Kopi dan Polifenol: Studi Baru Ungkap Kaitan dengan Risiko Kematian Kanker Payudara
Baca dalam 60 detik
- Studi di British Journal of Nutrition menemukan asupan polifenol tinggi, terutama dari kopi, berhubungan dengan risiko kematian lebih rendah pada pasien kanker payudara.
- Penelitian yang melibatkan 95 wanita selama 11,5 tahun ini menyoroti peran asam fenolat dan lignan dalam menekan kekambuhan dan memperpanjang harapan hidup.
- Para ahli mengingatkan bahwa temuan ini masih hipotesis dan belum merekomendasikan konsumsi kopi berlebihan; pola makan utuh tetap lebih disarankan.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition mengungkapkan bahwa konsumsi polifenol—senyawa alami yang banyak ditemukan dalam kopi—dikaitkan dengan penurunan risiko kematian pada wanita penderita kanker payudara. Temuan ini menjadi angin segar di tengah upaya global menekan angka kematian akibat penyakit yang pada 2024 diperkirakan merenggut 694.000 jiwa perempuan di seluruh dunia.
Penelitian yang dipimpin para ilmuwan ini melacak 95 wanita yang telah didiagnosis menderita kanker payudara selama rata-rata 11,5 tahun. Mereka secara berkala menilai asupan polifenol partisipan melalui catatan diet. Hasilnya, wanita dengan asupan total polifenol yang lebih tinggi, khususnya asam fenolat dan lignan, menunjukkan risiko kematian akibat kanker payudara yang lebih rendah. Yang menarik, kopi menjadi kontributor utama asupan polifenol dalam kelompok studi ini.
Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pola hidup sehat, termasuk diet kaya nutrisi, dapat memperpanjang harapan hidup pasien kanker. Namun, para ahli menggarisbawahi bahwa polifenol tidak bekerja sendirian. Menurut Monique Richard, seorang ahli gizi terdaftar yang tidak terlibat dalam studi, polifenol hadir bersama serat, vitamin, mineral, dan ribuan fitokimia lain yang bekerja sinergis. "Polifenol memengaruhi berbagai jalur biologis yang relevan dengan kesintasan kanker, termasuk stres oksidatif, peradangan kronis, sensitivitas insulin, dan komunikasi seluler," jelasnya.
Meridan Zerner, ahli gizi lain yang juga tidak terlibat, menambahkan bahwa polifenol juga berperan dalam menenangkan respons peradangan yang dapat memicu perkembangan sel kanker. "Lignan, salah satu jenis polifenol, mendukung bakteri usus yang dapat menurunkan pertumbuhan sel payudara yang dipicu estrogen," ungkapnya. Namun, ia menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme hormonal ini.
Meski menjanjikan, para ahli mengingatkan agar temuan ini tidak ditafsirkan berlebihan. Tracy Crane, direktur lifestyle medicine di Sylvester Comprehensive Cancer Center, University of Miami, menilai hasil studi ini "mendorong tetapi belum definitif". Ia menegaskan bahwa studi ini tidak membuktikan bahwa meningkatkan asupan polifenol akan mencegah kekambuhan atau memperpanjang hidup. "Temuan ini tidak menyarankan wanita untuk minum kopi dalam jumlah besar atau mengonsumsi alkohol sebagai sumber polifenol," tegasnya.
Bagi pembaca di Indonesia, temuan ini relevan mengingat kopi merupakan minuman yang sangat populer. Namun, para ahli menyarankan untuk tidak bergantung pada suplemen polifenol. "Penelitian menunjukkan bahwa mendapatkan polifenol dari makanan utuh lebih efektif daripada suplemen karena makanan utuh menyediakan kombinasi nutrisi yang seimbang," kata Zerner. Richard menambahkan, "Setiap makanan adalah kesempatan untuk menambahkan sumber polifenol. Pikirkan warna, variasi, dan konsistensi, bukan sekadar 'superfood' tertentu."
Ke depan, penelitian yang lebih besar dan beragam diperlukan untuk memperkuat bukti ini. Para ilmuwan berharap uji klinis acak berbasis makanan dapat menguji apakah peningkatan asupan polifenol dari berbagai makanan utuh benar-benar mengubah jalur metabolik dan inflamasi yang relevan dengan kanker. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah kopi benar-benar pahlawan, atau hanya bagian dari pola makan sehat yang lebih luas?



