Peti Mati Bermuatan Politik di Manila: Beijing Protes, Manila Menjauh
Baca dalam 60 detik
- Lima peti mati dengan pesan anti-Partai Komunis China ditemukan di area Manila, memicu protes resmi Beijing.
- Insiden ini mempertegas ketegangan maritim yang sudah memanas antara China dan Filipina di Laut China Selatan.
- Pemerintah Filipina bergerak cepat menjauhkan diri, menegaskan aksi tersebut bukan representasi kebijakan resmi negara.

Lima peti mati yang dihiasi spanduk merah berisi kecaman terhadap Partai Komunis China (PKC) ditemukan di sejumlah titik di Manila dan sekitarnya, termasuk di dekat Kedutaan Besar China, pada Jumat pagi. Aksi yang tampak terorganisir ini langsung memicu reaksi keras dari Beijing, sementara otoritas Filipina bergerak cepat untuk menyelidiki dan menjauhkan diri dari provokasi tersebut.
Polisi Filipina telah memulai penyelidikan setelah saksi mata dan rekaman kamera pengawas menunjukkan sejumlah orang bertopeng meninggalkan peti-peti mati itu sebelum fajar. Foto yang beredar memperlihatkan peti mati yang dilapisi kain merah bertuliskan "PKC Serakah! Salot!"โkata dalam bahasa Tagalog yang berarti 'pengganggu'โserta gambar-gambar yang menyerupai Presiden China Xi Jinping, Menteri Luar Negeri Wang Yi, dan Duta Besar China untuk Filipina Jing Quan dalam kondisi terbaring seperti jenazah.
Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Manila dan Beijing terkait klaim maritim yang tumpang tindih di Laut China Selatan. Pada Juli lalu, terjadi insiden bentrok kapal di dekat gosong yang disengketakan, yang mengakibatkan setidaknya satu prajurit Angkatan Laut Filipina terluka. Ketegangan ini telah berlangsung bertahun-tahun dan kerap memicu aksi-aksi provokatif dari berbagai pihak, baik di lapangan maupun di ruang publik.
Kedutaan Besar China di Manila, melalui juru bicaranya Ji Lingpeng, menyebut insiden ini sebagai "tindakan provokasi politik yang terang-terangan, serangan pribadi, dan intimidasi yang bersifat paling keji." Beijing telah menyampaikan "representasi resmi" kepada pemerintah Filipina, menuntut penyelidikan dan tindakan tegas. Sementara itu, Departemen Luar Negeri Filipina dalam pernyataannya menegaskan bahwa tindakan para pelaku "tidak mencerminkan pendekatan pemerintah Filipina dalam menjalankan hubungan luar negerinya, dan tidak mewakili cara warga Filipina menyampaikan kritik atau ketidakpuasan, bahkan dalam isu politik yang sensitif sekalipun."
Insiden ini bukan yang pertama dalam perang narasi antara kedua negara. Sebelumnya, pada bulan lalu, sebuah surat kabar milik pemerintah China merilis video animasi yang menggambarkan seorang warga Filipina sebagai monyet dan tunduk kepada Amerika Serikat serta Jepang, terkait putusan arbitrase internasional mengenai Laut China Selatan. Aksi peti mati ini tampaknya merupakan respons balasan dari kelompok yang tidak dikenal, namun eskalasi seperti ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan bilateral yang sudah berada di titik rendah.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi negara kita sebagai sesama negara ASEAN yang juga memiliki klaim di Laut China Selatan. Meskipun Indonesia bukan pihak yang bersengketa secara langsung, stabilitas kawasan sangat dipengaruhi oleh bagaimana Manila dan Beijing mengelola konflik ini. Aksi-aksi provokatif seperti ini dapat memicu eskalasi yang tidak diinginkan, mengganggu jalur perdagangan, dan menciptakan ketidakpastian di kawasan yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Para analis menilai bahwa insiden peti mati ini, meskipun tampak sporadis, mencerminkan meningkatnya sentimen anti-China di kalangan masyarakat Filipina, yang sebagian besar dipicu oleh kebijakan Beijing yang agresif di Laut China Selatan. Namun, pemerintah Filipina di bawah kepemimpinan Ferdinand Marcos Jr. tampaknya berusaha menjaga keseimbanganโtidak ingin terprovokasi, tetapi juga tidak ingin terlihat lemah. Sikap ini tercermin dari pernyataan resmi yang mengecam aksi tersebut namun tidak menuduh pihak tertentu secara langsung.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah insiden ini akan menjadi pemicu dialog yang lebih konstruktif atau justru memperdalam jurang permusuhan. Beijing dan Manila memiliki mekanisme konsultasi bilateral, namun kepercayaan di antara keduanya berada pada titik terendah. Jika aksi-aksi provokatif seperti ini terus berulang, bukan tidak mungkin akan terjadi bentrokan yang lebih serius di lapangan. Yang jelas, stabilitas kawasan akan menjadi taruhan utama.



