Cedera Pergelangan Tangan Mengancam Karier Alcaraz: 114 Hari Absen dan US Open di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat dua dunia itu telah absen 114 hari akibat tenosinovitis, memaksanya melewatkan Prancis Terbuka dan Wimbledon.
- Cedera ini tidak hanya mengancam peluangnya mempertahankan gelar AS Terbuka, tetapi juga berpotensi menjadi masalah kronis yang menghambat performa jangka panjang.
- Dengan jadwal padat dan tuntutan fisik yang meningkat, kasus Alcaraz menjadi peringatan bagi petenis muda lainnya, termasuk di Indonesia, tentang risiko cedera pergelangan tangan.

Carlos Alcaraz, petenis muda Spanyol yang baru saja menyelesaikan Grand Slam karier di usia 22 tahun, kini menghadapi ujian terbesar dalam kariernya. Cedera pergelangan tangan yang dideritanya sejak April telah memaksanya absen selama 114 hari, melewatkan Prancis Terbuka dan Wimbledon, serta membuat statusnya sebagai juara bertahan AS Terbuka menjadi tanda tanya besar.
Alcaraz terakhir kali bertanding di Barcelona Open pada April lalu, di mana ia menang di babak pertama namun harus mundur karena rasa sakit yang tak tertahankan. Diagnosisnya: tenosinovitis, peradangan pada selubung tendon di pergelangan tangan. Kondisi ini sering dipicu oleh gerakan repetitif seperti memegang dan mengayunkan raket, dan bisa membutuhkan waktu pemulihan berbulan-bulan hingga setahun dalam kasus yang parah.
Kehilangan dua Grand Slam berturut-turut adalah pukulan telak bagi pemain yang sebelumnya tampil dominan. Sebelum cedera, Alcaraz memenangkan dua gelar Grand Slam per tahun, sebuah laju yang jika dipertahankan akan menyamai rekor 24 gelar Novak Djokovic pada 2034. Namun, cedera pergelangan tangan memiliki karakteristik yang berbeda dari cedera lain. Richard Krajicek, juara Wimbledon 1996, menegaskan bahwa cedera ini jauh lebih sulit ditangani. "Tidak semudah cedera ligamen pergelangan kaki yang bisa diprediksi waktu pemulihannya," ujarnya.
Fisioterapis James Ross, yang menangani pemain di turnamen Grand Slam, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi raket dan senar membuat bola datang lebih cepat, meningkatkan beban pada pergelangan tangan. Jadwal turnamen yang semakin padat juga menambah risiko. "Cedera pergelangan tangan menjadi semakin signifikan dalam permainan modern," katanya. Hal ini diperparah oleh fakta bahwa pergelangan tangan memiliki sedikit otot pelindung dan suplai darah yang terbatas, sehingga proses penyembuhannya lambat dan rentan kambuh.
Selain aspek fisik, ada beban psikologis yang berat. Andy Murray, yang pernah mengalami cedera serupa, mengakui bahwa rasa sakit awal sulit dilupakan secara mental. "Sulit untuk kembali percaya pada pergelangan tangan Anda setelah cedera," ujarnya. Bagi Alcaraz, yang mengandalkan kelincahan dan sentuhan halus untuk drop shot, kepercayaan diri menjadi kunci.
Bagi Indonesia, kasus Alcaraz menjadi pelajaran berharga. Petenis muda Indonesia yang bercita-cita menembus level internasional harus memperhatikan manajemen beban latihan dan jadwal turnamen. Cedera pergelangan tangan bisa menjadi mimpi buruk yang mengakhiri karier, seperti yang dialami Dominic Thiem dan Juan Martin Del Potro. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) dan pelatih lokal perlu menekankan pentingnya pencegahan cedera sejak dini, termasuk penguatan otot-otot pendukung dan teknik yang benar.
Alcaraz kini berlatih di Murcia, Spanyol, dengan rambut yang semakin panjang. Ia mulai berlatih dengan raket tanpa senar sebelum beralih ke latihan normal. Namun, kembalinya ke kompetisi masih membutuhkan waktu berminggu-minggu. Jika ia tampil di AS Terbuka, ia akan membawa beban hampir lima bulan tanpa pertandingan. Jika tidak, ia akan melewatkan tiga Grand Slam berturut-turut, sebuah kemunduran yang jarang dialami petenis top modern.
Pertanyaannya sekarang: mampukah Alcaraz kembali ke performa terbaiknya, atau akankah cedera ini menjadi awal dari kemunduran seperti yang dialami pendahulunya? Dengan tekanan untuk mempertahankan peringkat dan memenuhi ekspektasi publik, keputusan untuk kembali terlalu cepat bisa menjadi bumerang. Yang jelas, dunia tenis menunggu dengan napas tertahan.



