Australia dan Vietnam Perkuat Kerja Sama Militer: Sinyal ke Beijing di Tengah Ketegangan Laut China Selatan
Baca dalam 60 detik
- Australia dan Vietnam sepakat memperluas kerja sama pertahanan, termasuk keamanan maritim dan latihan bersama, dalam upaya menyeimbangkan pengaruh Beijing di kawasan.
- Kesepakatan ini muncul di tengah ekspansi militer China yang memicu kekhawatiran negara-negara dengan klaim tumpang tindih di Laut China Selatan.
- Langkah ini juga membuka kembali akses pasar daging kanguru Australia ke Vietnam, menandai penguatan hubungan ekonomi di samping kerja sama militer.

Australia dan Vietnam pada Selasa (11/8) mengumumkan perluasan kerja sama militer sebagai respons atas meningkatnya pengaruh Beijing di kawasan Pasifik dan Laut China Selatan. Langkah ini menegaskan posisi kedua negara sebagai kekuatan menengah yang berusaha menjaga stabilitas regional di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas.
Setelah pertemuan antara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan pemimpin Vietnam To Lam di Canberra, kedua negara menyatakan akan meningkatkan koordinasi dalam keamanan maritim dan menggelar latihan bersama. Albanese menekankan bahwa kerja sama ini bukan hanya soal pertahanan, tetapi juga mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan.
"Dunia yang tidak menentu saat ini menuntut kita untuk saling terhubung di semua level," ujar Albanese kepada wartawan. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi bagi negara-negara yang memiliki kepentingan di kawasan untuk bersatu menghadapi tantangan bersama.
Kunjungan To Lam ke Australia terjadi di tengah kekhawatiran atas pembangunan militer China yang agresif. Vietnam, yang memiliki klaim tumpang tindih di Laut China Selatan, merasa tertekan oleh klaim Beijing yang hampir mencakup seluruh wilayah tersebut, meskipun pengadilan internasional telah menyatakan klaim itu tidak memiliki dasar hukum.
Australia sendiri sedang menjalani ekspansi pertahanan terbesar dalam satu generasi, termasuk peningkatan kehadiran militer AS di wilayahnya. Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menilai kerja sama dengan Vietnam akan "secara langsung berkontribusi pada stabilitas dan keamanan kawasan".
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis yang signifikan. Sebagai negara yang juga memiliki kepentingan di Laut China Selatan, Indonesia perlu mencermati dinamika aliansi baru ini. Meskipun Indonesia mengusung kebijakan bebas-aktif, keseimbangan kekuatan di kawasan akan mempengaruhi stabilitas maritim yang menjadi prioritas nasional.
Para analis menilai bahwa peningkatan kerja sama Australia-Vietnam merupakan bagian dari upaya kolektif negara-negara ASEAN dan mitra mereka untuk menyeimbangkan pengaruh Beijing. Namun, langkah ini juga berisiko meningkatkan ketegangan dengan China, yang selama ini menolak intervensi asing dalam urusan Laut China Selatan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah negara-negara lain di kawasan, termasuk Indonesia, akan mengikuti jejak Australia dan Vietnam dalam memperkuat kerja sama pertahanan. Atau justru memilih jalur diplomasi yang lebih hati-hati untuk menghindari provokasi langsung terhadap Beijing? Jawabannya akan menentukan arsitektur keamanan regional dalam beberapa tahun ke depan.



