Peta Pelatih Timnas Italia: Baldini Kembali ke U-21, Mancini Siapkan Regenerasi
Baca dalam 60 detik
- Silvio Baldini resmi kembali menukangi Timnas Italia U-21 setelah sempat menjadi pelatih interim tim senior.
- FIGC merombak jajaran pelatih kelompok umur, dengan sejumlah nama baru seperti Massimiliano Favo dan Manuel Pasqual.
- Restrukturisasi ini menjadi fondasi regenerasi sepak bola Italia pasca kegagalan di Piala Dunia 2022.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) akhirnya merampungkan struktur kepelatihan untuk seluruh kelompok umur Timnas Italia. Silvio Baldini, yang sempat dipercaya memimpin tim senior secara interim, kini secara resmi kembali ke posisi asalnya sebagai pelatih kepala U-21. Keputusan ini diumumkan berbarengan dengan penetapan jajaran pelatih untuk kelompok usia lainnya, menandai babak baru dalam upaya regenerasi sepak bola Italia pasca kegagalan di Piala Dunia 2022.
Baldini bukan nama asing di pentas pembinaan usia muda Italia. Sebelum ditunjuk sebagai pelatih sementara tim senior menggantikan Gennaro Gattuso yang hengkang awal tahun ini, ia telah lama membesut U-21. Selama memimpin tim senior di dua laga uji coba melawan Luksemburg dan Yunani pada awal Juni, Baldini justru banyak memanggil pemain-pemain U-21 yang sudah dikenalnya, sementara mayoritas pemain senior reguler ditinggalkan di rumah. Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa FIGC ingin mempercepat transisi generasi.
Keputusan FIGC untuk mengembalikan Baldini ke U-21 sejalan dengan penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih kepala tim senior. Mancini, yang baru saja diumumkan secara resmi, akan didampingi oleh sejumlah nama besar seperti Gabriele Oriali, Leonardo Bonucci, Massimo Maccarone, dan Antonio Gagliardi. Dengan demikian, hierarki kepelatihan di tubuh FIGC kini semakin jelas: Mancini fokus pada tim senior, sementara Baldini bertanggung jawab penuh atas pembinaan pemain muda di level U-21.
Di kursi U-21, Baldini akan didampingi oleh Andrea Barzagli, mantan bek Juventus dan timnas Italia, sebagai asisten pelatih. Sementara itu, Carmine Nunziata yang sempat menjadi pelatih interim U-21 saat Baldini pindah ke tim senior, akan kembali menangani U-20. Nunziata akan dibantu oleh Luigi Di Biagio dan Christian Maggio, yang sebelumnya menjabat asisten pelatih U-19 dan kini naik pangkat.
Pergantian juga terjadi di level U-19. Massimiliano Favo, yang sebelumnya sukses membawa U-18 meraih peringkat ketiga di Piala Dunia U-17 di Qatar, kini ditunjuk sebagai pelatih kepala U-19 menggantikan Alberto Bollini yang promosi ke tim senior. Sementara itu, Daniele Franceschini akan mengisi posisi pelatih U-18, dan Manuel Pasqual naik dari U-16 menjadi pelatih U-17. Giovanni Costantino dipercaya menangani U-16, sedangkan Enrico Battisti dan Luigi Milani tetap bertahan di U-15 dan U-14.
Selain jajaran pelatih, FIGC juga menunjuk Gianfranco Zola sebagai Koordinator Proyek Aktivitas Pemuda, sebuah peran baru yang diharapkan dapat menyelaraskan filosofi permainan di semua kelompok umur. Maurizio Viscidi tetap menjabat sebagai koordinator keseluruhan pembinaan usia muda Italia. Langkah ini menunjukkan keseriusan FIGC dalam membangun ekosistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat pentingnya investasi jangka panjang pada pembinaan usia muda. Ketika Italia yang notabene juara dunia empat kali saja rela merombak total struktur kepelatihan mudanya demi mengejar ketertinggalan, Indonesia pun perlu meniru langkah serupa. PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir memang telah menunjukkan perhatian pada pembinaan usia muda, namun konsistensi dan kesinambungan program masih menjadi pekerjaan rumah. Regenerasi tidak bisa dilakukan secara instan; butuh perencanaan matang dan pelatih yang kompeten di setiap level.
Dengan struktur baru ini, Italia berharap dapat melahirkan generasi emas berikutnya. Pertanyaannya, apakah langkah FIGC ini akan cukup untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Italia di kancah internasional? Atau justru akan menjadi bumerang karena terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, Italia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.



