Gibran: Rekonstruksi Pascabencana Tak Cukup Bangun Infrastruktur, Mitigasi Wajib Menyertai
Baca dalam 60 detik
- Wapres menegaskan pemulihan pascabencana harus diiringi langkah antisipasi agar kerusakan serupa tak terulang.
- Normalisasi sungai di Gayo Lues menjadi prioritas karena biayanya disebut lebih besar daripada pembangunan jembatan.
- Pemerintah menargetkan Jembatan Gantung Kendawi rampung 15 Agustus dan beroperasi sehari setelahnya.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa upaya pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan kembali infrastruktur yang rusak. Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Kamis (6/8), ia menggarisbawahi pentingnya langkah mitigasi untuk mencegah bencana serupa kembali meluluhlantakkan fasilitas dan permukiman warga.
Pernyataan itu disampaikan Gibran saat meninjau progres pembangunan Jembatan Gantung Kendawi, sebuah proyek yang diharapkan memulihkan akses masyarakat yang selama ini terisolasi akibat bencana. Ia secara khusus meminta percepatan normalisasi sungai di sekitar lokasi jembatan, sebuah langkah yang menurutnya justru lebih krusial daripada sekadar membangun jembatan itu sendiri. "Normalisasi sungainya harus dikebut, kondisi alamnya begini. Normalisasi sungai itu lebih mahal dari bikin jembatan," ujarnya di hadapan pejabat setempat.
Instruksi tersebut mencerminkan perubahan pendekatan pemerintah dalam penanganan bencana. Selama ini, fokus utama kerap tertuju pada rekonstruksi fisik, sementara aspek pencegahan kerap terabaikan. Padahal, tanpa mitigasi yang memadai, infrastruktur yang baru dibangun berisiko rusak kembali saat bencana datang. Gibran menegaskan bahwa pembangunan kembali harus mempertimbangkan kondisi lingkungan dan risiko bencana di wilayah tersebut, bukan sekadar mengejar target fisik.
Selain jembatan dan normalisasi sungai, Gibran juga meminta pemulihan menyeluruh bagi kawasan terdampak, termasuk fasilitas publik dan permukiman warga. "Sawah, rumah, sekolahnya juga dipindah. Kita bangun lagi semua, ya," katanya, menekankan bahwa relokasi menjadi bagian dari strategi mitigasi jangka panjang. Langkah ini dinilai penting untuk menjauhkan masyarakat dari zona rawan bencana, sekaligus memastikan aktivitas ekonomi dan pendidikan dapat berjalan normal kembali.
Data dari lapangan menunjukkan progres pembangunan Jembatan Gantung Kendawi telah mencapai 80 persen. Dandim 0113/Gayo Lues, Fran Desiafan Eka Saputra, melaporkan bahwa pemasangan papan lantai jembatan sedang berlangsung dan ditargetkan selesai pada 15 Agustus, dengan target operasional pada 16 Agustus. Jembatan sepanjang 100 meter dan lebar 1,5 meter ini nantinya akan melayani pejalan kaki dan kendaraan roda dua, mempermudah mobilitas warga, termasuk akses pelajar menuju sekolah.
Kunjungan Gibran ke Gayo Lues merupakan bagian dari rangkaian pemantauan pemulihan pascabencana di Aceh. Sebelumnya, ia juga meninjau Jembatan Teupin Mane yang ditargetkan fungsional pada Oktober, serta meminta perbaikan sekolah-sekolah terdampak banjir di Bireuen. Konsistensi pesan yang disampaikan di berbagai lokasi menunjukkan bahwa pemerintah kini menempatkan mitigasi sebagai prioritas dalam kebijakan kebencanaan nasional.
Bagi masyarakat Indonesia, arahan ini memiliki implikasi luas. Dengan kerentanan geografis yang tinggi, pendekatan rekonstruksi yang berwawasan mitigasi tidak hanya melindungi investasi infrastruktur, tetapi juga menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana pemerintah daerah mampu mengalokasikan anggaran untuk normalisasi sungai dan langkah mitigasi lainnya, mengingat biayanya yang tidak sedikit. Ke depan, keberhasilan program ini akan menjadi ujian nyata bagi komitmen pemerintah dalam membangun ketahanan bangsa terhadap bencana.



