Italia Berduka: Franco Baresi, Legenda yang Tak Pernah Pergi
Baca dalam 60 detik
- Kepergian Franco Baresi pada usia 66 tahun memicu gelombang duka nasional, dengan tiga koran olahraga utama Italia kompak memberi penghormatan di halaman depan.
- Warisan Baresi melampaui 21 trofi; ia dikenang sebagai simbol loyalitas, kepemimpinan, dan kemanusiaan, termasuk aksi menangis di final Piala Dunia 1994 dan mawar merah untuk korban Heysel.
- Pemakaman akan digelar Selasa 4 Agustus di Basilika Sant'Ambrogio, Milan, sementara FIGC memerintahkan mengheningkan cipta di semua laga persahabatan akhir pekan ini.

Italia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Franco Baresi, bek legendaris AC Milan dan tim nasional Italia, meninggal dunia pada Jumat lalu di usia 66 tahun. Kabar ini langsung menyelimuti seluruh negeri dengan duka mendalam, dan tiga harian olahraga terbesar Italia—La Gazzetta dello Sport, Corriere dello Sport, dan Tuttosport—serentak menjadikan sosoknya sebagai sampul utama edisi Sabtu. Bukan sekadar berita kematian, melainkan sebuah penghormatan terakhir untuk seorang kapten sejati yang telah menjadi ikon sepak bola dunia.
La Gazzetta dello Sport, dengan foto Baresi mengangkat trofi Piala Eropa, memberi judul "Mio Capitano"—Kapten Saya. Koran berwarna merah muda itu menyebut kepergian Baresi sebagai kehilangan "raksasa". Julukan masa kecilnya, "il Piscinin" (si kecil), bertransformasi menjadi kolosus yang memenangkan segalanya, namun tetap setia membela Milan bahkan ketika klubnya terdegradasi ke Serie B. Di dalam halamannya, berbagai testimoni mengalir dari orang-orang terdekatnya: Fabio Capello yang pernah menjadi pelatihnya, Christian Panucci yang pernah menjadi rekan setimnya, hingga Gianni Rivera, legenda Rossoneri lainnya. Kolom-kolom khusus dari Luigi Garlando dan Beppe Bergomi turut mewarnai edisi tersebut.
Corriere dello Sport mengusung judul "6 per sempre"—Enam Selamanya—merujuk pada nomor punggung 6 yang telah dipensiunkan Milan untuk menghormatinya. Di bawah tajuk "Addio capitano", harian ini memuji Baresi sebagai "keanggunan yang menjadi legenda" dan melaporkan bahwa sepak bola Italia "menangis", kehilangan "detak jantung kita". Koran ini juga menelusuri perjalanan hidup Baresi yang dihiasi 21 trofi, mulai dari Piala Dunia 1982 hingga tiga Piala Eropa di bawah asuhan Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Alessandro Costacurta, partner duet pertahanan yang lama, mengenang bagaimana Baresi "tahu cara memimpin melalui perilakunya".
Sementara itu, Tuttosport dari Turin memilih judul sederhana namun sarat makna: "Un capitano", dengan mencantumkan rentang tahun 1960-2026 dan foto Baresi bersama trofi Piala Eropa. Penghormatan dari harian ini melampaui sekadar daftar prestasi. Mereka menyoroti momen-momen yang mendefinisikan karakter Baresi: keberaniannya menahan air mata di final Piala Dunia 1994 di Pasadena, serta 39 mawar merah yang ia tabur untuk mengenang korban tragedi Heysel. Tindakan itu membuatnya dijuluki "juara kemanusiaan".
Kepergian Baresi juga membawa detail rencana perpisahan terakhir. Pemakaman akan digelar pada Selasa, 4 Agustus, pukul 11.00 waktu setempat di Basilika Sant'Ambrogio, Milan. Skuad AC Milan dipastikan tidak dapat hadir karena sedang menjalani tur pramusim di luar kota. Sementara itu, presiden FIGC, Giovanni Malagò, telah menginstruksikan mengheningkan cipta selama satu menit sebelum setiap pertandingan persahabatan yang digelar di Italia pada akhir pekan ini. Ini adalah bentuk penghormatan nasional yang layak bagi seorang legenda.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, Baresi adalah salah satu nama yang akrab di telinga, terutama bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an. Ia adalah simbol dari bek modern: tidak hanya galak dalam bertahan, tetapi juga elegan dalam membangun serangan. Loyalitasnya pada satu klub, AC Milan, menjadi pelajaran berharga di tengah maraknya pemain yang berpindah-pindah klub demi uang. Kisah Baresi mengingatkan kita bahwa kesetiaan dan dedikasi masih memiliki tempat di dunia sepak bola yang semakin komersial.
Warisan Baresi tidak akan pernah pudar. Ia akan selalu dikenang sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa, pemimpin yang tenang namun berwibawa, dan manusia yang rendah hati di luar lapangan. Pertanyaannya kini, akankah ada lagi sosok seperti Baresi di era sepak bola modern yang serba cepat dan penuh tekanan? Atau justru kita harus merayakan bahwa kita pernah menyaksikan kehebatannya?



