Pesona Pemain Abroad Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Kekuatan Eropa di Kandang Sendiri
Baca dalam 60 detik
- John Herdman memanggil 23 pemain untuk FIFA ASEAN Cup 2026, mengandalkan bintang-bintang yang berkarier di Eropa meski tanpa Jay Idzes yang cedera.
- Kehadiran pemain seperti Ole Romeny, Justin Hubner, dan Emil Audero memberikan kualitas internasional yang jarang dimiliki tim Asia Tenggara.
- Dukungan penuh dari suporter di Stadion Gelora Bung Karno bisa menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia di turnamen ini.

Timnas Indonesia akan mengarungi FIFA ASEAN Cup 2026 dengan status tuan rumah, dan pelatih John Herdman telah menetapkan 23 pemain yang siap berlaga. Laga perdana melawan Singapura di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 25 September 2026 menjadi ujian awal bagi skuad Garuda yang diperkuat sejumlah pemain abroad. Kompetisi Grup A Premier Division ini juga diikuti Malaysia dan Bangladesh, menuntut Indonesia tampil konsisten sejak awal.
Meski kehilangan Jay Idzes karena cedera, Herdman masih memiliki stok pemain berkualitas yang merumput di liga-liga top Eropa. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung tim yang diharapkan mampu mengangkat performa Indonesia di pentas regional. Pengalaman bertanding di kompetisi elit menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak negara Asia Tenggara.
Di lini depan, Ole Romeny menjadi andalan. Pemain 26 tahun itu telah mencetak enam gol dalam 10 penampilan bersama Timnas Indonesia. Bersama Fortuna Sittard di Eredivisie, ia selalu menjadi starter dalam lima pertandingan dan menyumbang satu gol ke gawang PSV Eindhoven. Ketajamannya dianggap sebagai senjata utama Garuda untuk membongkar pertahanan lawan.
Justin Hubner memperkuat sektor belakang dengan gaya bermain tanpa kompromi. Sejak bergabung dengan Fortuna Sittard, ia menjelma menjadi pilihan utama pelatih Danny Buijs dan tampil dalam tujuh laga sebagai starter. Kontribusinya membantu klub tersebut bercokol di posisi keenam klasemen sementara. Hubner telah mengoleksi 18 caps dan satu gol untuk Timnas Indonesia sejak debut pada 5 Januari 2024.
Elkan Baggott, bek jangkung setinggi hampir dua meter, menjadi tembok kokoh di jantung pertahanan. Kini memperkuat Millwall di Divisi Championship Inggris, ia mencatatkan enam penampilan liga dan dua di Carabao Cup dengan total 334 menit bermain. Menit bermain yang signifikan di level kompetitif menjadi bukti kematangan pemain berusia 23 tahun itu, sesuatu yang langka bagi pesepak bola muda Asia Tenggara.
Di bawah mistar, Emil Audero menjadi kiper paling berpengalaman dengan rekam jejak di Serie A bersama Juventus, Inter Milan, Sampdoria, Palermo, Cremonese, dan Como. Kepindahannya ke Rayo Vallecano menjadikannya pemain Indonesia pertama yang tampil di La Liga. Ia sudah bermain tiga laga beruntun dan membantu Rayo Vallecano duduk di peringkat kesembilan dengan delapan poin. Maarten Paes, yang kini memperkuat Ajax Amsterdam, juga masih menjadi pilihan utama dengan 18 caps. Meski kalah bersaing dengan Marc-Andre ter Stegen, Paes tetap dipercaya tampil dalam lima pertandingan di semua kompetisi.
Calvin Verdonk menambah kekuatan di sektor sayap. Bermain untuk Lille di Ligue 1, ia telah mencatatkan 29 penampilan resmi sejak musim lalu. Meski lebih sering menjadi pelapis, Verdonk sempat merasakan duel melawan PSG dan berpeluang debut di Liga Champions. Bersama Timnas Indonesia, pemain 29 tahun itu telah mengoleksi 16 caps sejak debut pada 11 Juni 2024.
Kevin Diks menjadi nama terakhir yang tak kalah penting. Bek yang kini berseragam Borussia Monchengladbach itu telah mengoleksi 38 laga dan lima gol untuk Die Fohlen sejak musim lalu. Sebelumnya ia memperkuat Feyenoord, Fiorentina, Empoli, dan FC Copenhagen. Pengalamannya di Bundesliga menjadikannya aset berharga di lini pertahanan, dan ia telah menyumbang dua gol dalam 12 caps untuk Timnas Indonesia.
"Kami memiliki pemain-pemain yang terbiasa bersaing di level tinggi. Ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung regional," ujar John Herdman dalam konferensi pers jelang turnamen.
Kualitas individu para pemain abroad ini menjadi modal besar bagi Indonesia untuk bersaing di FIFA ASEAN Cup 2026. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyatukan gaya bermain mereka dengan pemain lokal dalam waktu singkat. Herdman dituntut mampu meracik strategi yang memaksimalkan potensi individu tanpa mengorbankan kekompakan tim.
Bagi sepak bola Indonesia, turnamen ini bukan sekadar ajang prestise. Kesuksesan di kandang sendiri bisa meningkatkan peringkat FIFA, menarik minat sponsor, dan memacu pengembangan sepak bola usia muda. Dukungan penuh dari suporter di Stadion Gelora Bung Karno juga diharapkan menjadi energi tambahan bagi para pemain.
Dengan komposisi yang ada, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk melangkah jauh. Namun, apakah dominasi pemain abroad ini cukup untuk mengangkat trofi di hadapan publik sendiri? Jawabannya akan terlihat saat bola mulai digulirkan.



