Ucapan Duka Del Piero untuk Baresi: '39 Kali Terima Kasih' dan Kenangan Heysel yang Tak Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Alessandro Del Piero mengenang Franco Baresi dengan frasa '39 kali terima kasih', merujuk pada tragedi Heysel 1985 yang menewaskan 39 pendukung Juventus.
- Pada 1990, Baresi secara diam-diam meletakkan 39 mawar merah di Stadion Heysel sebagai penghormatan pribadi, sebuah gestur yang kemudian dibalas dengan spanduk dari fans Juventus.
- Ucapan Del Piero menegaskan bahwa Baresi dikenang tidak hanya sebagai bek legendaris, tetapi juga sebagai simbol sportivitas yang melampaui rivalitas.

Banjir belasungkawa mengiringi kepergian Franco Baresi, legenda AC Milan yang wafat pada Jumat lalu. Di antara ribuan pesan duka, satu untaian kata dari Alessandro Del Piero menonjol dan menggugah emosi publik Italia. Kapten legendaris Juventus itu menutup salam perpisahannya dengan kalimat yang bagi sebagian orang terdengar seperti kode rahasia: “39 kali terima kasih. Para penggemar Juventus akan mengerti.”
Frasa itu, seperti diungkapkan La Gazzetta dello Sport, membangkitkan kembali salah satu momen penghormatan lintas rivalitas paling kuat dalam sejarah sepak bola Italia. Del Piero, yang juga dikenal sebagai simbol kesetiaan klub, menulis, “Terima kasih Franco atas semua yang kau ajarkan kepada kami, di dalam dan di luar lapangan, dengan karier legendariumu. Ikon klub adalah selamanya.” Namun, di balik kata-kata itu, tersimpan kisah kemanusiaan yang mengharukan.
Kisah itu bermula pada 7 Maret 1990, ketika AC Milan bertanding melawan Mechelen pada leg pertama perempat final Piala Champions di Stadion Heysel, Brussel. Beberapa jam sebelum laga, Baresi bersama direktur Milan, Paolo Taveggia, berjalan menuju bekas Sektor Z, tribun yang menjadi saksi bisu tragedi 29 Mei 1985. Saat itu, 39 pendukung, mayoritas fans Juventus, tewas dalam kerusuhan sebelum final Piala Champions melawan Liverpool. Milan sebenarnya ingin menggelar peringatan resmi, tetapi otoritas Belgia menolak izin.
Tanpa upacara, tanpa sorot kamera, Baresi meletakkan sebuket 39 mawar merah di kaki tribun, satu untuk setiap korban. Gestur itu murni inisiatif pribadinya, sebuah aksi kemanusiaan dari kapten rival terbesar Juventus di lokasi duka terdalam mereka. Aksi ini menjadi bukti bahwa sepak bola tidak selalu tentang permusuhan, tetapi juga tentang rasa hormat yang melampaui batas klub.
Kabar tentang gestur Baresi akhirnya sampai ke Turin. Pada laga kandang Juventus berikutnya di Stadio Comunale, tribun curva menjawab dengan spanduk yang hingga kini membekas di memori kolektif: “Baresi, 39 volte grazie” — “Baresi, 39 kali terima kasih.” Spanduk itu bukan sekadar balasan, melainkan simbol rekonsiliasi antara dua kubu yang kerap berseteru.
Kini, 36 tahun kemudian, Del Piero yang juga merupakan bandiera Juventus, memilih kata-kata yang sama untuk mengucapkan selamat tinggal. Dalam pesannya, ia tidak hanya mengenang Baresi sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa, tetapi juga sebagai pribadi yang kehormatannya melampaui rivalitas. “Terima kasih Franco atas apa yang kau ajarkan kepada kami, di dalam dan di luar lapangan, dengan karier legendariumu. Sebuah ikon klub adalah selamanya,” tulisnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengajarkan bahwa rivalitas di lapangan tidak menghalangi rasa hormat antarpemain. Di tengah gempuran rivalitas yang kerap memanas, aksi Baresi menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan selalu lebih tinggi dari sekadar kemenangan. Momen seperti ini juga relevan dengan budaya suporter di Indonesia yang dikenal fanatik, namun tetap bisa menjunjung sportivitas.
Ke depan, pertanyaannya adalah: akankah generasi pemain masa kini meniru jejak Baresi dan Del Piero dalam menunjukkan solidaritas lintas klub? Atau justru rivalitas semakin mengikis nilai-nilai luhur sepak bola? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: warisan Baresi akan terus hidup, tidak hanya di Milan, tetapi di hati semua pecinta sepak bola, termasuk di Indonesia.



