Festival Golo Koe 2026: Menpar Tegaskan Pariwisata Labuan Bajo Tak Boleh Lepas dari Akar Budaya
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membuka Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, menegaskan perhelatan ini sebagai ruang dialog antara iman, tradisi, dan pariwisata berkelanjutan.
- Festival tahun lalu menarik 45.000 wisatawan, melibatkan 173 UMKM dan 883 pekerja seni, dengan perputaran ekonomi Rp2,82 miliar—bukti dampak nyata bagi masyarakat lokal.
- Pemerintah menargetkan festival ini terus menjadi motor penggerak pariwisata berkualitas yang menempatkan warga sebagai subjek utama, bukan sekadar objek tontonan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana secara resmi membuka Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Selasa (…), dengan menegaskan bahwa perhelatan tahunan ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan instrumen strategis untuk memastikan pertumbuhan pariwisata di kawasan super prioritas itu tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. Dalam sambutannya, ia mengingatkan kembali pertanyaan yang diajukan Keuskupan Ruteng lima tahun silam: bagaimana Labuan Bajo bisa terus melaju tanpa tercerabut dari akar budaya masyarakatnya.
Menurut Widiyanti, Festival Golo Koe hadir sebagai jawaban atas kegelisahan itu. Ia menilai kekuatan utama festival ini terletak pada kemampuannya menyajikan Labuan Bajo secara lebih utuh—bukan hanya keindahan alamnya, tetapi juga denyut iman, tradisi, dan keseharian warga Manggarai. "Wisatawan datang untuk merasakan pengalaman yang lebih mendalam, sementara masyarakat tetap menjadi penentu arah bagaimana identitas mereka diperkenalkan ke dunia," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Kupang.
Data penyelenggaraan tahun lalu menunjukkan bahwa pendekatan tersebut bukan wacana kosong. Festival Golo Koe 2025 berhasil menarik lebih dari 45.000 wisatawan, melibatkan 173 UMKM, 883 pekerja seni, dan 1.473 tenaga kerja, dengan perputaran ekonomi mencapai Rp2,82 miliar. Angka-angka ini, menurut Widiyanti, menjadi bukti bahwa pariwisata berkualitas adalah ketika pengalaman wisatawan tumbuh beriringan dengan kesejahteraan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal.
Bagi Indonesia, pengakuan Festival Golo Koe sebagai event unggulan nasional memiliki makna lebih luas. Di tengah gencarnya promosi pariwisata berbasis volume, festival ini menawarkan model alternatif yang menekankan kualitas dan partisipasi masyarakat. Keberhasilannya di Labuan Bajo—kawasan yang kerap disorot karena tekanan pariwisata massal—bisa menjadi preseden bagi destinasi lain di Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya yang tengah mencari keseimbangan serupa.
Widiyanti memberikan apresiasi kepada Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, dan seluruh pihak yang telah membesarkan festival ini. Ia berharap ajang tersebut terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang tidak hanya unggul secara infrastruktur, tetapi juga kaya akan identitas budaya. "Inilah pariwisata yang kita inginkan: tumbuh bersama masyarakat, bukan meninggalkan mereka," tegasnya.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada jumlah kunjungan, melainkan pada bagaimana menjaga konsistensi nilai di tengah tekanan komersialisasi. Mampukah Festival Golo Koe mempertahankan keasliannya saat arus wisatawan semakin deras? Jawabannya akan menentukan apakah Labuan Bajo benar-benar bisa menjadi contoh pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari rasa memiliki warganya.



