Formula E Yakin Lebih Dulu Punya Pembalap Wanita daripada F1: Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Bos Formula E, Jeff Dodds, berani bertaruh serinya akan lebih dulu memiliki pembalap wanita di level utama dibanding F1.
- Program wanita Formula E memungkinkan pembalap menguji mobil yang sama dengan yang dipakai di kejuaraan, berbeda dengan F1 Academy yang menggunakan mobil level F4.
- Mobil Gen4 dengan power steering diyakini akan semakin membuka peluang pembalap wanita untuk bersaing di level tertinggi.

LONDON โ Formula E menegaskan ambisinya untuk menjadi seri balap pertama yang kembali menempatkan pembalap wanita di kursi utama, sebuah target yang diyakini mampu dicapai lebih cepat dibanding Formula One. Keyakinan ini disampaikan langsung oleh CEO Formula E, Jeff Dodds, di tengah perayaan 50 tahun sejak terakhir kali seorang wanita turun di grand prix dunia, tepatnya Lella Lombardi yang finis ke-12 di Austria pada 15 Agustus 1976.
Dodds, yang memimpin kejuaraan mobil listrik tersebut, tidak ragu untuk bertaruh bahwa Formula E akan lebih dulu memiliki pembalap wanita yang berlaga secara reguler di kejuaraan utama. "Apakah saya berani bertaruh bahwa Formula E akan kembali memiliki pembalap wanita di level utama sebelum F1? Tentu saja," ujarnya kepada Reuters di sela-sela rangkaian balapan penutup musim di London Excel akhir pekan ini. Meski begitu, ia menegaskan tidak akan bertaruh secara finansial karena melanggar aturan tata kelola, tetapi tidak menolak taruhan kecil ala pertemanan.
Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Formula E telah memiliki tiga pembalap wanita sepanjang sejarahnya, satu lebih banyak dibanding F1 yang berdiri 76 tahun. Yang terakhir adalah Simona de Silvestro asal Swiss pada 2016. Namun, yang lebih penting adalah perbedaan pendekatan dalam menjaring bakat wanita. Formula E memiliki program khusus yang memungkinkan pembalap wanita menguji mobil yang sama persis dengan yang digunakan di kejuaraan, sementara F1 Academy โ seri pendukung F1 yang khusus wanita โ masih memakai mobil level Formula 4.
Menurut Dodds, lompatan dari mobil F1 Academy ke mobil F1 sangatlah besar, sehingga kecil kemungkinan seorang pembalap wanita bisa langsung naik kelas. "Langkah antara mobil F1 Academy dan mobil F1 sangatlah jauh. Sangat tidak mungkin seseorang yang menjuarai F1 Academy langsung masuk ke mobil F1," jelasnya. Sebaliknya, program wanita Formula E memberikan kesempatan bagi pembalap untuk merasakan langsung mobil yang sama, di trek yang sama, dengan lingkungan yang sama seperti pembalap reguler.
Formula E telah menggelar "tes wanita" selama dua tahun terakhir. Pada Oktober lalu, di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, 14 pembalap wanita ambil bagian, termasuk Abbi Pulling, juara F1 Academy 2024 yang juga menjadi pembalap simulator untuk tim Nissan. Empat wanita lainnya juga mengikuti tes rookie pada Maret lalu. Dodds menambahkan bahwa mayoritas tim kini memiliki pembalap wanita dalam staf mereka, seperti Juju Noda di Jaguar, Sophia Floersch di Opel, Bianca Bustamante di Cupra Kiro, dan Abbi Pulling di Nissan. Ia juga menjanjikan pengumuman besar terkait investasi lebih lanjut untuk program wanita musim depan.
Salah satu faktor kunci lainnya adalah hadirnya power steering pada mobil Gen4 yang akan digunakan musim depan. Mobil yang lebih cepat dan ringan ini dinilai lebih ramah bagi pembalap wanita. Sebagai perbandingan, mobil Formula 2 dan Formula 3 tidak memiliki power steering, sementara mobil F1 memilikinya karena beban G-force yang tinggi. Kondisi ini kerap dianggap menghambat pembalap wanita yang secara fisik mungkin lebih lemah dibanding pria. "Pengenalan power steering membantu kami menempatkan wanita pada posisi yang setara untuk bisa menembus kejuaraan utama," kata Dodds.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Meski belum ada pembalap wanita Indonesia yang menembus level internasional, keberadaan program seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi pembalap muda tanah air. Dengan semakin terbukanya akses bagi wanita di ajang balap global, bukan tidak mungkin suatu saat akan lahir pembalap wanita Indonesia yang mampu bersaing di kancah dunia. Selain itu, tren ini juga bisa mendorong industri otomotif dan balap di Indonesia untuk lebih memperhatikan pengembangan bakat wanita.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah akan ada pembalap wanita di ajang balap utama, melainkan kapan dan dari negara mana ia berasal. Formula E tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut, sementara F1 masih harus berbenah. Apakah langkah berani Formula E ini akan diikuti oleh F1? Atau justru akan menjadi pembeda yang semakin memperkuat posisi Formula E sebagai seri balap yang lebih inklusif?



