasa cerita dalam film ini menggambarkan pengalaman mereka secara akurat.
Yang menarik, Wilde mengaku terkejut dengan respons penonton muda terhadap filmnya. Ia semula mengira The Invite hanya akan menyentuh mereka yang berada di fase hidup serupa dengan karakternya, namun kenyataannya justru penonton di bawah 35 tahun, terutama yang berusia 20-an, menjadi basis penggemar terbesar di Amerika Serikat. Mereka datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak didasari penyesalan, melainkan harapan, dan itu membuat Wilde semakin optimistis terhadap masa depan percintaan dan cara generasi muda memandang hubungan.
Di tengah diskursus tentang matinya genre roman di layar lebar, Wilde justru melihat optimisme. Ia menilai pengalaman ini membuktikan bahwa penonton muda masih punya selera tinggi terhadap kisah dewasa yang kompleks. Ia juga menyoroti pentingnya pengalaman menonton bersama di bioskop, sesuatu yang menurutnya sudah mengakar dalam budaya manusia sejak ribuan tahun lalu. Komedi, kata Wilde, seringkali dianggap sebagai genre kelas dua yang tidak layak mendapatkan layar lebar, padahal justru di situlah katarsis bisa terjadiโtertawa bersama orang asing di ruangan gelap.
Perjuangan Wilde untuk membawa The Invite ke bioskop bukan tanpa hambatan. Setelah premier di Sundance, ia mendesak distributor untuk tidak langsung melempar film ke platform streaming. Ia bahkan menyebut ada godaan finansial untuk melewati tahap bioskop, namun ia bersikukuh karena merasakan reaksi kimia yang luar biasa dari penonton saat pemutaran perdana. Keputusan ini, menurutnya, adalah bentuk penghormatan terhadap pengalaman sinematik yang sesungguhnya.
Bagi penonton Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Di tengah maraknya platform streaming yang menawarkan kemudahan, perjuangan Wilde mengingatkan bahwa pengalaman menonton di bioskop memiliki nilai yang tidak tergantikan. Meski industri film Tanah Air juga menghadapi tantangan serupa, keberanian Wilde bisa menjadi inspirasi bagi sineas lokal untuk terus memperjuangkan karya mereka di layar lebar. Pertanyaannya, apakah penonton Indonesia masih punya kerinduan yang sama terhadap ritual menonton bersama di bioskop?



