Menggali Akar Historis Koperasi Desa Merah Putih: Jejak Pemikiran Bung Hatta di Balik Program Prabowo
Baca dalam 60 detik
- Ahmad Muzani mengaitkan program Koperasi Desa Merah Putih dengan pemikiran ekonomi Bung Hatta, menegaskan relevansinya bagi demokrasi ekonomi Indonesia.
- Ziarah MPR ke makam Bung Hatta menjadi simbol penghormatan terhadap fondasi pemikiran koperasi yang kini diadopsi pemerintah.
- Langkah ini menandai upaya menghidupkan kembali semangat kekeluargaan dalam kebijakan ekonomi nasional, dengan implikasi pada pemberdayaan desa.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengungkapkan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo Subianto berakar dari pemikiran Mohammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia. Pernyataan ini disampaikan usai ziarah ke makam Bung Hatta di Tanah Kusir, Jakarta, Jumat (8/8), sebagai bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 RI.
Muzani menegaskan bahwa Prabowo secara konsisten mendalami gagasan-gagasan Hatta, terutama yang tertuang dalam berbagai buku dan pemikirannya tentang ekonomi kerakyatan. โPak Prabowo banyak menggeluti ini dari pemikiran Bung Hatta dan buku-buku Bung Hatta,โ ujarnya. Baginya, koperasi bukan sekadar model usaha, melainkan cermin dari asas kekeluargaan yang menjadi fondasi demokrasi ekonomi Indonesia.
Langkah ini menarik karena menempatkan program unggulan pemerintah dalam kerangka historis yang kuat. Di tengah gencarnya transformasi digital dan ekonomi modern, pengangkatan kembali gagasan Hatta menunjukkan upaya untuk mencari akar solusi bagi persoalan ekonomi desa yang selama ini kerap tertinggal. Koperasi desa diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal, namun tantangan klasik seperti tata kelola, akses modal, dan partisipasi warga tetap menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan.
Bagi Indonesia, program ini bukan sekadar wacana. Dengan lebih dari 74.000 desa, potensi koperasi sebagai instrumen pemerataan ekonomi sangat besar. Namun, keberhasilannya bergantung pada bagaimana pemerintah menerjemahkan idealisme Hatta ke dalam kebijakan yang aplikatif. Apakah koperasi desa akan menjadi sekadar program seremonial atau benar-benar mengubah wajah ekonomi pedesaan? Pertanyaan ini menggantung di tengah optimisme yang disuarakan para petinggi negara.
Muzani juga menyoroti relevansi pemikiran Hatta yang melampaui sektor ekonomi. Menurutnya, nilai-nilai yang diperjuangkan Hatta tetap aktual dalam penyelenggaraan pemerintahan modern. โBung Hatta memperjuangkan itu sebagai sebuah cara bagaimana ekonomi bersama Indonesia, demokrasi ekonomi bisa berjalan, dan akhirnya kita mengambil jalan koperasi,โ katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa koperasi bukan hanya alat ekonomi, tetapi juga instrumen politik untuk mewujudkan keadilan sosial.
Ziarah ke makam para proklamator menjadi tradisi yang dirutinkan MPR menjelang peringatan kemerdekaan. Kegiatan ini, menurut Muzani, merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur atas jasa para pendiri bangsa. โKami meyakini bahwa Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua proklamator yang sejak awal menginspirasi seluruh perjuangan rakyat dan bangsa Indonesia,โ tuturnya. Tradisi ini diharapkan memperkuat kesadaran sejarah di kalangan generasi penerus.
Ke depan, publik akan menguji apakah program Koperasi Desa Merah Putih mampu menghadirkan perubahan nyata. Pemerintah perlu memastikan bahwa koperasi desa tidak hanya menjadi wadah simbolis, tetapi juga memiliki akses terhadap pasar, teknologi, dan pendampingan yang memadai. Tanpa itu, semangat Hatta hanya akan menjadi catatan sejarah, bukan jawaban atas tantangan ekonomi desa yang dinamis.



