Harga Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Pembukaan Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI kompak naik lebih dari satu persen pada awal pekan, dipicu spekulasi kesepakatan Iran-Oman soal jalur pelayaran baru.
- Ketidakpastian masih menyelimuti karena AS belum memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Iran, membuat pasar energi bergerak hati-hati.
- Normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi menekan biaya logistik global, termasuk harga energi yang diimpor Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Senin (10/8) di tengah kabar bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Meski demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian karena Amerika Serikat disebut belum memenuhi sejumlah persyaratan lain yang diajukan Teheran.
Brent crude tercatat naik 1,44 persen menjadi 84,79 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,08 persen ke level 79,29 dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati setiap perkembangan diplomatik di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Selat Hormuz memang bukan sekadar nama geografis. Setiap gangguan di sana langsung berimbas pada harga energi global, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik. Jika kesepakatan Iran-Oman terealisasi, risiko gangguan pasokan bisa berkurang, tetapi jika negosiasi buntu, bukan tidak mungkin harga akan kembali merangkak naik.
Dari sisi fundamental, pasar juga tengah menimbang dampak kebijakan moneter AS dan perlambatan ekonomi China. Namun, fokus utama saat ini tetap pada dinamika geopolitik Timur Tengah. Analis menilai bahwa pergerakan harga minyak pekan ini akan sangat ditentukan oleh sinyal konkret dari Washington dan Teheran, bukan sekadar pernyataan diplomatik.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia selalu menjadi perhatian serius. Setiap kenaikan harga berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan anggaran subsidi energi. Pemerintah pun biasanya merespons dengan menyesuaikan harga BBM atau mencari sumber pasokan alternatif. Namun, dalam jangka pendek, ruang untuk bermanuver tetap terbatas karena ketergantungan impor masih tinggi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Selat Hormuz akan dibuka kembali, tetapi seberapa cepat dan dengan syarat apa. Jika kesepakatan tercapai, pasar mungkin akan merespons positif, tetapi jika ada hambatan baru, volatilitas harga diperkirakan akan berlanjut. Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipasi, baik melalui diversifikasi impor maupun penguatan cadangan strategis.



