Siya Kolisi Kembali Perkuat Springboks: Kedalaman Skuad Jadi Senjata Utama Hadapi Argentina
Baca dalam 60 detik
- Kapten ganda juara dunia Siya Kolisi akan tampil perdana di tahun 2026 setelah pulih dari cedera hamstring saat Springboks menjamu Argentina di Buenos Aires.
- Rotasi besar-besaran yang dilakukan pelatih Rassie Erasmus pada tiga laga sebelumnya menunjukkan kedalaman skuad Afrika Selatan yang luar biasa, menjadi pembeda utama tim.
- Dengan Argentina kehilangan banyak pemain inti, laga ini menjadi ujian nyata bagi kedalaman skuad Springboks dan persaingan internal menuju Piala Dunia 2027.

Siya Kolisi, kapten timnas rugby Afrika Selatan yang telah dua kali mengangkat trofi Piala Dunia, akan kembali merumput untuk pertama kalinya di tahun 2026. Ia dijadwalkan tampil saat Springboks menghadapi Argentina dalam laga uji coba tunggal di Buenos Aires, Sabtu (8/2). Kehadirannya menjadi suntikan moral besar bagi tim yang tengah menguji kedalaman skuadnya.
Kolisi sebelumnya harus menepi akibat cedera hamstring saat Afrika Selatan sukses menaklukkan Inggris, Skotlandia, dan Wales dalam tiga laga Nations Championship pada Juli lalu. Menariknya, ketiga kemenangan itu diraih tanpa sejumlah nama besar, justru dengan rotasi pemain yang masif. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan Springboks tidak lagi bertumpu pada satu atau dua bintang semata.
Kini, bersama Kolisi, tim juga kedatangan pemain kunci lainnya seperti lock Eben Etzebeth, Lood de Jager, serta flyhalf jenius Sacha Feinberg-Mngomezulu. Mereka menjadi tambahan amunisi berharga untuk menghadapi Argentina yang justru kehilangan banyak pemain inti akibat cedera dan ketidakhadiran lainnya. Pelatih Argentina bahkan harus melakukan 13 perubahan dalam susunan pemain mereka.
"Cedera memang berat," aku Kolisi dalam konferensi pers, Jumat (7/2). "Saya tetap berada di dalam kelompok, membantu rekan-rekan yang bermain. Sungguh luar biasa bagaimana tim ini terus berjalan dan semakin baik." Ia menambahkan, "Tidak ada satu pun pemain yang merasa aman dengan posisinya. Semua harus bermain dan membuktikan diri."
Bagi Kolisi, kedalaman skuad adalah berkah sekaligus motivasi ekstra. "Ini salah satu berkah terbesar kami sebagai sebuah tim," ujarnya. "Pelatih (Rassie Erasmus) berbicara terbuka kepada kami, dan kami semua ingin tampil baik. Hal terpenting adalah ketika ada pemain cedera, tidak ada yang panik. Pemain lain akan masuk dan menyelesaikan pekerjaannya."
Filosofi ini menjadi kunci sukses Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan persaingan internal yang ketat, setiap pemain dituntut untuk tampil maksimal. Kolisi pun menegaskan bahwa saat cedera, ia tetap berusaha memberikan nilai tambah bagi skuad. "Saya akan duduk bersama pemain yang baru masuk dan membantunya. Kami tahu apa yang penting bagi kami sebagai sebuah tim."
Di sisi lain, Argentina yang tampil pincang akan dipimpin oleh Pablo Matera, pemain longgar yang sudah menjadi rival lama Kolisi di lapangan. Meski bersaing ketat, Kolisi menyimpan respek tinggi. "Pablo dan saya memulai karier internasional di waktu yang hampir bersamaan. Dia pemain hebat dan saya sangat menghormatinya," kata Kolisi. "Dia membawa bola dengan baik, pemain yang penuh semangat. Selalu sulit melawannya."
Kolisi juga menyebut hubungan baiknya dengan Matera di luar lapangan. "Dia orang baik di luar lapangan. Sous (Franco Mostert) bermain bersamanya di klubnya (Honda Heat di Jepang) dan dia bilang Matera itu menyenangkan. Saya mengenalnya dari pertemuan setelah pertandingan. Saya pernah bertemu anak-anaknya. Kami senang datang ke Argentina karena hubungan kami semua sangat baik."
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik untuk menyaksikan bagaimana tim terkuat di dunia mengelola transisi pemain. Keberhasilan Springboks dalam merotasi skuad tanpa kehilangan performa bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan olahraga di tanah air, terutama dalam membangun kedalaman tim.
Pertanyaan besarnya, mampukah Argentina memanfaatkan situasi ini untuk mengejutkan juara dunia? Atau justru kedalaman skuad Springboks akan semakin menegaskan dominasi mereka menuju Piala Dunia 2027? Laga di Buenos Aires akan menjadi jawaban pertama.



