Wigan Warriors Hancurkan St Helens di Laga Perdana Super Four: Sinyal Dominasi Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Wigan Warriors memulai era Super Four dengan kemenangan telak 9 try atas St Helens, mempertahankan rekor sempurna musim ini.
- Format baru Super Four memecah liga menjadi dua grup setelah tujuh putaran, dengan enam pertandingan tersisa untuk menentukan finalis.
- Dominasi Wigan menegaskan status mereka sebagai kandidat kuat juara, sementara St Helens harus berbenah untuk bersaing di sisa musim.

Wigan Warriors membuka babak baru kompetisi Super League wanita dengan pesta kemenangan telak atas rival abadi mereka, St Helens, dalam laga perdana format Super Four yang digelar di BrewDog Stadium. Dengan skor akhir yang mencerminkan superioritas mutlak, tim asuhan Denis Betts itu menegaskan diri sebagai kandidat terkuat juara musim 2026.
Kemenangan ini merupakan yang kelima beruntun bagi Wigan atas St Helens dalam setahun terakhir, termasuk kemenangan 54-6 di final Challenge Cup di Wembley. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana mereka mendominasi pertandingan sejak menit awal, mencetak try dari set pertama melalui kesalahan pemain belakang muda St Helens, Liv Leach, yang gagal mengamankan tendangan tinggi. Insiden itu langsung dimanfaatkan Ellise Derbyshire untuk mencetak try pembuka.
Keunggulan Wigan semakin telak setelah Eva Hunter, yang dinobatkan sebagai Woman of Steel, memamerkan kemampuan individu luar biasa dengan menerima bola di area sendiri dan melewati beberapa pemain bertahan sebelum mencetak try spektakuler. St Helens semakin terpuruk ketika Leach harus ditarik keluar karena cedera, dan pada menit ke-15, Anna Davies menambah keunggulan setelah menerima umpan silang indah dari Izzy Rowe. Derbyshire dan Hunter masing-masing menambah try kedua mereka, meskipun akurasi tendangan konversi Rowe yang kurang sempurna mencegah skor menjadi lebih telak sebelum turun minum.
St Helens sempat mencetak try hiburan melalui Luci McColm menjelang akhir babak pertama, namun itu hanya menjadi pengecualian di tengah dominasi Wigan. Setelah jeda, Wigan kembali menggencarkan serangan. Molly Jones, yang baru pulih dari cedera lutut, langsung mencetak try pada penampilan pertamanya musim ini. Di kuarter akhir, Remi Wilton, Jenna Foubister, dan Mary Coleman bergantian mencatatkan nama di papan skor, menutup pertandingan dengan kemenangan sembilan try berbanding satu.
Laga ini menjadi ujian perdana bagi format Super Four yang baru diperkenalkan musim ini. Setelah tujuh putaran awal di mana setiap tim saling berhadapan sekali, liga dibagi menjadi dua kelompok: empat besar dan empat bawah. Seluruh poin yang telah dikumpulkan tetap dibawa, dan kini setiap tim akan menjalani enam pertandingan tambahan melawan tiga tim lain di grup mereka, dengan sistem kandang-tandang. Tujuannya jelas: mempertemukan tim-tim terbaik lebih sering untuk meningkatkan intensitas dan daya saing.
Bagi Wigan, hasil ini mempertegas status mereka sebagai tim yang harus dikalahkan. Namun, di balik dominasi tersebut, ada pertanyaan besar: mampukah tim lain mengejar ketertinggalan? St Helens, yang tampil di hadapan pendukung sendiri, menunjukkan bahwa mereka belum mampu bersaing di level tertinggi. Sementara itu, di grup bawah (Shield), tim yang finis di posisi terbawah akan menghadapi juara National Championship untuk memperebutkan satu tempat di Super League musim 2027.
Bagi pengamat rugby Indonesia, dominasi Wigan ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan pemain muda dan konsistensi performa. Meski rugby league belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan kompetisi wanita di Inggris bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan olahraga serupa di Indonesia, terutama dalam hal profesionalisme dan struktur liga yang kompetitif.
Dengan enam pertandingan tersisa, pertanyaan besarnya adalah: akankah ada tim yang mampu memecah dominasi Wigan, atau justru semakin mempertegas era keemasan mereka? Semua akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan.



