Ghibli Park Siapkan Wahana Baru Bertema Nausicaa, Anggaran Awal Capai Rp38 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Prefektur Aichi mengumumkan pembangunan fasilitas baru di Ghibli Park yang terinspirasi dari film 'Nausicaa of the Valley of the Wind'.
- Proyek tahap ketiga ini akan menelan biaya awal sekitar 380 juta yen untuk studi konsep dan survei geologi, dengan total biaya belum diputuskan.
- Langkah ini diharapkan memperkuat daya tarik Ghibli Park sebagai destinasi wisata budaya, sekaligus menjadi pelajaran bagi pengembangan taman bertema di Indonesia.

Prefektur Aichi, Jepang, resmi mengumumkan pembangunan fasilitas baru di Ghibli Park yang akan mengangkat dunia film animasi legendaris, Nausicaa of the Valley of the Wind. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Gubernur Aichi, Hideaki Omura, dalam konferensi pers pada 7 Agustus lalu, menandai babak baru pengembangan taman hiburan yang selama ini identik dengan karya-karya Studio Ghibli.
Ghibli Park yang berlokasi di Nagakute, Aichi, pertama kali membuka gerbangnya untuk publik pada November 2022. Sejak saat itu, taman ini telah melalui dua fase pengembangan. Fase pertama menghadirkan Grand Warehouse, Hill of Youth, dan Dondoko Forest, sementara fase kedua menyusul dengan Mononoke Village pada November 2023 dan Valley of Witches pada Maret 2024. Kini, fase ketiga akan menjadi momentum berikutnya dengan hadirnya wahana bertema Nausicaa.
Fasilitas baru ini direncanakan berdiri di dekat plaza pintu masuk barat Expo 2005 Aichi Commemorative Park, lokasi yang sama dengan Ghibli Park. Meski jadwal pembukaan belum ditentukan, pemerintah prefektur telah mengalokasikan dana awal sebesar 380 juta yen atau sekitar Rp38 miliar untuk penyusunan konsep dasar, desain awal, dan survei geologi. Adapun total biaya proyek secara keseluruhan masih dalam tahap finalisasi.
Gubernur Omura menyambut positif proyek ini, menilai bahwa Nausicaa of the Valley of the Wind memiliki daya tarik kuat di kalangan penggemar. "Ini akan menjadi konten yang powerful," ujarnya, seperti dikutip dari Mainichi Shimbun. Optimisme ini tidak berlebihan mengingat film yang dirilis pada 1984 tersebut dianggap sebagai salah satu karya penting yang membentuk reputasi Studio Ghibli di kancah animasi dunia.
Langkah Aichi ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di tengah tren pengembangan kawasan wisata bertema, kehadiran Ghibli Park menunjukkan bagaimana warisan budaya populer dapat dikapitalisasi menjadi destinasi kelas dunia. Indonesia sendiri memiliki potensi besar dengan kekayaan cerita rakyat dan budaya yang bisa diangkat. Namun, tantangan utamanya adalah konsistensi kualitas dan pengelolaan yang matang, seperti yang ditunjukkan Jepang melalui pendekatan bertahap dan perencanaan yang detail.
Bagi para penggemar Ghibli di Indonesia, kabar ini tentu menjadi angin segar. Namun, perlu diingat bahwa akses ke Jepang masih memerlukan biaya yang tidak sedikit. Alternatifnya, Indonesia dapat belajar dari model pengembangan Ghibli Park untuk menciptakan destinasi serupa yang mengangkat kearifan lokal. Pertanyaannya, mampukah Indonesia menghadirkan taman bertema yang tidak hanya menghibur, tetapi juga bernilai edukatif dan budaya, seperti yang ditawarkan Ghibli Park?



