Mascot Osaka Expo Myaku-Myaku Masih Bisa Dijumpai, Ini Lokasinya
Baca dalam 60 detik
- Tiga monumen Myaku-Myaku dari Osaka Expo 2025 kini dipajang di sejumlah lokasi di Prefektur Osaka hingga akhir Agustus.
- Pemerintah prefektur menggandeng destinasi wisata seperti Dotonbori untuk menjaga animo pengunjung pasca-pameran.
- Rencana tur keliling ini membuka peluang bagi wisatawan, termasuk dari Indonesia, untuk menikmati sisa kemeriahan Expo.

Lebih dari setahun setelah Osaka Expo 2025 resmi ditutup, maskot ikoniknya, Myaku-Myaku, masih bisa ditemui di berbagai sudut Prefektur Osaka. Pemerintah setempat sengaja melanjutkan pameran keliling tiga monumen raksasa karakter tersebut untuk menjaga denyut pariwisata regional pasca-ajang internasional yang berlangsung enam bulan itu.
Ketiga monumen itu sebelumnya menjadi daya tarik utama di area pameran. "Irasshai", yang menyambut pengunjung di Gerbang Timur dengan pose membungkuk, memiliki tinggi sekitar 3,8 meter dan lebar 3,4 meter. Sementara "Wakuwaku", yang menggambarkan kegembiraan dengan kedua tangan terbuka lebar, berdiri di Gerbang Barat dengan ukuran 3,8 meter kali 2,7 meter. Satu lagi, monumen berpose santai berbaring, ditempatkan di Wind Plaza dekat Gerbang Barat dengan dimensi 2,5 meter kali 4 meter.
Keputusan memperpanjang pameran bukan tanpa alasan. Osaka Expo mencatat lebih dari 25 juta kunjungan selama penyelenggaraannya, dan popularitas Myaku-Myaku disebut menjadi salah satu faktor kesuksesan tersebut. Pemerintah prefektur pun memanfaatkan momentum ini untuk menggerakkan ekonomi lokal dan mendorong wisata ke daerah-daerah di sekitar Osaka.
Sejak Juli, monumen "Irasshai" telah dipajang di kawasan hiburan Dotonbori, pusat wisata terkenal di Osaka. Di sana, pengunjung juga bisa membeli merchandise eksklusif Myaku-Myaku dan takoyaki berbentuk maskot tersebut. Monumen ini akan bertahan hingga akhir Agustus, kemudian pindah ke depan Stasiun Fuku milik Hanshin Electric Railway pada 4 September. Sementara itu, "Wakuwaku" dapat disaksikan di Sennan Long Park hingga akhir bulan ini, sebelum dipindahkan ke Chihaya Park di desa Chihayaakasaka pada September. Adapun monumen berbaring masih berada di Asia and Pacific Trade Center, Suminoe Ward, untuk sementara waktu.
Bagi wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia, ini menjadi kesempatan untuk merasakan atmosfer Expo tanpa harus hadir saat acara berlangsung. Jepang memang menjadi salah satu destinasi favorit turis Indonesia, dan kehadiran maskot yang menggemaskan ini bisa menjadi daya tarik tambahan untuk berkeliling Prefektur Osaka. Dengan infrastruktur transportasi yang memadai, mengunjungi lokasi-lokasi pameran ini bisa menjadi agenda wisata yang menarik.
Langkah pemerintah Osaka ini juga menjadi contoh bagaimana sebuah ajang internasional bisa meninggalkan warisan abadi bagi pariwisata lokal. Alih-alih membiarkan monumen menganggur, mereka justru mengubahnya menjadi aset promosi yang hidup. Pertanyaannya, akankah strategi serupa diadopsi oleh penyelenggara acara besar di Indonesia, seperti PON atau event internasional lainnya, untuk menjaga dampak ekonomi jangka panjang? Waktu yang akan menjawab.



