Gagalnya Skema Investasi Piala Dunia: Posisi Infantino di FIFA Kini Terancam
Baca dalam 60 detik
- Rencana FIFA menjual 20% saham entitas komersial turnamen menuai penolakan UEFA dan AFC, memaksa Infantino menarik gagasan tersebut.
- Kegagalan ini memicu pengunduran diri penasihat senior dan tuntutan reformasi institusional, memperlemah posisi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA.
- Dampaknya berpotensi mengubah arah kebijakan FIFA dan memengaruhi distribusi dana kepada federasi nasional, termasuk Indonesia.

Gianni Infantino, presiden FIFA yang selama ini nyaris tak tersentuh, mengalami pukulan telak pekan ini. Rencana ambisiusnya untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta harus dibatalkan setelah memicu gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia. Langkah ini tidak hanya mengancam otoritasnya, tetapi juga membuka peluang munculnya penantang dalam pemilihan presiden FIFA mendatang.
FIFA resmi mengumumkan penarikan proposal pembentukan entitas komersial yang akan mengelola Piala Dunia dan turnamen lainnya, dengan 20 persen sahamnya ditawarkan kepada investor. Keputusan ini diambil setelah tiga hari ketegangan yang memuncak ketika UEFA, konfederasi terkaya dan paling berpengaruh, mengancam boikot seluruh ajang FIFA. Bagi Infantino, ini adalah kekalahan telak yang terjadi kurang dari dua pekan setelah Piala Dunia 2026 yang secara finansial menjadi yang paling sukses dalam sejarah.
Rencana ini dianggap sebagai proyek pribadi Infantino. Beberapa orang terdekatnya bahkan ikut menjauh. Carlos Cordeiro, penasihat senior FIFA, mengundurkan diri sebagai bentuk protes, sementara COO FIFA, Kevin Lamour, menuduh staf telah 'dibohongi' dan menyebut proposal itu sebagai 'proyek satu orang'. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pun menyebut langkah ini 'sama sekali tidak dapat diterima' dan mendesak adanya reformasi institusional di FIFA.
Kegagalan ini menyoroti gaya kepemimpinan Infantino yang sering kali kontroversial. Sebelumnya, ia pernah mundur dari rencana investasi senilai 25 miliar dolar AS untuk Piala Dunia Antarklub pada 2018 setelah mendapat tentangan keras dari UEFA. Ia juga pernah menuai kritik atas pembelaannya terhadap Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 dan pidatonya yang dianggap aneh sebelum turnamen. Namun, kali ini, lawannya bukan hanya UEFA, tetapi juga persepsi publik yang menilai ia terlalu dekat dengan kekuasaan politik, terutama dengan mantan Presiden AS Donald Trump.
Keterlibatan Thrive Capital, perusahaan yang didirikan oleh Joshua Kushner, ipar Trump, sebagai calon investor utama semakin memperkeruh suasana. Selama Piala Dunia, Trump bahkan sempat meminta Infantino untuk membatalkan sanksi kartu merah pemain AS, Folarin Balogun. Meski akhirnya diizinkan bermain, insiden ini memperkuat dugaan adanya intervensi politik dalam urusan sepak bola. Analis pemasaran olahraga Bob Dorfman menilai, "Tidak membantu bahwa ada Kushner yang terlibat dalam semua ini. Terutama apa yang terjadi selama Piala Dunia dengan Balogun dan Trump. Memiliki kerabat Trump yang terlibat hanya membuat segalanya menjadi lebih buruk."
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai salah satu dari 211 federasi nasional yang akan memberikan suara dalam pemilihan presiden FIFA, PSSI memiliki kepentingan langsung terhadap arah kebijakan FIFA. Banyak federasi, termasuk Indonesia, sangat bergantung pada dana pembangunan dari FIFA. Jika Infantino jatuh, kebijakan pendanaan bisa berubah, memengaruhi program pengembangan sepak bola di tanah air. Selain itu, ketidakstabilan di pucuk pimpinan FIFA dapat berdampak pada peluang Indonesia dalam berbagai turnamen internasional dan proses naturalisasi pemain.
Meski posisinya melemah, Infantino masih memiliki peluang untuk bertahan. Ia hanya membutuhkan dua pertiga suara pada putaran pertama atau mayoritas sederhana pada putaran berikutnya untuk memperpanjang masa jabatannya hingga 2031. Namun, untuk itu, ia mungkin perlu mengubah sikapnya. Dorfman menyarankan, "Saya tahu itu bukan gayanya, tetapi mungkin dia harus mulai meminta maaf sedikit dan berkata: 'Mungkin saya salah menangani ini'."
Pertanyaannya sekarang, apakah Infantino mampu bangkit dari keterpurukan ini, atau justru menjadi presiden FIFA pertama yang gagal mempertahankan kursinya setelah sukses besar Piala Dunia? Jawabannya akan menentukan masa depan tata kelola sepak bola global, termasuk nasib federasi-federasi kecil yang selama ini bergantung pada patronase FIFA.



