Tabib Tradisional Bengal Meninggal Setelah Digigit Ular, Ritual Gagal Menyelamatkannya
Baca dalam 60 detik
- Seorang dukun ular di Bengal Barat tewas setelah digigit Russell's viper, karena lebih memilih ritual daripada perawatan medis.
- Kematian ini menyoroti masih kuatnya kepercayaan pada pengobatan tradisional di pedesaan India, meski kampanye pemerintah gencar.
- Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penanganan medis cepat dan edukasi masyarakat, termasuk di Indonesia yang memiliki tantangan serupa.

Kolkata โ Seorang tabib tradisional yang selama ini dikenal mampu mengobati gigitan ular, justru kehilangan nyawanya setelah digigit ular berbisa. Krishna Mondal (54), warga Desa Jabagram di distrik Purba Bardhaman, Bengal Barat, meninggal dunia pada Kamis lalu setelah sebelumnya memilih melakukan ritual daripada bergegas ke rumah sakit.
Peristiwa tragis ini bermula ketika Mondal tengah memotong rumput di ladang pada Rabu sore. Seekor Russell's viper, salah satu ular paling mematikan di India, menggigitnya. Alih-alih segera mencari pertolongan medis, Mondal justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan ritual tradisional dan mengonsumsi ramuan lokal yang diyakininya mampu menetralkan racun. Keluarganya menyebutkan bahwa Mondal sebenarnya sudah jarang mempraktikkan ilmu pengobatannya dalam beberapa tahun terakhir, namun tetap percaya pada metode warisan leluhurnya.
Saat kondisinya memburuk, saudaranya, Sagar Mondal, segera membawanya ke Rumah Sakit Umum Bhatar State. Namun, nyawa Mondal tak tertolong. Dokter menyatakan ia meninggal dunia tak lama setelah tiba di rumah sakit. Kejadian ini menjadi ironi yang menyayat hati, mengingat Mondal adalah sosok yang kerap dipanggil warga untuk mengobati korban gigitan ular.
Kasus Mondal hanyalah satu dari sekian banyak tragedi serupa yang terjadi di Bengal Barat. Pemerintah setempat telah berulang kali mengampanyekan bahaya mengandalkan dukun atau 'ojha' untuk menangani gigitan ular. Namun, kepercayaan pada pengobatan tradisional masih mengakar kuat di kalangan petani dan masyarakat pedesaan. Mereka kerap menganggap rumah sakit sebagai pilihan terakhir, setelah ritual dan ramuan terbukti gagal.
Data dari para ahli menunjukkan bahwa gigitan ular merupakan masalah serius bagi pekerja pertanian di Bengal. Kurangnya kesadaran akan langkah pencegahan, seperti mengenakan sepatu bot saat bekerja di ladang, membuat mereka rentan terhadap serangan ular. Di wilayah ini, empat jenis ular berbisa yang paling ditakuti adalah kobra India, kobra monocled (dikenal sebagai Gokhra), krait biasa (Kalaj), dan Russell's viper (Chandrabora). Racun kobra dan krait bersifat neurotoksik yang menyerang sistem saraf, sementara bisa Russell's viper bersifat hemotoksik yang merusak darah dan sistem peredaran darah.
Chandan Claiment Singh, seorang peneliti ular, mengungkapkan bahwa kasus kematian akibat gigitan ular terus berulang. Pada 26 Juni lalu, Durga Sarkar (61) meninggal saat berkunjung ke rumah putrinya di daerah Shaktipur, Hooghly. Dua hari sebelum kejadian Mondal, Ponchomi Haldar dari Raghunathpur Jamtala, South 24 Parganas, juga tewas setelah digigit krait biasa. Sebelumnya, Subhra Samanta (58) dari Howrah mengalami nasib serupa. Rentetan kematian ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan medis, akses terhadap penanganan cepat masih menjadi tantangan besar.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Di berbagai daerah, terutama di pedesaan, masih banyak masyarakat yang mempercayai dukun atau tabib untuk mengobati gigitan ular. Padahal, penanganan medis dengan serum anti-bisa (SABU) sangat efektif jika diberikan segera. Sayangnya, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan dan kurangnya sosialisasi sering kali membuat korban terlambat mendapatkan pertolongan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa gigitan ular adalah penyakit tropis terabaikan yang menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahun, terutama di Asia dan Afrika.
Para ahli medis menekankan bahwa langkah pertama yang benar saat digigit ular adalah tetap tenang, mengimobilisasi bagian tubuh yang terkena, dan segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat. Ritual atau pengobatan tradisional justru dapat membuang waktu berharga dan memperburuk kondisi. Pemerintah di berbagai negara, termasuk India dan Indonesia, perlu meningkatkan edukasi publik dan memastikan ketersediaan serum anti-bisa di daerah-daerah terpencil.
Kematian Krishna Mondal adalah pengingat pahit bahwa tradisi dan sains tidak selalu dapat berjalan beriringan dalam situasi darurat. Apakah kampanye pemerintah yang lebih masif dan kolaborasi dengan tokoh masyarakat dapat mengubah kepercayaan yang sudah mengakar ini? Hanya waktu yang akan menjawab, namun nyawa yang melayang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.



