Gelombang Protes Mahasiswa India Meluas: Ujian Rekrutmen Pemerintah Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Ribuan mahasiswa di Jharkhand, India, berunjuk rasa menuntut pembatalan ujian rekrutmen yang diduga bermasalah, memicu aksi mogok makan.
- Gerakan ini menyusul keberhasilan protes 'kecoa' di New Delhi yang memaksa mundurnya Menteri Pendidikan, menandakan krisis kepercayaan pada sistem ujian.
- Konflik antara pemerintah negara bagian dan pengunjuk rasa berpotensi menjadi ujian bagi stabilitas politik dan tata kelola rekrutmen di India.

Ranchi, ibu kota Jharkhand, menjadi pusat gelombang protes mahasiswa yang menuntut pembatalan ujian rekrutmen pegawai negeri yang diduga penuh kecurangan. Aksi yang berlangsung sejak akhir Juli ini memuncak pada Senin (10/8) ketika ratusan mahasiswa berupaya menerobos barikade menuju gedung DPRD setempat, sementara enam demonstran, termasuk pemimpin mahasiswa Devendra Nath Mahto, telah berpuasa lebih dari seminggu.
Unjuk rasa di negara bagian berpenduduk lebih dari 33 juta jiwa ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari gerakan 'kecoa' yang digerakkan oleh Cockroach Janta Party di New Delhi, yang berhasil memaksa Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri setelah 36 hari demonstrasi. Keberhasilan itu mengubah integritas ujian menjadi isu politik nasional yang sensitif, dan kini menjalar ke Jharkhand yang dikuasai oleh partai oposisi, menciptakan tekanan ganda bagi pemerintah pusat dan daerah.
Para pengunjuk rasa menuntut pembatalan sejumlah ujian yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta atas nama pemerintah negara bagian, serta penyelidikan oleh kepolisian federal. Mereka menilai praktik tersebut sarat dengan ketidaktransparanan dan merugikan ribuan pelamar yang bersaing ketat untuk mendapatkan posisi di sektor publik. "Kami ingin seluruh sistem berubah," tegas Mahto, seperti dikutip media India, menekankan tuntutan untuk menghentikan keterlibatan pihak swasta dalam proses seleksi.
Ketegangan semakin meningkat ketika ratusan polisi berjaga di belakang kawat berduri di sekitar gedung DPRD, setelah perundingan antara perwakilan mahasiswa dan pemerintah negara bagian gagal mencapai titik temu. Kepala Menteri Jharkhand, Hemant Soren, berupaya meredam dengan menerima sebagian tuntutan, dan beberapa anggota badan pengawas ujian telah mengundurkan diri. Namun, retorika Soren yang menyerukan dialog tampaknya belum cukup untuk memadamkan amarah demonstran yang menuntut keadilan menyeluruh.
Fenomena ini mencerminkan frustrasi yang lebih luas di kalangan anak muda India, di mana ujian pemerintah dianggap sebagai salah satu jalur utama menuju pekerjaan di tengah persaingan yang sangat ketat. Jutaan pelamar bersaing untuk memperebutkan kursi yang terbatas, dan kecurangan yang dirasakan semakin memperlebar ketimpangan. Gerakan di Jharkhand ini juga menjadi ujian bagi pemerintahan negara bagian yang berseberangan dengan BJP, partai pimpinan Narendra Modi, menunjukkan bahwa isu ini melampaui garis politik.
"Setiap masalah dapat diselesaikan melalui dialog," ujar Soren dalam pidatonya, namun para pengunjuk rasa tampaknya belum puas dengan respons tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran berharga. Sistem rekrutmen pegawai negeri yang transparan dan akuntabel adalah fondasi kepercayaan publik. Jika India, dengan skala dan kompleksitasnya, menghadapi gejolak akibat dugaan kecurangan, Indonesia perlu memastikan bahwa proses serupa, seperti seleksi CPNS, berjalan dengan integritas tinggi. Penggunaan teknologi dan pengawasan independen menjadi krusial untuk mencegah krisis kepercayaan serupa.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah pemerintah Jharkhand mampu mengakomodasi tuntutan demonstran tanpa mengorbankan kredibilitas sistem. Apakah gelombang protes ini akan menyebar ke negara bagian lain, atau justru meredup setelah konsesi diberikan? Yang jelas, isu ini telah membuka mata banyak pihak bahwa integritas ujian bukan sekadar masalah teknis, melainkan menyangkut keadilan sosial dan legitimasi negara.



