Alexandra Eala Ukir Sejarah: Petenis Filipina Pertama Juara WTA, Dukungan Publik Mengalir Deras
Baca dalam 60 detik
- Eala menaklukkan Jessica Pegula di final Washington Open, mencatatkan namanya sebagai juara WTA pertama dari Filipina.
- Kemenangan ini menegaskan kebangkitan tenis Asia Tenggara, dengan Eala disebut sebagai 'masa depan tur' oleh lawannya.
- Dengan US Open di depan mata, performa Eala menjadi sorotan utama dan potensi ancaman bagi unggulan top.

Alexandra Eala menangis di lapangan saat poin kemenangan dipastikan wasit. Petenis berusia 21 tahun itu baru saja menaklukkan Jessica Pegula, peringkat tiga dunia, di final Washington Open, Senin (4/8/2025) waktu setempat. Kemenangan ini bukan sekadar gelar, melainkan sejarah: Eala menjadi petenis putri pertama dari Filipina yang merebut titel WTA.
Partai final yang sempat tertunda karena hujan ini menyajikan drama tersendiri. Eala sempat kehilangan set pertama sebelum akhirnya bangkit dan hanya kehilangan tiga game setelah laga dilanjutkan pada hari Senin. Kemenangan ini terasa istimewa karena ia harus melewati tiga unggulan teratas, termasuk Naomi Osaka di semifinal. "Untuk komunitas Filipina di DC dan di rumah, di mana pun kalian berada, saya benar-benar merasakan cinta kalian," ujar Eala usai laga, seperti dikutip BBC.
Dukungan untuk Eala memang luar biasa. Lebih dari 75.000 orang Filipina tinggal di Washington, dan jutaan lainnya di Amerika Serikat diprediksi akan menyaksikan penampilannya di US Open akhir Agustus nanti. Bahkan Pegula, lawannya, mengakui atmosfer penonton final Senin itu adalah yang terbaik yang pernah ia lihat. "Saya yakin sebagian orang mengambil cuti kerja. Saya tidak akan bilang ke atasan kalian," canda Pegula.
Perjalanan Eala menuju puncak tidak instan. Ia mulai bermain tenis di usia empat tahun, lalu bergabung dengan akademi Rafael Nadal. Ia bahkan sempat berlatih dengan juara 22 Grand Slam tersebut dan lulus pada 2023 dengan ijazah diserahkan oleh Iga Swiatek. Tiga tahun kemudian, Eala mengalahkan Swiatek di Wimbledon dan menjadi pemain Filipina pertama yang mencapai babak keempat Grand Slam di era Open. Momen puncaknya terjadi di Miami Open 2025, saat ia mengalahkan Swiatek di perempat final dan memicu gelombang baru kecintaan terhadap tenis di Filipina.
Pujian datang dari berbagai kalangan. Rafael Nadal menyebut gelar ini "sangat layak". Mantan juara Inggris Greg Rusedski bahkan menyebut Eala sebagai "pemain paling menarik di WTA Tour". "Ia tidak takut, mengambil bola lebih awal, dan kidal. Mentalitasnya sangat kuat," kata Rusedski. Namun, ia menilai servis Eala masih perlu ditingkatkan untuk bisa bersaing di Grand Slam. Sementara itu, Andy Roddick, mantan juara US Open, menyebut Eala sebagai "the real deal" yang tidak takut melawan pemain top. "Ia nama yang tidak ingin dilihat unggulan di undian awal," tegas Roddick.
Bagi Indonesia, kebangkitan Eala menjadi cermin bagi pengembangan tenis di Asia Tenggara. Prestasi ini menunjukkan bahwa dengan pembinaan yang tepat, atlet dari kawasan ini mampu bersaing di level tertinggi. Federasi tenis Indonesia bisa mengambil pelajaran dari kesuksesan Eala, terutama dalam hal dukungan publik dan pembinaan usia dini. Dukungan komunitas yang masif terbukti menjadi energi tambahan bagi Eala di lapangan.
Momentum Eala kini mengarah ke US Open. Dengan kepercayaan diri yang tinggi dan dukungan publik yang besar, ia berpotensi menjadi kuda hitam. Pertanyaannya, akankah ia mampu mempertahankan performa ini dan menembus pekan kedua turnamen Grand Slam? Atau justru tekanan ekspektasi yang akan menjadi ujian terbesarnya? Publik tenis dunia menantikan jawabannya.



