Raja Malaysia Desak Pengamanan Bandara Diperketat, Usut Tuntas Skandal Tabung Haji dan Felda
Baca dalam 60 detik
- Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menyerukan penguatan keamanan di seluruh bandara dan pintu masuk Malaysia untuk memberantas penyelundupan narkoba dan kejahatan lintas batas.
- Seruan ini muncul setelah penangkapan pilot Malaysia dengan 26 kg MDMA di Jakarta, serta saat pemerintah mengkaji laporan RCI Tabung Haji dan utang Felda yang mencapai RM10 miliar.
- Langkah tegas tanpa kompromi terhadap pelaku kejahatan diharapkan memulihkan kepercayaan publik dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

Malaysia memperketat pengawasan di seluruh bandara dan pos perbatasan menyusul kekhawatiran meningkatnya penyelundupan narkoba dan kejahatan lintas negara. Seruan langsung disampaikan Yang di-Pertuan Agong, Sultan Ibrahim, dalam audiensi dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim di Istana Bukit Tunku, Sabtu (8/8). Langkah ini menjadi prioritas nasional setelah kasus pilot Malaysia yang ditangkap di Indonesia dengan barang bukti 26 kilogram MDMA mengguncang opini publik.
Dalam pernyataan resminya, Sultan Ibrahim menegaskan bahwa kementerian dan lembaga terkait harus memperkuat penegakan hukum, pemantauan berkelanjutan, serta kerja sama antarinstansi. "Keamanan perbatasan adalah harga mati. Kita tidak bisa membiarkan celah sedikit pun yang membahayakan keselamatan rakyat," demikian inti pesan yang disampaikan melalui akun Facebook resmi Istana. Audiensi yang berlangsung lebih dari satu jam itu juga membahas laporan Komisi Penyelidikan Kerajaan (RCI) mengenai Lembaga Tabung Haji dan kondisi keuangan Felda.
Kasus pilot tersebut menjadi pemicu utama. Pada 28 Juli lalu, otoritas Indonesia menyita 26 kg MDMA dari koper seorang pilot Malaysia di Bandara Soekarno-Hatta. Peristiwa ini membuka mata publik akan lemahnya pengawasan keamanan di bandara, baik di Malaysia maupun kawasan regional. Pengamat keamanan menilai kasus ini menunjukkan adanya celah serius dalam prosedur pemeriksaan bagasi dan koordinasi intelijen antarnegara.
Di sisi lain, Sultan Ibrahim juga menekankan penyelidikan menyeluruh terhadap laporan RCI Tabung Haji dan permasalahan Felda. RCI yang dibentuk pada 20 Januari 2022 itu mengkaji pengelolaan dana haji periode 2014-2020. Kabinet Malaysia baru mendeklasifikasi laporan tersebut pada 29 Juli lalu. Sementara itu, Felda dilaporkan memiliki utang hampir RM10 miliar akibat intervensi politik yang berlebihan, seperti diungkapkan Anwar Ibrahim bulan lalu.
Raja Malaysia menegaskan tidak ada kompromi terhadap siapa pun yang terbukti bersalah. "Tidak ada yang boleh lolos dari hukuman jika benar-benar bersalah. Yang terpenting, hal seperti ini tidak boleh terulang lagi," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen untuk menuntaskan kasus-kasus besar yang selama ini menjadi sorotan publik, sekaligus membangun kepercayaan terhadap institusi negara.
Bagi Indonesia, penguatan keamanan bandara Malaysia memiliki dampak langsung pada kerja sama bilateral. Kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan warga negara asing kerap menjadi ujian koordinasi antarnegara. Pengamat hubungan internasional menilai langkah Malaysia ini akan mendorong peningkatan pertukaran intelijen dan prosedur pemeriksaan bersama di bandara-bandara utama, termasuk yang menghubungkan kedua negara.
Ke depan, publik menunggu langkah konkret pemerintah Malaysia dalam menindaklanjuti arahan Raja. Apakah akan ada perombakan besar-besaran di sektor keamanan bandara? Bagaimana nasib laporan RCI yang selama ini dirahasiakan? Semua itu akan menjadi ujian kredibilitas pemerintahan Anwar Ibrahim dalam memberantas korupsi dan melindungi kepentingan rakyat.



