James Hardie Naikkan Proyeksi Laba, Saham Melonjak ke Level Tertinggi Setahun
Baca dalam 60 detik
- Produsen fiber semen global James Hardie merevisi naik target EBITDA 2027 menjadi US$1,54โ1,63 miliar, didorong sinergi akuisisi AZEK dan efisiensi pabrik.
- Saham perusahaan yang terdaftar di bursa Australia sempat melesat 5,4% pada pembukaan perdagangan, kontras dengan pelemahan indeks pasar.
- Kenaikan ini lebih disebabkan faktor internal seperti integrasi AZEK dan strategi pasar, bukan pemulihan fundamental di sektor konstruksi AS.

Produsen bahan bangunan asal Irlandia, James Hardie, mengejutkan pasar dengan merevisi naik proyeksi laba tahun fiskal 2027, mendorong harga sahamnya di bursa Australia menyentuh level tertinggi dalam hampir satu tahun. Langkah ini dipicu oleh sinergi dari akuisisi AZEK, efisiensi manufaktur, serta permintaan yang membaik pada lini bisnis fiber semen warisan perusahaan.
Pada Jumat (7/8), perusahaan melaporkan laba bersih yang disesuaikan untuk kuartal pertama melonjak 54% menjadi US$209,3 juta, dibandingkan US$136,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Saham James Hardie yang terdaftar di ASX langsung merespons positif, menguat hingga 5,4% pada pembukaan perdagangan, sementara indeks pasar acuan justru melemah 0,4%. Lonjakan ini menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap strategi perusahaan di tengah kondisi industri yang masih penuh tantangan.
Divisi Siding & Trim, yang menjadi penyumbang laba terbesar James Hardie, sempat tertekan sepanjang tahun lalu akibat keterbatasan daya beli konsumen di Amerika Serikat yang memperlambat aktivitas konstruksi baru dan membuat persediaan distributor menumpuk. Namun, alih-alih menunggu pemulihan pasar, manajemen justru mengandalkan faktor internal. Kepala Keuangan Ryan Lada menjelaskan bahwa kenaikan proyeksi ini berasal dari sinergi integrasi AZEK, perbaikan biaya produksi, serta strategi pemasaran yang lebih agresif.
Perusahaan yang juga beroperasi di Indonesia melalui anak usahanya ini kini menargetkan EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2027 sebesar US$1,54 miliar hingga US$1,63 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya yang berkisar US$1,45โ1,50 miliar. Selain itu, proyeksi penjualan bersih juga dinaikkan menjadi US$5,56โ5,72 miliar dari sebelumnya US$5,25โ5,41 miliar. Angka-angka ini menunjukkan optimisme manajemen terhadap kemampuan perusahaan dalam meningkatkan pangsa pasar, meskipun kondisi ekonomi global masih belum stabil.
Esther Holloway, analis ekuitas di Morningstar, menilai bahwa James Hardie telah membuktikan kemampuannya meraih pangsa pasar bahkan di masa lemah selama beberapa dekade. "Mereka mampu mengambil pangsa pasar dari jenis siding lain," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pasar sempat kehilangan fokus pada kekuatan ini karena kebisingan seputar akuisisi AZEK. Akuisisi senilai US$8,75 miliar pada 2025 memang sempat memicu kontroversi, terutama karena perusahaan mendapatkan keringanan dari Bursa Efek Australia sehingga tidak perlu menggelar pemungutan suara pemegang saham. Kontroversi ini bahkan berujung pada pergantian jajaran direksi, termasuk pemecatan Ketua Anne Lloyd.
Holloway juga memberi catatan hati-hati. "Penghematan awal sering kali merupakan buah yang mudah dipetik, tetapi mencapainya bisa lebih sulit dari sini," katanya. Meski target penghematan biaya dan penjualan silang berjalan sesuai rencana, tantangan ke depan tetap ada. Pada kuartal pertama, penjualan divisi Siding & Trimโyang mencakup operasi warisan di Amerika Utara dan produk eksterior AZEKโmelonjak 34%. Jika tidak termasuk AZEK, penjualan organik divisi tersebut naik 20%, seiring normalisasi persediaan distributor dan peningkatan permintaan yang mendorong volume fiber semen di Amerika Utara kembali tumbuh.
Bagi pasar Indonesia, kabar ini relevan mengingat James Hardie juga memiliki basis produksi di Tanah Air melalui PT James Hardie Indonesia. Meski fokus utama perusahaan adalah pasar Amerika Utara, strategi efisiensi dan inovasi produk yang dijalankan dapat berdampak pada kualitas dan harga produk fiber semen yang dijual di Indonesia. Selain itu, tren perbaikan sektor konstruksi di AS bisa menjadi indikator bagi industri bahan bangunan global, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk sebagian kebutuhan material.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah James Hardie mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah potensi perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga. Dengan proyeksi yang dinaikkan, perusahaan tampaknya optimistis, tetapi para analis akan mencermati apakah sinergi AZEK benar-benar memberikan nilai jangka panjang atau hanya efek jangka pendek. Jika berhasil, James Hardie bisa menjadi contoh bagaimana perusahaan manufaktur bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian.



