Kabut Asap Kembali Selimuti Malaysia: El Nino dan Kebakaran Indonesia Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak sepuluh wilayah di Malaysia mencatat indeks polusi udara tidak sehat, dengan Serian di Sarawak mencapai level tertinggi.
- Fenomena El Nino yang diprediksi menguat hingga akhir tahun memperparah risiko kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan, serta mempercepat penyebaran asap ke negara tetangga.
- Para ahli memperkirakan kondisi ini bisa berlangsung hingga September, dan menekankan pentingnya hujan berkelanjutan di wilayah sumber api untuk meredakan kabut asap.

Malaysia kembali diselimuti kabut asap lintas batas yang bersumber dari kebakaran hutan di Indonesia, seiring menguatnya fenomena El Nino dan musim kemarau yang berkepanjangan. Data resmi menunjukkan sepuluh wilayah mencatat indeks pencemaran udara (API) tidak sehat, dengan Serian di Sarawak menembus angka 185, jauh melampaui ambang batas normal. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kualitas udara akan terus memburuk dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika titik api di Sumatra dan Kalimantan tak kunjung padam.
Menurut sistem pemantauan API Malaysia, sembilan wilayah di Sarawak dan satu di Selangor melaporkan kualitas udara tidak sehat pada Selasa sore. Selain Serian, Kuching dan Samarahan masing-masing mencatat 165 dan 168, sementara Mukah, Sibu, dan Bintulu berada di kisaran 154โ157. Di Semenanjung Malaysia, Johan Setia di Selangor menjadi satu-satunya wilayah dengan API 153. Sebaliknya, empat wilayah mencatat kualitas udara baik, seperti Jerantut (37) dan Langkawi (41), sementara sebagian besar lainnya berada pada level sedang.
Para ahli klimatologi menilai situasi ini sejalan dengan prediksi El Nino yang diprediksi menjadi sangat kuat, berpotensi melebihi dampak episode 1997-1998 dan 2015-2016. Prof. Dr. Fredolin Tangang dari Universitas Kebangsaan Malaysia menjelaskan bahwa kondisi kering di Sumatra Selatan dan Kalimantan meningkatkan risiko kebakaran, sementara angin muson barat daya membawa asap menuju Sarawak. Namun, ia menggarisbawahi bahwa dampaknya tidak merata: Sarawak selatan akan terus terpengaruh kabut asap dari Kalimantan, sedangkan Sarawak utara dan Sabah berisiko mengalami kekeringan yang memicu kebakaran lokal.
Senada dengan itu, Prof. Emeritus Datuk Dr. Azizan Abu Samah dari Universitas Malaya mengingatkan bahwa periode Juli hingga September merupakan musim pembakaran lahan secara tradisional di Sumatra dan Kalimantan. Ia membandingkan situasi saat ini dengan episode kabut asap 2019, di mana titik panas dan gumpalan asap dari Kalimantan telah memengaruhi Sarawak. Menurutnya, hujan di Kuala Lumpur dapat membersihkan udara untuk sementara, tetapi angin barat daya akan dengan cepat membawa kembali partikel polutan. โSituasi ini bisa bertahan hingga September jika kondisi kering terus berlanjut,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah Sumatra dan Kalimantan terhadap kebakaran hutan dan lahan, yang kerap kali berujung pada bencana asap lintas negara. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya melakukan pencegahan melalui patroli terpadu dan modifikasi cuaca, namun intensitas El Nino yang ekstrem membuat upaya tersebut menjadi semakin menantang. Masyarakat di daerah rawan kebakaran, terutama di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah langkah-langkah mitigasi yang ada saat ini cukup untuk mencegah terulangnya krisis kabut asap besar seperti tahun 2015, yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar. Para ahli menekankan bahwa hujan yang lebih konsisten di area kebakaran di Indonesia menjadi kunci utama untuk mengurangi kabut asap, bukan sekadar hujan lokal yang hanya memberikan bantuan sementara. Dengan prediksi El Nino yang menguat, kolaborasi regional dalam pemantauan titik api dan pengendalian kebakaran menjadi semakin mendesak untuk melindungi kesehatan jutaan warga di kawasan Asia Tenggara.



